When Invisibility Meets Visibility: Eksplorasi Selubung Berdasarkan Gagasan Arsitektur Daniel Libeskind
>> Kembali ke Volume 4 No. 2 (2010)
Henny Panjaitan
“The Jewish Museum is conceived as an emblem in which the Invisible and the Visible are the structural features which have been gathered in this space of Berlin and laid bare in an architecture where the unnamed remains the name which keeps still.” – Daniel Libeskind
Daniel Libeskind merupakan seorang arsitek Amerika keturunan Yahudi-Polandia. Ia dilahirkan pada 12 Mei 1946 di Lódz, Polandia, sebuah tempat yang sangat dekat dengan Jerman. Semasa kecil ia tinggal di Polandia, namun saat pembantaian kaum Yahudi di Jerman dan sekitarnya terjadi ia beserta keluarganya berimigrasi ke New York sekitar tahun 1959.
Libeskind meraih gelar profesional di bidang arsitek pada tahun 1970 dan meraih gelar pascasarjana-nya dua tahun berikutnya di bidang Sejarah dan Teori Arsitektur. Sebelumnya, ia pernah bekerja praktek pada Richard Meier, dan dua tahun berikutnya ia juga bekerja pada Peter Eisenmann, walaupun ia lalu berhenti dari situ tidak lama kemudian.
Libeskind akhirnya mendirikan sebuah studio arsitek – Studio Daniel Libeskind – bersama istrinya Nina sekitar tahun 1989. Karya-karyanya pada umumnya merupakan museum-museum yang berada di Eropa dan Amerika, salah satunya adalah Jewish Museum di Berlin, Jerman, yang melambungkan namanya sebagai arsitek kelas dunia. Selain Jewish Museum, contoh karya-karya lain dari Libeskind adalah penambahan dari Denver Art Museum di Amerika Serikat; Imperial War Museum North di Salford Quays, Inggris; Michael Lee-Chin Crystal di Royal Ontario Museum di Toronto, Kanada; Felix Nussbaum Haus di Osnabrück, Jerman; Danish Jewish Museum di Copenhagen, Denmark; dan Wohl Centre di Bar-Ilan University di Ramat-Gan, Israel. Namun selain museum, ia juga menghasilkan berbagai jenis karya lain seperti bangunan residensial, apartemen, kondominium, gedung kampus, dan pusat perbelanjaan.

Gambar 1. Jewish Museum, Berlin.
Jewish Museum di Berlin adalah karya pertama yang membuat Libeskind mendapat pengakuan dunia. Bangunan ini merupakan proyek yang dikerjakan Libeskind setelah memenangkan sayembara merancang museum untuk mengenang sejarah keberadaan kaum Yahudi di Jerman dan peristiwa Holocaust (pembantaian tidak manusiawi terhadap kaum Yahudi di Jerman) yang telah terjadi. Museum ini menampilkan sejarah sosial, politik, dan kebudayaan kaum Yahudi di Berlin mulai dari abad keempat hingga sekarang. Sebagai kaum Yahudi yang pada masa kecil tinggal sangat dekat dari Berlin dan menjadi salah satu dari kaum Yahudi yang keluar dari Jerman dan sekitarnya untuk mempertahankan diri pada masa terjadinya Holocaust membuat Libeskind merasa terkait secara internal dengan proyek ini.
Walaupun secara umum proyek ini disebut Jewish Museum, tetapi Libeskind sendiri menyebut proyek yang dikerjakannya ini sebagai ‘Between the Lines’, yang bermakna sebagai penggambaran dua garis pemikiran, organisasi, dan hubungan (antara sejarah kaum Yahudi dan sejarah Jerman). Salah satunya adalah garis lurus, namun terpecah menjadi banyak bagian fragmen-fragmen, dan satunya lagi garis penuh tekukan dan patahan namun tetap menerus walaupun dengan arah yang tidak pasti. Pemikiran ini menjadi salah satu dasar yang men-generate bentuk geometris yang dihasilkan Libeskind pada bangunan ini kemudian.
