Geometri Ketupat
>> Kembali ke Volume 4 No. 2 (2010)
Arum Kusumawardhani
Makna Ketupat
Untuk masyarakat di Indonesia, ketupat adalah hal yang umum ditemui dalam keseharian. Apabila membicarakan ketupat, sebagian besar orang akan langsung teringat dengan penganan yang terbuat dari beras yang dimasak dengan menggunakan selongsong dari daun kelapa atau janur. Sebagian lagi akan teringat dengan bentuk jajaran genjang yang sering juga disebut sebagai bentuk belah ketupat. Ketupat identik dengan makanan khas yang biasa disajikan dalam peringatan hari raya agama Islam, walaupun juga digunakan dalam upacara keagamaan Hindu. Ketupat pun umum dikenal di negara-negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Filipina dan Thailand walaupun dengan penamaan dan bentuk yang berbeda.
Di Indonesia sendiri, terutama di Jawa, ketupat memiliki makna tersendiri. Ada yang mengatakan bahwa nama ketupat diambil dari kata Ngaku Lepat yang berarti mengakui kesalahan. Pemaknaan lain tentang ketupat adalah dengan melihat bagaimana cara ketupat itu dibentuk dan bagaimana isi di dalamnya. Rumitnya anyaman bungkus ketupat adalah pencerminan berbagai macam kesalahan manusia. Sedang warna putih beras yang diisikan di dalamnya mencerminkan kebersihan dan kesucian hati setelah mohon ampun dari segala kesalahan. Yang ketiga, ketupat dianggap merupakan pencerminan kesempurnaan. Hal ini berdasarkan bentuk ketupat yang dianggap perwujudan dari kiblat papat lima pancer, suatu konsep keseimbangan alam yang berkaitan dengan 4 arah mata angin utama yakni timur, selatan, barat, dan utara yang kemudian bertumpu pada satu pusat. Bila salah satunya hilang, keseimbangan alam akan hilang. Begitu pula hendaknya manusia dalam kehidupannya, ke arah manapun dia pergi, hendaknya jangan pernah melupakan pancer: Tuhan yang Maha Esa.
Geometri Ketupat
Terkait dengan geometri, ketupat menarik perhatian saya dalam dua hal. Yang pertama adalah bentuknya. Bentuk dari ketupat sedemikian unik sehingga memunculkan istilah khusus berkaitan dengan bentuk di dalam geometri yaitu sebutan belah ketupat itu tadi. Bentuk yang menyerupai persegi panjang yang di-stretch hingga keempat sudutnya tidak lagi membentuk sudut 90 derajat.
Yang kedua adalah mengenai bagaimana bentuk ketupat tersebut bisa terwujud. Dari sehelai daun yang cukup panjang, daun tersebut kemudian dijalin menjadi bentuk tiga dimensional. Perubahan obyek dua dimensional (istilah ini tidak tepat benar, namun karena daun sangat tipis maka elemen tiga dimensionalnya dianggap dapat diabaikan) menjadi obyek tiga dimensional yaitu janur menjadi kulit ketupat, hanya dapat terjadi bila daun tersebut menempati titik-titik yang tetap. Disini saya melihat unsur topologi pada ketupat.
Dengan cara menganyam, terbentuk knot – hubungan satu lawan satu dimana masing masing titik memiliki pasangannya dan tidak bertemu dengan titik lainnya. Satu titik bersubordinasi dengan titik disebelahnya, melalui posisi atas bawah atau luar dalam. Titik yang menempati posisi dalam akan dikelilingi oleh titik–titik yang menempati posisi luar, begitu juga sebaliknya.
Membuat Ketupat
Saya kemudian mencoba memperhatikan dan mengikuti bagaimana ketupat tersebut dibuat. Pertama kali yang harus disiapkan adalah lembaran yang cukup panjang, kali ini yang saya gunakan adalah pita kertas. Untuk lebih memperlihatkan hubungan atau knot yang terbentuk dalam anyaman ketupat, digunakan dua helai pita yang berbeda warna.
Dengan menggunakan kedua tangan, masing masing pita tersebut dililitkan sebanyak tiga kali pada masing–masing tangan. Pada saat melilitkan pita, dari beberapa kali percobaan ditemukan bahwa arah lilitan akan mempengaruhi bentuk yang terjadi. Pita harus dililitkan searah dengan jarum jam, dengan pita yang akan mengisi lajur vertikal dililitkan dengan arah dari bawah ke atas dimana lilitan pertama dimulai dari posisi dalam tangan dan kemudian menuju keluar. Pada pita yang akan mengisi lajur horisontal, pita harus dililitkan dari atas ke bawah searah jarum jam, dengan posisi lilitan pertama juga berada di posisi dalam dan dilanjutkan dengan lilitan lainnya yang bergerak keluar.
