Volume 03 No.1 – Re-reading 2

ISSN 2085-7810
01.
Editorial - Yandi Andri Yatmo & Paramita Atmodiwirjo

Wacana dalam edisi ini merupakan kelanjutan dari diskusi tentang re-reading dalam arsitektur sebagai salah satu upaya berpikir kritis menuju kreativitas dalam berarsitektur. Edisi yang lalu telah memuat sejumlah tulisan tentang berbagai upaya re-reading terhadap karya arsitektur dan proses berarsitektur. Kali ini kami menampilkan sejumlah tulisan berkisar tentang pemaknaan kembali berbagai gagasan arsitektur dan beragam aspek di dalam praktek perancangan.

Aswin Indraprastha mengawali edisi ini dengan pembahasan tentang perubahan pandangan terhadap proses desain dengan adanya intervensi teknologi, yang pada hakekatnya merupakan upaya enhancement dari kemampuan kognitif dan kreatif dari manusia. Kristanti Dewi dan Novelisa Sondang mencoba melakukan re-reading terhadap keseharian dalam dua setting kota, Singapura dan Shefield, untuk menemukan beragam fenomena kehidupan berkota. M. Riou Badar T. melihat kembali perjalanan arsitektur dari waktu ke waktu, dan menyimpulkan bagaimana teks dan konteks kondisi perwujudan arsitektur sangat dipengaruhi sekali oleh jaman. Niken Palupi mengajukan sebuah proposal pendekatan sustainable marketing according to sustainable architecture. Proposal ini pada hakekatnya merupakan upaya untuk tidak melawan kapitalisme namun justru menggunakannya sebagai alat pencapaian untuk menyebarkan sebuah idealisme positif terkait sustainability.

Sebagai penutup edisi kali ini, kami menghadirkan serangkaian tulisan yang terkait dengan proyek dari Education Care Unit yang telah memperoleh Holcim Awards 2008 Asia Paciic Region, untuk kategori Next Generation Encouragement Prize. Proyek ini merupakan upaya re-reading pengertian sustainable construction ke dalam proses mengkonstruksi mind dari anak-anak sebagai stakeholder arsitektur masa depan. Tulisan yang kami hadirkan di sini adalah refeksi dari beberapa fasilitator yang telah berpartisipasi dalam proyek tersebut.

Mudah-mudahan sejumlah tulisan di atas mampu membawa kita untuk merefeksikan kembali proses berarsitektur kita, dan mendorong kita semua untuk menggali berbagai kemungkinan tindakan praktek berarsitektur. Tidak hanya untuk pengembangan praktek berarsitektur, namun juga untuk kehidupan yang lebih baik.

Selamat membaca dan “membaca kembali” arsitektur kita.

(baca lengkap ...)
unduh pdf
02.
What is New in Creativity? Re-thinking Design Process on the Emerging of Computational-based Architecture Design - Aswin Indraprastha

Design always comes with something that we actually try to re-invent in both conscious and unconscious minds. Be it a set of theories (Rowe, 1987), paradigm (Broadbent, 1988), or principles (Lawson, 1997) to be further developed what is to be called as ideas. The root of de-sign itself indicate strong relationship between cognitive endeavor and conceptualization yet long before realization (Terzidis, 2006). By the immersive contribution of computer technology in architecture design realm, researches recently attempt to contribute in the intertwining relationship between computer and human mind. This short paper presents a brief study of recent theories and methods in architectural design process, in the particular aspect of mutual relationship between cognitive exploration and computational- based form-space generation. Thus, it is expected that creativity, a novel ability that we-human-only possessed can further be elaborated, enhanced by means of digital thinking.

unduh pdf
03.
Kehidupan Berbelanja, Kehidupan Berkota - Novelisa Sondang D. & Kristanti Dewi Paramita

Tulisan ini merupakan refeksi dari pengalaman pribadi kami sebagai pekerja dan pelajar di negara asing (Novelisa bekerja di Singapura dan Kristanti belajar di Shefield, UK). Pada kesehariannya kami terjepit di antara penduduk asli dan turis. Dikatakan terjepit karena tentu kami mau tak mau akan merasakan rutinitas kehidupan keseharian penduduk asli yang sesungguhnya, tanpa terlalu banyak euforia seorang turis yang segalanya merupakan pengalaman baru dan bersifat temporer. Walaupun begitu, perbedaan budaya yang nyata memberikan paradigma yang berbeda bagi kami dalam membaca fenomena-fenomena menarik yang terjadi di negara-negara ini dan membanding-bandingkannya satu dengan yang lain.

unduh pdf
04.
Arsitektur Vis-a-vis Zeitgeist - M. Riou Badar T.