Seperti yang kemudian dihasilkan, bentuk geometri Jewish Museum merupakan sebuah massa zigzag yang diinterupsi oleh jajaran void di dalamnya yang membentuk garis lurus (maya) yang terputus-putus. Di sini, informasi mengenai eksistensi garis lurus ini sebenarnya tidak akan terlalu terbaca ketika kita melihat massa bangunan ini dari luar, tetapi ketika kita mencoba menghubungkan titik-titik skylight di bagian atap bangunan, maka kita akan dapat melihat garis ini. Di sini, saya melihat terjadinya paradoks antara visibilitas dan invisibilitas yang saling berdampingan dan saling ter-superimpose antara kedua ‘garis’ yang dihadirkan Libeskind ini.
Libeskind membuat bangunan museum ini tersambung dengan bangunan bergaya Baroque di sebelahnya, yang merupakan gedung courthouse lama. Jalan masuk ke dalam bangunan Jewish Museum dicapai melalui gedung Baroque ini, yang dibuat menurun hingga ke bawah tanah, dengan titik entrance di bawah sebuah menara yang menerus ke atas membentuk void setinggi 20 meter, menciptakan kesan kedalaman yang semakin mengubur ketika pengunjung harus menempuh tangga yang menurun hingga ke bawah tanah. Proses yang terjadi ketika memasuki museum ini adalah menuju ke bawah, ke kedalaman yang gelap (bukan naik ke atas, seperti pada kebanyakan museum biasanya). Ini juga menyebabkan ketika dilihat dari luar fasad Jewish Museum tidak akan terlihat adanya pintu ataupun jalan masuk lainnya, sehingga kita tidak akan bisa mendefinisi mana yang merupakan bagian depan atau belakang dari bangunan ini.
Jika melihat massa bangunannya (dari luar), kita tidak akan menyangka bahwa di dalamnya terdapat aksis-aksis yang akan mengantarkan pengunjungnya dari titik masuk menuju destinasi-destinasi yang berbeda-beda. Ada tiga aksis utama yang masing-masing berujung pada tiga bagian utama dari keseluruhan kompleks bangunan museum ini. Aksis yang pertama dan merupakan aksis terpanjang berujung pada Stair of Continuity (yang menerus dari level bawah tanah hingga ke level tiga) yang akan mengantarkan pengunjung menuju bagian museum. Aksis kedua mengarahkan pengunjung menuju Garden of Exile, dan aksis ketiga berujung pada Holocaust Void.
Garden of Exile dan Holocaust Void sendiri sebenarnya adalah dua massa yang dari luar terlihat terpisah dari massa utama bangunan Jewish Museum ini, tapi di kedalaman, semuanya merupakan satu kesatuan yang berhubungan pada beberapa titik perpotongan/persimpangan dua aksisnya. Dari sini saya juga kemudian membaca konsep ‘between the lines’ yang dihadirkan Libeskind karena pada setiap titik persimpangan hanya dua aksis yang berpotongan (tidak pernah ketiganya), sehingga memberikan pilihan di antara dua aksis mana yang akan ditempuh selanjutnya.
Masing-masing bagian dari museum ini merepresentasikan perjalanan sejarah kaum Yahudi di Jerman, dan di sini Libeskind menciptakan pengalaman ruang untuk menghadirkan kembali bagaimana pengalaman (mengerikan) tersebut dirasakan oleh kaum Yahudi pada saat itu kepada pengunjung museum. Hal ini misalnya ketika kita menyusuri aksis kedua yang mengantarkan pengunjung ke Garden of Exile. Dari dalam bangunan pada bagian bawah tanah, pengunjung kemudian diantar hingga keluar bangunan ke sebuah taman yang tenggelam ke dalam tanah.