Satu demi satu pita tersebut dianyam sehingga masing masing membentuk pola selang seling atas bawah. Lop vertikal diam dan lop horisontal yang digerakan untuk ‘mengisi’ lop vertikal. Lop horisontal pertama yang berada di posisi terluar mengisi lop vertikal dengan posisi luar-dalam-luar, lalu lop kedua bergerak dan membentuk posisi dalam-luar-dalam, dan dilanjutkan oleh posisi lop ketiga yang kembali mengisi posisi luar-dalam-luar. Dari jalinan yang terbentuk oleh masing masing tiga lop tadi akan terlihat pola selang-seling yang bila diperhatikan lebih lanjut, pola-pola yang berbentuk segi empat tersebut posisinya akan dikelilingi oleh posisi yang berlawanan di keempat sisinya.

Gambar 1. Metode pembuatan selongsong ketupat
Kedua jalinan tersebut baru saja membentuk bentuk dasar dari ketupat. Untuk selanjutnya, terjadi perubahan arah dari masing masing pita. Pita yang tadinya bergerak horisontal berubah arah menjadi bergerak vertikal demikian pula sebaliknya. Bagian ujung pita bergerak ke arah puncak dan bagian pangkal menuju ke dasar dan tetap dijalin mengikuti pola atas bawah meneruskan pola yang telah terbentuk sebelumnya. Dari keseluruhan proses penganyaman tersebut akan terbentuk obyek tiga dimensional yang tidak ada satupun posisi luar atau dalam yang sama terletak bersebelahan pada keseluruhan posisinya.

Gambar 2. Metode pembuatan selongsong ketupat (lanjutan)
Kesimpulan dan Pemaknaan Kembali
Dari metode yang terdapat pada pembuatan selongsong ketupat, ada beberapa hal yang dapat saya simpulkan. Yang pertama, yang terjadi pada selongsong ketupat adalah proses pembentukan kulit atau cangkang dengan cara membelokan, memutar dan menganyam, merubah sebuah obyek linier menjadi selubung bagi obyek tiga dimensi, obyek dengan volume dengan dimensi yang hampir setara antara perbandingan sumbu x, y, dan z-nya. Sebagai sebuah pembungkus, ia baru ‘sempurna’ dan tidak lagi mudah terlepas bila telah mengalami pembelokan, merubah orientasinya dari horisontal ke vertikal ataupun sebaliknya.
Yang kedua adalah apa yang terjadi bila kita mengikuti garis linier dari obyek asal. Bila sebelum kita membuat ketupat, kita menandai terlebih dahulu ujung dan pangkal dari obyek linier sebagai titik A dan B, bila kedua ujung pita berawal di titik A dan pangkal kedua pita berada di titik B, keduanya akan tetap berada di titik tersebut setelah keduanya dianyam satu sama lain. Pada saat mengamati posisi antara ujung pangkal dan lop terdekat dengannya, karena adanya perubahan arah pada saat menutup bentuk ketupat, mengakibatkan posisi ujung ketupat terletak berimpit dengan lop yang terjauh dari ujung pita, begitu juga sebaliknya dengan posisi yang ada dipangkal. Sehingga pada saat kita menggerakkan pita untuk melonggarkan atau mengencangkan jalinan, kita harus mengikuti keseluruhan lingkar lingkar yang ada di ketupat tersebut. Pembuatan ketupat dapat dilihat sebagai sebuah path, sebagai dua buah lintasan yang satu sama lain membentuk knot atau simpul.
Dari dua buah jalinan pita yang membentuk ketupat tadi, terdapat empat buah titik yang dapat menjadi titik awal untuk menelusuri lintasan yang ada pada ketupat. Pada saat bereksperimen dengan mobius strip, bila kita melihat mobius strip sebagai sebuah lintasan, ketika kita menelusuri lintasan tersebut maka kita akan kembali ke titik yang sama. Sementara pada ketupat, ketika kita mencoba menelusurinya dari satu titik maka kita akan berakhir pada titik yang berseberangan dengan berkali – kali melalui simpul simpul yang terbentuk diantara lintasan yang kita lalui.