Berawal ketika umat manusia berjalan dengan langkah terbata-bata menelusuri sebuah dasar ketidaktahuan akan alam semesta, lalu mencoba membaca alam semesta dengan berbagai metode. Berpikir tentang alam semesta lalu menyimpulkan alam semesta (induksi), dan melihat fenomena alam semesta lalu berpikir dan meyimpulkannya (deduksi). Maurice Marleu Ponty menyebutnya sebagai fenomenologi tubuh, yaitu membuat manusia bersituasi, tertanam, dan menyejarah sebagai langkah di dalam rentang waktu yang melahirkan sejarah (the birth of history).

unduh pdf
05.
Sustainable Marketing according to Sustainable Architecture - Niken Palupi

Contemporary society has been remarkably high in openness to collaboration of various areas of expertise, or shall we call it "interdisciplinary generation". In this essay I attempts to endorse environmental and cultural issues into architecture. Software and Machine now have become the parameter of architectural design methods. There will be a lot to talk about architecture in collaboration with culture, environment, technology and economy. One basic assumption that has followed contemporary manifestations of mass architecture is the notion of it is derived as soul-less, repetitive and monotonous pieces of property. The next striking question: does it always mean that signiicant proit equals immense mass-producing? This unpleasant image of modernity in architecture needs to be reined; hence both in the architecture and business world, "image" often draw money. Anxiously relecting to my assumptions above, I am reining and resolving them with a proposal of a new business venture idea and critically emphasising the sumptuous importance of Sustainable Marketing in accordance to Sustainable Architecture.

unduh pdf
06.
Re-reading Sustainability, Re-reading Process - Education Care Unit

Education Care Unit adalah penggagas sebuah proyek pendidikan lingkungan berbasis kreativitas yang pada akhir tahun 2008 lalu menjadi peraih penghargaan Holcim Award Asia-Pacifc Region untuk kategori Next Generation Encouragement Prize. Proyek yang berjudul "Constructing Sustainability Awareness for Children" ini merupakan sebuah program yang mengupayakan kesadaran akan sustainability yang dimulai pada jenjang pendidikan dasar, sebagai basis bagi masa depan lingkungan yang lebih baik.

unduh pdf
07.
Re-reading Sustainability, Re-reading Process (2) Awaken the Giant Spirit Within - Marcel Pratama

Karya seorang arsitek sering kali diidentikkan sebagai sebuah massa bangunan yang dirancang dengan indah oleh seorang arsitek. Di dalam pandangan ini, arsitektur dilihat sebagai sebuah hasil atau produk atau tujuan akhir dari perancangan itu sendiri. Namun, apa yang saya pelajari dan pahami dari kegiatan yang dilaksanakan oleh Education Care Unit di sebuah Sekolah Dasar yaitu SDN 03 Guntur di Jalan Halimun, Jakarta Pusat, Sabtu, 13 Desember 2008, lalu, sungguh mengubah pandangan saya tentang karya arsitektur yang berkelanjutan (sustainable architecture). Apa yang dikerjakan oleh Education Care Unit (ECU) bukanlah merancang sebuah massa bangunan yang mereka sebut ’sustainable’. Mereka membangkitkan kesadaran dan merancang pola pikir anak-anak tentang kepedulian terhadap lingkungan mereka sendiri. Disini arsitektur bukan menjadi sebuah produk akhir, namun menjadi sebuah instrumen.

unduh pdf
08.
Re-reading Sustainability, Re-reading Process (3) Architect is Not a 'God' - Nirwan Arfari

Sebuah karya arsitektur yang dianggap baik saat ini, sering kali berpatokan terhadap sesuatu yang ideal, seperti contoh kecil; sering kali orang beranggapan ruang tamu yang baik adalah ruang tamu yang kurang lebih menyerupai seperti gambar ruang tamu yang terpajang pada sebuah majalah interior, yang padahal pada kenyataannya bila gambar pada majalah itu direalisasikan di rumah kita belum tentu kita sebagai pemilik akan merasa nyaman dengan adanya ruang tersebut. Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan, apakah kemudian sesuatu yang dianggap ideal itu (terutama oleh kita sebagai perancang) sudah pasti juga merupakan sesuatu yang benar-benar ideal dan cocok bagi orang lain (orang yang menggunakan rancangan kita)?

unduh pdf
09.
Re-reading Sustainability, Re-reading Process (4) Peran Arsitek dalam Masyarakat - Ristia Kurnia

Apa peran seorang arsitek di dalam masyarakat? Seringkali dalam buku-buku arsitektur dikatakan, arsitektur sebagai sesuatu yang dibuat dan dikembangkan oleh manusia dan efeknya atau dampaknya adalah untuk manusia juga. Namun manusia yang dikatakan buku-buku itu entah mengapa sepertinya lebih merujuk kepada sesuatu yang didesain oleh seorang arsitek dan desainnya itu pada nantinya akan merupakan sebuah place bagi manusia, sehingga desain dari arsitek itu haruslah mempertimbangkan manusia yang nantinya akan sebagai penghuni di dalamnya. Namun apa peran seorang arsitek bagi manusia lain hanya terbatas pada rancangan desain dari arsitek tersebut saja?

unduh pdf