Membaca Kembali Metode Kombinasi Pada Bunga Kertas

>> Kembali ke Volume 4 No. 2 (2010)

Nurul Islami

Kembang kertas merupakan salah satu mainan tradisional yang umum dimainkan oleh para anak perempuan sekitar tahun 1990-an. Harganya sangat murah, mungkin karena bahannya yang terbuat dari kertas yang diberi warna. Namun, lipatan-lipatan kertas itersebut sebenarnya menyimpan kerumitan tersendiri saat membuatnya. Kembang kertas terbuat dari bahan-bahan yang sederhana seperti batang bambu, kertas karton dan kertas yang diberi warna. Kembang kertas ini dimainkan dengan sederhana, yaitu membuka kedua bagian yang saling mengapit ke arah luar. Warna dan bentuknya yang unik menjadi daya tarik tersendiri bagi orang yang memainkannya.

1
Gambar 1. Kembang Kertas

Keutamaan kembang kertas ini terletak pada 3 bagian yang menyerupai kelopak bunga. Kembang kertas ini memiliki kerumitan tekstur yang terbentuk oleh proses stretching, cutting repeating dan combining. Ketika mainan ini dibuka, akan terlihat tiga buah bagian yang sekilas memiliki bentuk dasar lingkaran. Bentuk tiga dimensi ini merupakan hasil proses stretching dari kombinasi susunan kertas yang direkatkan dengan cara tertentu sehingga menghasilkan permukaan yang sama sekali berbeda dari bentuk asalnya.

Secara umum terdapat 3 bagian utama dari kembang kertas ini, satu di bagian atas (pucuk) dan dua di bagian bawah di kedua sisi (kelopak).
Proses pengerjaan pembuatan Kembang Kertas untuk setiap bagiannya (pucuk dan kelopaknya) adalah:
1. Menyiapkan kertas kemudian mengguntingnya menjadi ukuran kurang lebih 5cm x 5cm
2. Membuat pola bentuk seperti yang sudah ada pada kertas tersebut.
3. Mengelem salah satu sisi pada kertas (sesuai dengan pola lem 1)
4. Menumpukkan kertas dengan pola bentuk yang sama berhimpit di atasnya.
5. Mengelem kembali salah satu sisi kertas yang telah berhimpit tadi (sesuai dengan pola lem ke-2)
6. Mengulang proses di atas hingga kurang lebih 60 tumpukan kertas

Ada beberapa tahapan yang harus dilalui untuk membentuk mainan kembang kertas ini. Berikut ini merupakan langkah-langkahnya:
1. Cutting
Pada kembang kertas ini terdapat 3 bagian utama yaitu bagian pucuk dan dua kelopak dengan bentuk geometri seperti di bawah ini. Kemudian proses cutting dilakukan mengikuti pola yang telah ada.

21
Gambar 2. Pola Geometri untuk Pucuk

3
Gambar 3. Pola Geometri untuk Kelopak pada Sisi Kanan dan Kiri

2. Combining
Proses selanjutnya yaitu mengkombinasikan bentuk-bentuk menjadi sebuah rangkaian dengan cara seperti yang terlihat pada gambar. Hal yang dilakukan adalah perekatan antara bagian 1 dengan bagian lainnya yang ditandai dengan garis putus-putus. Perekatan ini dilakukan 2 kali dengan posisi yang berbeda. Bidang satu akan dilem seperti pada pola lem pertama, kemudian akan ditempelkan berhimpit pada bidang dua. Setelah menempel, bidang dua akan dilem dengan pola yang kedua dan ditumpuk kembali dengan bidang kertas selanjutnya.

4
Gambar 4. Pola Kuncup

5
Gambar 5. Pola Mahkota

3. Repeating
Proses pengulangan dilakukan dengan cara; setiap bidang ganjil akan dilem dengan pola pengeleman 1 dan bidang genap dan bidang genap akan dilem dengan pola pengeleman 2. Begitu seterusnya hingga kurang lebih 60 tumpuk. Pola kuncup dilakukan sebanyak sekali, sedangkan pola mahkota dilakukan sebanyak dua kali.

4. Stretching
Selanjutnya tiap susunan kertas ditempelkan pada karton tebal, seperti pada gambar. Setelah proses di atas kemudian proses stretching dilakukan dengan menempelkan stik es krim di kedua sisi susunan kertas yang telah di lapis karton tersebut pada bagian yang berlawanan.