Apa yang akan terjadi apabila kita memotong lintasan tadi menjadi dua?. Pada mobius strip, kita akan mendapatkan mobius strip yang diperpanjang. Lalu pada ketupat, ketika kita memotong lintasannya menjadi dua, apa yang akan terjadi dengan lintasan tersebut dan simpul simpul yang berada diantaranya?. Dan apakah akan terjadi sesuatu yang sama bila kita mencobanya dari 4 arah yang berbeda yang bisa dilalui di dalam sebuah ketupat?
Sebelum mengguntingnya, saya melakukan pengukuran terlebih dahulu. Ketupat ternyata terbentuk dari dua pita yang sama panjang, baik yang digunakan sebagai lajur horisontal maupun vertikal. Setelah memastikan bahwa keduanya terbentuk dari dua benda yang sama panjang, baru kemudian saya melakukan pengguntingan terhadap lintasan ketupat dan membaginya menjadi dua.
Percobaan pertama dilakukan dengan membagi dua lintasan dari pita yang awalnya berfungsi sebagai lop horisontal, dan mengguntingnya dari posisi puncak ketupat. Pada saat menggunting lintasan, kita juga memotong simpul yang berada di dalam lintasan tersebut. Dibutuhkan 6 kali perpindahan sisi pada saat menggunting sebelum semua simpul terputus termasuk juga terputusnya lintasan tadi dan menghasilkan lop horisontal yang terbagi tiga dan lop vertikal yang terbagi menjadi 9 bagian yang sama panjang. Dari hasil pengguntingan tersebut, potongan potongan lintasan dan simpul kemudian dijajarkan sehingga terbentuk satu pola. Setelah itu, saya menggunting lintasan yang terbentuk dari lop horisontal dari arah sebaliknya yaitu dari bagian dasar ketupat. Dibutuhkan hanya 4 kali perpindahan sisi sebelum semua bagian terputus dan menghasilkan lop horisontal yang terbagi 3 dan lop vertikal yang terbagi 7 dengan panjang yang berbeda beda. Dan bila dijajarkan akan terbentuk pola yang berbeda dengan bila digunting dari puncak. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut.


Gambar 3. Eksplorasi pemotongan lintasan ketupat
Bila pada lintasan horisontal yang terjadi adalah seperti diatas, lalu apa yang terjadi bila kita melakukannya pada lintasan vertikal?. Dari pengguntingan yang saya lakukan, hasil yang diperoleh menjadi bervariasi. Pada saat kita menggunting lintasan dari arah puncak maka akan kita dapatkan lop vertikal yang terbagi menjadi 3 dan lop horisontal yang terbagi menjadi 9 dengan panjang yang berlainan. Sementara pengguntingan dari arah dasar menghasilkan lop vertikal yang terbagi menjadi 3 dan lop horisontal yang terbagi menjadi 6 bagian.
Berdasarkan pemotongan lintasan yang dilakukan pada 4 arah lintasan berbeda yang terdapat pada ketupat didapatkan hasil yang berbeda dari keempatnya. Setelah disusun, saya melihat hasil potongan tersebut membentuk sebuah komposisi dari perbedaan panjang yang terbentuk akibat pemotongan tadi.
Pada langkah berikutnya, saya menandai titik-titik puncak dari simpul simpul yang terpotong tadi dan membedakannya antara lintasan horisontal atau vertikal sehingga diperoleh sebaran titik–titik.
Sebaran titik titik ini kemudian mengingatkan saya akan suatu harmonisasi dari komposisi. Sebuah ketupat adalah bentuk yang terjadi dari sebuah komposisi jalinan horisontal vertikal, yang dalam proses pembuatannya satu bagian menjadi dasar sementara bagian lain menjadi pengisi yang menjalin diantara dasar dan menjadikannya satu komposisi utuh. Hal tersebut merupakan suatu kondisi yang tidak berbeda dengan yang umum terlihat pada sebuah komposisi musik yang harmonis, yaitu ketika dalam sebuah lagu terdapat rhythm dan melodi. Rhythm menjadi dasar dan melodi sebagai pengisi yang pada saat keduanya dimainkan bersamaan akan membentuk sebuah komposisi harmonis dari sebuah lagu.
Komposisi susunan potongan dari simpul ketupat yang telah ditransformasikan dalam bentuk titik kemudian saya letakkan di dalam sebuah tangga nada dan membaginya menjadi lintasan yang dipotong sebagai rhythm dan simpul yang terpotong sebagai sebuah melodi. Dari pembagian tersebut dihasilkan partitur sederhana seperti di bawah ini yang kemudian dapat dimainkan sebagai sebuah lagu sederhana.

Gambar 4. Transformasi komposisi susunan simpul menjadi partitur musik sederhana
Referensi
http://id.wikipedia.org/wiki/ketupat