Adapting
>> Kembali ke Volume 5 No. 3 (2011)
Yandi Andri Yatmo dan Paramita Atmodiwirjo
Gagasan adapting menjelaskan terjadinya proses penyesuaian dalam berarsitektur yang terjadi secara terus-menerus. Setiap tahapan dalam berarsitektur, mulai dari proses pemikiran, eksplorasi, perwujudan hingga okupansi mengandung berbagai bentuk adaptasi yang saling mempengaruhi dan memberikan kontribusi dalam terwujudnya sebuah arsitektur. Lima tulisan dalam edisi kali ini mengangkat berbagai proses pencarian makna dan eksplorasi ide yang berpijak dari proses adaptasi, termasuk kritik terhadap terjadinya adaptasi dalam berarsitektur.
Tulisan pertama oleh Beatriz Ramo dari STAR architecture + strategies merupakan sebuah satir yang mengkritik gagasan ‘green’ yang diterapkan di dalam arsitektur, desain, urbanisme dan di dalam segala aspek kehidupan masyarakat. Melalui rangkaian ilustrasi visual dari transformasi tektonik yang membuat segala sesuatu menjadi ‘green’ terungkap kritik terhadap bagaimana gagasan ‘green’ seolah dianggap menjadi sebuah penyelesaian terhadap segala permasalahan yang ada. Selanjutnya sebuah bentuk adaptasi pada ruang kota dipaparkan oleh Yandi Andri Yatmo & Paramita Atmodiwirjo, dalam tulisan mengenai manuver pedagang kaki lima sebagai sebuah metaspace yang terwujud melalui strategi dan taktik dalam temporalitas ruang kota.
Tiga tulisan selanjutnya menggali bagaimana proses adaptasi dapat menjadi s untuk menghasilkan karya-karya kreatif. Nurrangsi Adzani menciptakan sebuah ‘black box’ sebagai hasil sebuah pemikiran yang membalik ide tentang bagaimana manusia beradaptasi terhadap ruang. Diawali dengan analisis terhadap karya instalasi Richard Serra yang mengarahkan manusia bergerak mengikuti elemen ruang yang statis, ‘black box’ ini merupakan eksperimen mempelajari pengalaman visual yang statis terhadap elemen ruang yang bergerak. Belonia P. Utami mengupas gagasan Rem Koolhaas dalam Seattle Public Library dan menjadikannya sebagai basis pembentukan sebuah ruang labirin yang menjadi wadah eksperimen untuk melihat bagaimana seekor semut beradaptasi di dalamnya. Nur Fatina Risinda tertarik untuk mempelajari gagasan ruang dalam Mobius House karya Ben Van Berkel dan menggali bagaimana gagasan ini dapat menjadi generator hubungan ruang dalam sebuah rumah Barbie. Selanjutnya melalui simulasi permainan bertinggal di rumah Barbie, ditemukannya pengalaman adaptasi terhadap alur ruang, terbentuknya simpul pertemuan dan pilihan dalam mengalami ruang-ruang di dalam rumah Barbie ini.
Edisi ini ditutup dengan sebuah karya storybook dari Elita Nuraeny, yang membongkar cara pandang yang linier terhadap sebuah narasi. Dengan cerita dua sisi, karya ini menunjukkan bagaimana sebuah narasi dapat dilihat dari dua arah, sehingga adaptasi pun terjadi dalam proses mencerap narasi ini.
Semua tulisan dalam edisi ini memaparkan terjadinya berbagai proses adaptasi, baik adaptasi tubuh terhadap ruang, adaptasi gagasan terhadap konteksnya, serta adaptasi cara pandang terhadap sebuah gagasan. Pada akhirnya segala proses adaptasi ini dapat dimaknai sebagai sebuah pemahaman berkembangnya gagasan kreatif, serta menjadi basis dalam metode berarsitektur. Semoga wacana ini dapat memperkaya pemikiran arsitektur kita dan memicu untuk terus melakukan adapting menuju proses berarsitektur yang semakin kreatif dan komprehensif.