Taman ini terdiri dari 49 pilar beton yang di bagian atasnya terdapat tanaman-tanaman yang menyebabkan taman tersebut terlihat mengambang dan jauh di atas jangkauan manusia. Permukaan taman dibuat miring sehingga ketika pengunjung berjalan di antara pilar-pilarnya mereka akan merasakan ketidakseimbangan dan disorientasi, seperti berada dalam labirin yang tak seimbang. Ini merepresentasikan bagaimana ketika kaum Yahudi yang mencoba mempertahankan diri harus keluar dari Jerman dan terlantar tanpa tujuan dan arah yang pasti (disoriented). Selain itu, walaupun taman ini terletak di luar, pengunjung akan tetap terpenjara di dalamnya tanpa bisa keluar kecuali kembali ke aksis dari mana mereka datang, karena permukaan tanah di luar terlalu tinggi untuk diraih/dipanjat untuk berusaha keluar dari situ.
Aksis ketiga membawa pengunjung ke sebuah dead end berupa pintu hitam yang dibaliknya terdapat ruang kosong bervoid setinggi 24 meter, Holocaust Void. Bagian dalam void ini dibuat dengan beton, tanpa pengatur udara dan pencahayaan buatan. Satu-satunya cahaya berasal dari skylight berupa celah kecil jauh di atas sehingga menegaskan kesan kekosongan dan kegelapan yang mencekam, seperti yang dirasakan korban pembantaian Holocaust.
Titik-titik skylight yang membentuk satu garis lurus di bagian atap Jewish Museum sebenarnya merupakan bagian atas dari 6 buah void – yang masing-masingnya mempunyai bentuk geometri yang berbeda – yang melintang di sepanjang bangunan museum ini. Void ini merupakan kekosongan yang tak dapat diakses selain dari bawah (level bawah tanah). Namun di sekeliling dinding-dindingnya terdapat bukaan-bukaan pada beberapa titik yang memungkinkan pengunjung yang sedang berada pada area pameran (di sekeliling void) melihat ke dalam ruang void ini.
Berdasarkan penguraian di atas, maka Jewish Museum dapat dibaca sebagai sebuah arsitektur yang dari luar terlihat terdisintegrasi, namun jauh di dalamnya semuanya menjadi suatu rangkaian perjalanan yang menyatu. Superimpose antara apa yang terlihat di luar dan apa yang ada di dalam (tidak terlihat dari luar) menjadi sistem yang bekerja membentuk bangunan ini. Dalam hal ini, tidak ada yang menjadi lebih penting dibanding yang lain: invisibilitas dan visibilitas, keduanya menjadi fitur yang berperan sama kuat membentuk Jewish Museum ini dari luar ke dalam dan sebaliknya.

Gambar 2. Aksis pada kompleks bangunan museum
Dalam Jewish Museum, Libeskind membuat geometri yang tampak sebagai massa di luar sebagai yang visible, dan aksis serta ruang-ruang di dalamnya sebagai yang invisible. Invisibilitas ini terjadi karena Libeskind memanfaatkan ground sebagai semacam selubung, yang menutupi aksis dan ruang-ruang dalamnya dari pandangan mata ketika orang-orang berada di luar. Ground sebagai selubung ini kemudian memisahkan massa di luar dari aksis di dalam, yang visible dari yang invisible.
Massa bangunan yang tampak dari luar, akan langsung dapat dipersepsi orang begitu melihatnya, sebagai suatu bentuk geometri zigzag yang tidak beraturan. Ketika melihat massa suatu bangunan dari luar, biasanya kita akan memperkirakan bahwa ruang yang ada di dalamnya pasti berbentuk kurang lebih sama dengan bentuk luarnya. Sehingga ketika melihat suatu massa bangunan dari luar, maka di pikiran akan terbentuk suatu presumsi seperti apa kurang lebih ruang di dalamnya.
Namun pada Jewish Museum ini, Libeskind membuat kejutan karena apa yang dilihat di luar tidak sama dengan apa yang dialami di dalam. Ketika melihat bentuk luarnya yang zigzag, mungkin kita akan berpikir bahwa ruang di dalamnya beralur sedemikian rupa juga. Begitu juga dengan berbagai massa yang dari luar terlihat terpisah-pisah dan seolah-olah berdiri sendiri, namun ternyata di bawah selubungnya semua massa tersebut terintegrasi dalam kesatuan struktur. Alur di dalam juga ternyata tidak sebentuk dengan massa luarnya, melainkan berupa aksis yang bahkan orientasinya tidak dapat diperkirakan dari luar sebelumnya.
