Back to Basic

>> Kembali ke Volume 4 No. 2 (2010)

Yandi Andri Yatmo, Paramita Atmodiwirjo dan Kristanti Dewi Paramita

Edisi kali ini menampilkan lima tulisan yang bertujuan untuk memahami obyek, fenomena, kejadian dan pengalaman keruangan yang mendasar atau umum dijumpai dalam keseharian dan kemudian menginterpretasikannya kembali sebagai bentuk refleksi dalam berarsitektur. Pemahaman akan hal-hal mendasar atau hal yang kadang sering terabaikan tersebut kemudian seringkali dapat menjadi dasar untuk menemukan metode pembentukan arsitektur yang kreatif dan tidak terduga-duga. Kelima tulisan pada edisi kali ini pun mengangkat tema dari berbagai produk dan fenomena umum, mempelajari sistem yang berada di baliknya dan kemudian mendefinisikannya kembali dalam mekanisme pembentukan keruangan maupun atribut lainnya.

Farid Rakun membuka diskusi dengan mempertanyakan kecenderungan arsitek untuk menggunakan pendekatan serba kompleks dalam upayanya untuk menghadirkan sesuatu yang sederhana yang kadang justru menghasilkan sesuatu yang merupakan penyelewengan dari kesederhanaan itu sendiri. Makna sesungguhnya kesederhanaan kemudian dicoba untuk dikupas melalui pembahasan dua karya sebagai bentuk peredefinisian kesederhanaan melalui keseluruhan proses dibandingkan hanya berhenti pada tataran bentuk.

Tiga karya berikutnya merupakan penelaahan kembali mengenai produk-produk yang umum ditemui dalam keseharian. Arum Kusumawardhani mengupas mengenai pembentukan selongsong ketupat dan hubungannya dengan kebudayaan serta metode topologi yang mendasari terbentuknya selongsong tersebut. Metode tersebut kemudian dibongkar kembali menjadi beberapa kemungkinan perubahan bentuk serta direinterpretasikan sebagai data untuk bentuk komposisi yang lain. Nurul Islami menelaah kembali mengenai pembentukan bunga kertas serta menggunakannya sebagai metode dalam kombinasi ruang bertinggal. Sementara Andi Surya mengamati metode penyusunan kemasan dalam desain-desain kemasan berbagai produk serta menggunakannya sebagai metode transformasi pada arsitektur.

Sebagai penutup, tulisan dari Henny Panjaitan merupakan upaya untuk membongkar gagasan mengenai selubung dalam arsitektur. GagasanĀ  tersebut merupakan ungkapan dari suatu hal yang sangat mendasar bagi manusia, yaitu penglihatan dan bagaimana selubung mempengaruhi sesuatu yang terlihat dan tidak terlihat. Metode yang didapat dari penelaahan gagasan tersebut kemudian digunakan kembali untuk dieksplorasi dengan menggunakan teks.

Kami berharap bahwa kelima tulisan tersebut dapat menjadi pemicu untuk lebih memperhatikan hal-hal yang terjadi dalam keseharian kita ataupun hal-hal yang sangat mendasar sehingga seringkali terabaikan. Berbagai macam obyek, fenomena maupun kejadian yang terjadi ternyata melalui penelaahan seksama dan kemauan untuk berpikir di luar tataran kebiasaan mampu menjadi peluang bagi pengembangan metode-metode desain yang kreatif. Penjelajahan metode-metode yang bermula dari keseharian ini tentu kemudian dapat memperkaya praktek arsitektur kita menjadi lebih mengakar pada lokalitas keseharian masyarakat yang sesungguhnya.