6
Gambar 6. Proses Stretching

Re-reading Combining Process

Dari proses combining yang dilakukan dapat menghasilkan bentuk yang sama sekali berbeda ketika diberi gaya (stretching). Penggunaan lem yang tepat dan ketepatan posisi bidang rekat menjadi hal yang membutuhkan ketelitian untuk dilakukan. Berikut ini merupakan beberapa eksplorasi menggunakan bidang-bidang lain dengan material yang berbeda.

ak
Gambar 7. Eksplorasi dengan Bidang dan Material yang Berbeda

Dari proses combining ini terjadi perubahan genus seperti pada gambar 3 di atas. Bidang yang sebelumnya merupakan lembaran, ketika dikombinasikan akan menghasilkan keterikatan antar satu dengan yang lain. Dari setiap proses pengkombinasian memberikan peluang terhadap perluasan bidang yang saling dikombinasikan. Satu lembar kertas ini juga mengalami networking yang terbentuk akibat proses combining dengan cara direkatkan (kembang kertas), dan bentuk tiga dimensi yang dihasilkan juga merupakan salah satu proses stretching dengan menghubungkan sisi-sisi yang berlawanan. Pada gambar 1 dilakukan pengkombinasian bidang yang memiliki dua sisi kemudian antar bidang-bidang tersebut saling direkatkan sehingga warna masing-masing kertas semakin pudar dengan adanya kombinasi antara warna lain di bidang yang berbeda. Pada percobaan 2, satu bidang dengan sisi yang lebih banyak (2-3) saling direkatkan. Proses ini kemudian menjadi suatu hal yang menarik untuk ditelaah kembali dan diaplikasikan dalam konteks yang berbeda.

Proses pengkombinasian bagian-bagian dalam bidang yang dilakukan di kembang kertas tersebut kemudian dicoba dilakukan kembali pada fungsi ruang. Pada kembang kertas, kombinasi dilakukan pada bidang-bidang yang sama bentuknya dengan beberapa bagian pada bidang pertama dengan bagian lain di bidang kedua. Hal ini dilakukan dengan cara merekatkan. Sedangkan pada ruang, terlebih dahulu dipilih dua ruang dengan pengisi ruangnya, dalam hal ini perangkat perabot, sebagai bagian dari ruang tersebut. Pengkombinasian dilakukan dengan merekatkan salah satu perangkat perabot pada ruang lain.

Apabila dua buah ruang dengan perabotnya dipahami sebagai bagian-bagian didalamnya, kemudian mengalami penggabungan (parsial) pada bagian tertentu, bagaimana pola aktivitas dan pergerakan yang terjadi di dalamnya?

Rumah merupakan salah satu kebutuhan dasar yang sangat penting bagi manusia, bahkan merupakan bagian dari kualitas hidup dan kesejahteraan hidup mereka. Hal ini wajar sebab rumah memiliki fungsi yang sangat penting bagi manusia. Rumah tidak semata-mata merupakan tempat bernaung untuk melindungi diri dari segala bahaya gangguan dan pengaruh fisik belaka, tetapi juga merupakan tempat tinggal, tempat bekerja setelah menjalani perjuangan hidup sehari-hari. Sehingga kenyamanan dari tiap penghuninya juga merupakan hal yang harus diperhatikan. Dari beberapa fungsi ruang dalam rumah, kemudian dipilih dua ruang yang akan dijadikan ruang pengamatan.

Pada pengamatan ini dipilih ruang keluarga dan ruang makan/dapur yang merupakan ruang bersama bagi seluruh keluarga untuk berkumpul dan bercengkrama. Pengamatan ini dilakukan selama empat hari dalam rumah (25-28 Mei 2010) dengan dua kali perubahan kombinasi perangkat perabot dalam ruang tersebut. Pengkombinasian dilakukan dengan “merekatkan” salah satu perangkat perabot pada ruang lain, yaitu dengan mengkombinasikan kembali dengan cara merubah posisi seperangkat perabot pada ruang keluarga (ruang 1) ke ruang makan/dapur (ruang 2) begitu juga sebaliknya. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui bagaimana pola-pola baru dapat tercipta dalam aktivitas dan pergerakan yang berlangsung dalam ruang tersebut. Berikut ini gambar yang menjelaskan proses kombinasi yang dilakukan.