Pada Jewis Museum ini, invisibilitas di balik selubung dimunculkan dan hanya dapat dipahami ketika kita memasuki bangunan tersebut, yang artinya subyek-lah yang harus aktif bergerak masuk ke dalamnya untuk memahami geometrinya secara keseluruhan. Sehingga ketika subyek berada di luar dan melihat massa luarnya subyek tersebut dapat masuk ke dalam dan bergerak di sepanjang alurnya dan kemudian keluar lagi untuk memetakan geometrinya secara keseluruhan di dalam pikiran. Visibilitas di luar yang dapat dipersepsi secara visual dan invisibilitas di dalam yang dipahami melalui adanya pengalaman secara kinestetik dan sensori lainnya dilengkapi oleh selubung (ground) yang mengantarai keduanya bekerja bersamaan membentuk geometri arsitektur secara keseluruhan dari Jewish Museum ini.
Visibilitas dapat kita artikan sebagai apa yang terlihat, apa yang tampak bagi mata. Ini kemudian terkait pada appearance, penampilan suatu obyek yang dapat kita persepsi melalui indera visual. Di sini, aspek cahaya memegang peranan penting untuk suatu obyek menjadi visible. Oleh karena itu keberadaan cahaya menjadi penting dalam visibilitas ini, karena adanya cahaya memberikan kehadiran bagi setiap obyek sehingga ia dapat terlihat (light, the giver of all presence), dan dengan terlihat obyek tersebut dapat dipahami oleh subyek yang melihatnya.
Selain cahaya, ada beberapa hal yang secara tak langsung juga mempengaruhi visibiltas suatu obyek, yaitu jarak dan selubung. Ketika suatu obyek jauh dari subyek, maka visibilitas obyek tersebut bagi subyek yang bersangkutan amat kurang jika dibandingkan ketika subyek tersebut jaraknya lebih dekat dengan obyek yang dimaksud. Ketika kita (sebagai subyek) terpisah oleh jarak yang jauh dengan suatu obyek, maka kita tidak akan dapat melihat obyek tersebut secara detil, yang berarti visibilitas obyek tersebut kecil bagi kita, namun ketika jaraknya didekatkan, maka kita akan dapat melihat dan mengeksplor setiap detil dari obyek tersebut sehingga kita dapat mempersepsi obyek tersebut secara utuh.
Begitu juga ketika suatu obyek terhalang oleh suatu selubung dari pandangan mata kita, maka obyek yang dimaksud tidak lagi menjadi visible bagi kita. Tapi ini juga bergantung pada jenis selubung yang kita gunakan, yang kemudian mempengaruhi tingkat visibilitas obyek yang ditutupi selubung tersebut terhadap subyek.
Ketika suatu obyek terselubungi oleh selubung yang tidak tembus cahaya, yang berarti selubung tersebut memutus akses visual kita terhadap obyek yang dimaksud secara total, maka tingkat visibilitas terhadap benda tersebut sangat rendah bahkan hampir nol, karena kita sama sekali tidak dapat melihat benda yang dimaksud.
Ketika selubung tidak tembus cahaya tersebut dilubangi untuk memberi akses cahaya masuk ke baliknya, maka kita akan sedikit memperoleh akses untuk melihat obyek yang ada di baliknya. Namun ini juga tidak memberi kita banyak ruang untuk melihat, dan lalu tidak dapat mereka sebenarnya obyek seperti apa yang ada di baliknya. Oleh karena itu, visibilitas obyek juga masih cukup rendah.

Gambar 3. Selubung tidak tembus cahaya (atas), selubung yang diberi celah untuk cahaya (bawah)
Namun ketika selubung yang menutupi obyek merupakan selubung yang transparan, kita akan cukup dapat melihat obyek yang ada di baliknya, dan obyek tersebut dapat diamati lebih jelas dibandingkan dengan selubung tidak tembus cahaya dan selubung tidak tembus cahaya yang berlubang-lubang. Visibilitas obyek ini, dibandingkan dengan ketika ditutupi dua jenis selubung sebelumnya, lebih tinggi dan obyek menjadi lebih visible bagi subyek yang melihat. Walaupun demikian, obyek tidak dapat dipahami secara utuh karena pasti karakter yang terdapat pada permukaan selubung akan mempengaruhi informasi yang kita lihat pada obyek. Oleh karena itu, walaupun selubung tersebut masih memungkinkan subyek memiliki akses untuk melihat obyek, namun visibilitas obyek tidak hadir sepenuhnya bagi subyek, sehingga dari sini dapat disimpulkan bahwa keberadaan selubung tetap mempengaruhi visibilitas suatu obyek.

Gambar 4. Selubung transparan
Invisibilitas, adalah kebalikannya, ketika suatu obyek tidak dapat dipersepsi melalui indera visual secara langsung. Invibilitas berkaitan dengan apa yang tersembunyi (hidden). Tingkat invisibilitas juga dipengaruhi oleh hal-hal seperti yang sudah diuraikan di atas, namun semuanya bekerja secara berkebalikan. Karena ia tidak [dapat] dipersepsi (secara langsung) melalui visual, maka dalam mempersepsi suatu obyek yang invisible, kita menggunakan bantuan indera lainnya, yaitu pendengaran, sentuhan, penciuman, bahkan kinestetik (ketika kita menggunakan seluruh tubuh – bergerak – untuk mengalaminya).
Pada Jewish Museum, selubunglah yang bekerja untuk menghadirkan (atau mengantarai) visibilitas dan invisibilitas. Libeskind memanfaatkan ground sebagai selubung yang memisahkan yang tampak di luar dengan yang ada di dalam/di baliknya. Selubung ground ini menyebabkan informasi yang berada di bawahnya tidak langsung dapat dilihat (tersembunyi), dan agar yang hidden tersebut dapat hadir bagi subyek pengguna, subyeklah yang harus bergerak memasuki selubung sehingga apa yang invisible kemudian dapat menjadi visible dan dipahami.
Jika dipahami dalam bagan skematik, maka mekanisme yang terjadi pada Jewish Museum ini adalah sebagai berikut:

Gambar 5. Mekanisme Jewish Berlin
Berdasarkan hal tersebut, saya mencoba memulai sebuah eksplorasi untuk menghadirkan suatu invisibilitas. Ada beberapa mekanisme untuk membuat yang invisible menjadi dapat dipahami sehingga terbentuk konsep yang ‘visible’, salah satunya seperti yang sudah dilakukan Libeskind pada Jewish Museum yaitu membuat subyek aktif bergerak untuk memasuki selubung dan mengalami invisibility sehingga setelahnya sang subyek benar-benar memahami obyek secara keseluruhan (apa yang ada di permukaan [visible] menjadi kesatuan informasi dengan yang tak tampak/tersembunyi di balik selubung [invisible]). Cara lainnya yaitu dengan membuat invisibilitas yang berada di balik selubung itu keluar dari dalam selubungnya, sehingga invisibilitas obyek sendiri yang secara aktif memunculkan dirinya kepada subyek dan invisibilitas tersebut kemudian dapat dipahami sebagai suatu integrasi secara keseluruhan dengan bagian obyek yang visible di luar selubung.
Oleh karena itu, berbeda dari geometri Jewish Museum di mana subyek yang secara aktif masuk dan bergerak di dalamnya, di sini bagian obyek yang semula invisible yang bergerak keluar untuk hadir bagi subyek. Dari sini, diperoleh bahwa gerak (movement) kemudian menjadi suatu faktor penting untuk memunculkan suatu invisibilitas.