8
Gambar 8. Proses Kombinasi pada Ruang

Pola Kegiatan dan Pergerakan Eksisting

11

foto9
Gambar 9. Kondisi Eksisting

1. Dominasi kegiatan berada pada area ini. Sebagian anggota keluarga menghabiskan waktu makan, istirahat dan mengobrol pada area ini. Terdapat televisi, dan perangkat komputer yang biasa digunakan untuk internet. Sifatnya privat karena cenderung digunakan untuk anggota keluarga saja.

2. Pada area ini juga digunakan untuk area mengobrol dan setiap pagi hari digunakan untuk sarapan bersama keluarga sebelum mengawali aktivitas masing-masing. Sesekali digunakan juga sebagai fungsi penerima tamu dari kerabat dekat. Sifatnya cenderung semi privat karena masih terdapat intervensi kunjungan dari kalangan non anggota keluarga.

3. Ruang makan pada setiap harinya tidak terlalu banyak digunakan. Anggota keluarga memiliki kecenderungan menghabiskan waktu makan di ruang keluarga, sehari-harinya ruang ini hanya digunakan sebagai tempat untuk meletakkan makanan saja. Ruang makan ini bergabung bersama dapur, sifatnya lebih privat karena hampir tidak ada orang non keluarga yang mengunjungi tempat ini.

Pola Kegiatan dan Pergerakan pada Kombinasi 1

12

foto10

Pada kombinasi ini, area ini memiliki kecenderungan lebih ramai (sesekali digunakan untuk makan) dibandingkan ketika perabot yang sama diletakkan pada pola eksisting. Hal ini disebabkan ketertarikan anggota keluarga pada acara televisi. Namun, berdasarkan dua hari pengamatan, anggota keluarga lebih sering menggunakan area 2 untuk makan malam atau siang. Pengamat menyimpulkan ada faktor penilaian terhadap kenyamanan tiap anggota keluarga terhadap kursi yang digunakan. Sifatnya tidak berubah yaitu privat karena cenderung digunakan untuk anggota keluarga saja.

Pada area ini penggunaannya semakin bervariasi, yaitu dengan adanya kegiatan makan malam atau siang. Jika dibandingkan dengan pola sebelumnya, maka area ini lebih sering digunakan untuk sarapan pagi. Intervensi terhadap perannya sebagai area penerima tamu dari kerabat dekat tetap berlangsung.

Pengamat menilai adanya pattern yang tidak berubah dari persepsi terhadap area penerima tamu. Selain itu dikarenakan letaknya yang dekat dengan pintu keluar menuju teras depan. Sifatnya cenderung semi privat karena masih terdapat intervensi kunjungan dari kalangan non anggota keluarga. Area ini sedikit unik karena sesekali menjadi area duduk-duduk sekaligus penerima tamu salah satu anggota keluarga dengan teman-temannya. Terdapat peralihan sifat ruang yang sebelumnya privat menjadi semi privat.

Pola Kegiatan dan Pergerakan pada Kombinasi 2

13

foto11

1. Tidak terlalu banyak berubah dengan kombinasi eksisting, dominasi kegiatan berada pada area ini. Sebagian anggota keluarga menghabiskan waktu makan, istirahat dan mengobrol pada area ini. Sifatnya privat karena cenderung digunakan untuk anggota keluarga saja

2. Pada area ini penggunaannya semakin bervariasi, yaitu dengan adanya kegiatan belajar yang digunakan salah satu anggota keluarga. Dengan kombinasi seperti ini, area ini menjadi lebih banyak digunakan dibandingkan sebelumnya. Hal ini dinilai karena anggota keluarga yang makan dapat menikmati acara televisi sekaligus mengobrol dengan anggota keluarga lainnya yang berada di area 1. Sifatnya cenderung privat, tidak terdapat intervensi kunjungan dari kalangan non anggota keluarga.

3. Sama seperti kombinasi pertama, area ini sesekali menjadi area santai sekaligus penerima tamu salah satu anggota keluarga dengan teman-temannya. Terdapat peralihan sifat ruang yang sebelumnya privat menjadi semi privat.