Visibilitas [cahaya] –> Visual –> Persepsi –> Konsep (presumsi) Selubung
Invisibilitas dipahami dengan bergerak ke dalam/balik selubung yang menyembunyikannya (mengalami secara langsung, tidak hanya dengan visual tapi juga indera lainnya)
· * -Invisible–menjadi visible–dengan subyek masuk ke balik selubungnya (subyek yang aktif bergerak [melibatkan movement])
· * -Invisible–menjadi visible–obyek keluar dari balik selubungnya ke hadapan subyek (obyek yang aktif bergerak)
Ketika yang invisible menjadi dapat dipersepsi dengan ia kemudian hadir di hadapan subyek pengamat, tidak hanya subyek atau obyek yang dapat berperan aktif dalam menghadirkan informasi yang masih tersembunyi untuk hadir dan menjadi visible, namun selubung yang menyembunyikannya juga dapat berperan dalam terhadirnya invisibility menjadi visibility ke hadapan subyek. Ini menjadi kemungkinan ketiga bagaimana informasi dari bagian suatu obyek yang semula tertutupi/tersembunyi menjadi hadir (visible) bagi subyek pengamat. Di sini, selubung diberi potensi dan kemungkinan menjadi aktif dalam menghadirkan yang invisible menjadi visible dan akhirnya dapat dipersepsi dan dimengerti oleh subyek pengamat.
Oleh karena itu, selain dari dua kemungkinan (yang bertanda bintang) di atas, invisibility menjadi visibility juga dapat dimungkinkan dengan selubung yang bergerak/digerakkan untuk menyingkap obyek yang tersembunyi dan menghadirkan informasi yang disimpannya sehingga obyek yang tampak di permukaan secara keseluruhan dapat dimengerti dan dikaitkan sebagai suatu kesatuan dengan bagiannya yang tidak terlihat/tersembunyi.
Pada Jewish Museum, Libeskind menghadirkan makna yang dapat dipersepsi orang-orang, baik yang visible maupun invisible, dengan form. Form ini kemudian merepresentasikan suatu gambaran dalam pikiran subyek mengenai pemahaman akan maknanya (conceptual image). Di sini, form yang langsung terlihat dari luar dan form yang tersembunyi di balik selubung merupakan meaningful image yang masing-masing memiliki makna berbeda, namun keduanya merupakan kesatuan secara struktural.
Dalam percobaan ini, saya mencoba menampilkan suatu bentuk untuk menghadirkan makna yang dapat dipersepsi. Untuk itu, pertama saya menggunakan titik (dots/points). Mengapa dots? Karena ia adalah unsur geometri yang terkecil dan paling awal, sehingga harusnya kumpulan dari titik-titik ini akan dapat membentuk suatu form yang memiliki makna (meaningful image).

Gambar 6. Eksplorasi menggunakan dots
Kumpulan titik-titik disusun dalam setiap modul persegi pada sebuah bidang. Titik-titik yang berbeda warna ini dianggap sebagai satuan unsur informasi. Titik-titik ini dibuat berbeda warna untuk menjadikan ia menjadi satuan elemen informasi yang berbeda-beda, dan terlihat tersusun secara acak.
Ketika bidang berisi dots ini diselubungi dengan selembar kertas yang dibuat dengan pola lubang tertentu, bagaimanapun pola yang terkandung pada selubung ini, bagian dots yang tampak tidak dapat terbaca sebagai suatu meaningful image, apa yang tampak tidak merepresentasikan suatu makna tertentu secara langsung.
Ketika selubung digeser/digerakkan, bagian yang terlihat tetap tidak menghadirkan makna tertentu, jadi bahkan selubung yang diberi muatan lubang seperti ini pun di sini tidak dapat berfungsi dalam menghadirkan suatu meaningful image.
Oleh karena itu saya berkesimpulan, di sini dots seperti ini kemudian tidak dapat digunakan sebagai suatu bentuk untuk menghadirkan makna (dalam mekanisme [visibilitas – selubung – invisibilitas] ini).
Setelah itu, saya mengganti elemen informasi yang digunakan dengan angka, karena angka harusnya dapat menampilkan informasi yang lebih bermakna dibandingkan sekedar kumpulan titik tanpa bentuk tertentu. Bidang yang digunakan tetap sama, yaitu bidang dengan modul-modul persegi yang masing-masing ditulisi suatu bilangan.

Gambar 7. Eksplorasi menggunakan angka
Angka-angka ini disusun secara acak, sehingga pada saat terbuka begitu saja setiap bilangan dapat dilihat dan dipahami sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, namun akan terlihat sedikit membingungkan. Angka-angka baru akan dapat terbaca dengan jelas ketika ia tertutupi suatu selubung yang diberi muatan pola lubangan (di sini terlihat bagaimana selubung memiliki peran).
Ketika tertutup dengan selubung yang berlubang-lubang seperti pada gambar, kita baru dapat memfokuskan pada bilangan-bilangan yang muncul, dan dapat mempersepsi makna dan informasi yang terlihat dengan lebih mudah.
Ketika selubung digeser, hal yang sama tetap terjadi, kita masih dapat menangkap makna dari setiap elemen informasi yang terlihat.
Percobaan ketiga, elemen yang digunakan adalah huruf, hal ini karena kumpulan huruf cenderung dapat membentuk suatu teks (kata, frase, kalimat) yang biasanya langsung dapat mengarahkan kita pada suatu makna tertentu.

Gambar 8. Eksplorasi menggunakan huruf
Huruf-huruf disusun secara acak hingga membentuk semacam word-puzzle. Namun walaupun terlihat acak, di dalam kumpulan huruf-huruf tersebut sebenarnya terkandung teks yang bermakna (dalam hal ini bukan hanya dapat dibaca, tetapi memiliki arti tertentu, sehingga ia menjadi meaningful image).
Ketika ditutupi selubung yang berlubang pada posisi tertentu, akan terlihat muncul huruf-huruf. Di sini, biasanya kita akan secara tidak sadar merangkai huruf-huruf tersebut agar dapat dibaca dan kita cenderung melihat huruf-huruf tersebut sebagai satu kesatuan walaupun huruf-huruf tersebut tidak terletak berdekatan. (Pada gambar, huruf-huruf yang muncul terbaca sebagai VAIN atau VINA, yang lalu dapat langsung kita pahami melalui arti katanya, sehingga kata ini dapat dimaknai sebagai sebuah meaningful object). Ini cukup berbeda ketika saya menggunakan angka, kita tidak akan mencoba merangkai angka-angka yang terletak pada modul kotak berbeda (kecuali ketika modul-modul kotak yang bersisian terisi angka tunggal).

Gambar 9. Menggeser selubung pada eksplorasi dengan huruf
Ketika selubung tersebut digeser dan digerakkan ke posisi yang berbeda, maka huruf yang akan muncul akan berbeda lagi. Namun di sini, huruf yang muncul tidak dapat dirangkai menjadi satu teks yang dapat dibaca dan memiliki makna. Maka di sini, muatan pola lubang-lubang pada selubung hanya dapat berfungsi pada suatu posisi tertentu. Ini juga berbeda dengan ketika menggunakan angka, ketika selubung digeser, hasil yang terjadi tidak terlalu berbeda dengan sebelum selubung digerakkan.
Dari percobaan di atas, saya memperoleh kesimpulan bahwa ketika pada Jewish Museum Libeskind menggunakan form dalam mekanisme visibility—invisibility-nya, maka pada percobaan ini untuk menghadirkan suatu meaningful image saya menggunakan teks.
Oleh karena itu, mekanisme yang bekerja dapat dipahami sebagai berikut :

Gambar 10. Diagram mekanisme
Dari diagram tersebut dan percobaan-percobaan sebelumnya, maka saya membuat semacam word-puzzle dengan menggunakan beberapa lapis selubung dengan memanfaatkan karakter-karakter selubung yang sudah dibahas di awal. Nantinya, akan hadir visible text dan invisible text yang jika dilihat memiliki makna yang berbeda namun sebenarnya merupakan kesatuan secara struktur. Untuk mencapai ini, maka peran selubung menjadi cukup signifikan. Invisibilitas yang berada dibalik selubung akan dapat muncul dan menjadi visible bagi kita dengan menggerakan selubung (selubung tidak hanya diam tetapi memiliki peran aktif dan muatan potensial).
Front text berfungsi sebagai visible image yang terlihat pertama kali. Kata VANITY yang terlihat dimungkinkan oleh selubung pertama yang memiliki lubang-lubang pada posisi-posisi tertentu.

Gambar 11. Eksplorasi pembentukan teks melalui penggunaan selubung
Word-puzzle akan terlihat begitu kita membuka selubung pertama (red page), yang mana front text yang sebelumnya kita lihat adalah bagian daripadanya. Di sini, jejak dari teks luar tadi tidak terlalu dapat kita baca, karena ia seolah menyatu dengan unsur-unsur yang ada di lapisan ini. Selain itu, di sini seharusnya apa yang menjadi invisible/hidden text sudah muncul, namun karena muatan pada selubung ini, hidden text tersebut masih cukup tersamar (tidak dapat langsung terlihat/terbaca).

Gambar 12. Perbedaan selubung dan pengaruhnya dalam produksi teks
Ketika lapisan ini dibalik, akan tampak bahwa sesungguhnya ia adalah lapisan transparan yang memuat huruf-huruf secara acak. Lapisan transparan ini merupakan selubung yang kedua, dan selubung transparan ini kemudian diberi muatan (huruf-huruf) yang membuat ia menyatu dengan apa yang ada di baliknya. Di sini, walaupun selubung memiliki karakter transparan, namun karena muatan yang dikandungnya ia dapat menutupi dengan sempurna apa yang sebenarnya ada di baliknya.
Ketika selubung kedua tersebut dibalik, maka kita akan melihat teks lain. Namun kita belum tiba pada bagian di mana invisible text terletak. Bagian ini sebenarnya masih merupakan bagian dari lapisan selubung, dan merupakan selubung ketiga. Selubung ini juga dibuat transparan, namun pada lapisan selubung ini dimuat huruf-huruf yang membentuk rangkaian front text tadi. Pada lapisan ini, kita sudah dapat melihat apa yang ada di balik selubung, yang merupakan invisible text, namun jejak dari front text tadi samar-samar dapat kita lihat, di mana ia menjadi kesatuan dengan hidden text ini.
Pada bagian dalam termuat invisible text berupa frase VISIBILITY AND INVISIBILITY dan kata VANITY yang merupakan dua teks dengan makna yang berbeda, namun dapat terlihat bagaimana keduanya dapat menjadi satu kesatuan, di mana kata VANITY dapat kita temukan dalam frase VISIBILITY AND INVISIBILITY.
Selain itu di sini, tampak di luar dan apa yang ada di dalamnya merupakan kebalikan dari apa yang terjadi pada Jewish Museum. Pada Jewish Museum, tampak luarnya merupakan apa yang terlihat sebagai form yang terpisah-pisah namun di dalam merupakan kesatuan. Di sini, teks yang tampak di luar justru merupakan rangkaian huruf yang walaupun terlihat terpisah-pisah namun cenderung dibaca sebagai satu teks/kata, sementara teks yang ada di dalam justru merupakan teks yang terdiri dari tiga kata yang terpisah. Dari sini terlihat bahwa walaupun mekanisme yang dilakukan sama, namun dengan perlakuan yang berbeda pada selubung, hasil yang diperoleh menjadi suatu kebalikan dari karya asalnya.


Gambar 13. Penjelasan mekanisme dan contoh-contoh hidden text dalam selubung lainnya
(You can try with other words and phrases. Find a phrase, then try to see what word might be ‘contained’ in the phrase. Make sure that the word consists of any letter of each words in the phrase).
Referensi
Hanson, Brian and Nikos Salingaros (2003). “Death, Life, Libeskind”. The Cause of Architecture: Architectural Record , (Online),
(http://archrecord.construction.com/inTheCause/0203Libeskind/libeskind-2.asp)
Libeskind, Daniel(2001). “The Jewish Museum Berlin: Between the Lines”. Daniel Libeskind, (Online) (http://www.daniel-libeskind.com/projects/show-all/jewish-museum-berlin)
Galinsky (2006). Jewish Museum Berlin, Daniel Libeskin 1998, (Online), (http://www.galinsky.com/buildings/jewishmuseum/)
Comments
Comment from seen
Time June 17, 2011 at 8:13 pm
museum yang hebat…
belum di isi dudah banyak yang datang berkunjung…
how amazng…^_^
Comment from putri susanti
Time June 17, 2011 at 8:09 pm
bagus gan