Volume 02 No.1 – Gagasan Ideal dalam Arsitektur

ISSN 2085-7810
01.
Editorial - Yandi Andri Yatmo & Paramita Atmodiwirjo

Bukan sebuah hal yang mudah untuk membahas apa yang disebut ‘ideal’ dalam arsitektur. Namun di lain pihak, tidak mudah pula bagi kita untuk melepaskan diri dari kenyataan adanya harapan dan upaya terus-menerus menuju sesuatu yang ‘ideal’. Tujuh tulisan dalam arsitektur.net edisi kali ini mencoba melempar berbagai pendapat, perdebatan maupun pertanyaan yang terkait dengan Gagasan ‘Ideal’ dalam Arsitektur.

Avianti Armand membuka wacana dengan memaparkan bahwa apa yang dianggap ‘ideal’ dalam arsitektur selalu terjebak dalam dikotomi kepentingan yang berbeda domain, sebagaimana ditemukannya dalam pengalaman berpraktik arsitektur. Gagasan ‘ideal’ juga tentunya tidak statis. Kristanti Dewi meyakini pentingnya mendeinisikan kembali gagasan sebuah kota yang 'ideal' untuk saat ‘sekarang’ yang perlu merespon pada kedinamisan kehidupan masyarakat ‘sekarang’.

Dua tulisan berikutnya mengangkat gagasan ideal sebagai sesuatu yang diangankan manusia dan tertuang dalam berbagai media. Cerita Alice in Wonderland diulas oleh Boris A. Situmeang sebagai sebuah kondisi ruang surealisme yang sama sekali tidak relevan dengan dunia nyata. Calosa membahas beberapa ilm yang merupakan cerminan fantasi manusia dalam ruang dan waktu, yang sekaligus mengantar kita untuk mereleksikan kembali realita ruang manusia.

Pembahasan gagasan ideal dalam arsitektur seringkali terkait dengan penilaian estetika dan kesesuaian, sehingga ‘ideal’ adalah paralel dengan indah dan sesuai. Fathur Rohman mencoba memparalelkan cara pandang estetika dalam arsitektur melalui pengalaman ‘bertamu’ dalam keseharian. Sementara itu Ramadana meyakini bahwa intervensi arsitektur, termasuk tindakan menuju estetika, hanyalah sebuah pilihan dalam menyelesaikan permasalahan. Pada akhirnya, sangat mungkin kondisi ‘ideal’ dapat ditemukan di dekat keseharian kita. Demikian pesan yang disampaikan tulisan penutup dari Paramita Atmodiwirjo tentang halte bis berpredikat ‘terbaik’ di Inggris yang merupakan sebuah intervensi arsitektur sederhana namun bermakna.

Apa yang dikemukakan dalam tujuh tulisan adalah sejumlah gagasan dan perdebatan, yang tentunya tidak mungkin melahirkan sebuah kesimpulan tentang gagasan ‘ideal’ dalam arsitektur. Sebaliknya, justru muncul pertanyaan lebih jauh tentang di mana ‘ideal’ dapat dicari atau ditemukan, atau bahkan sejauh mana ‘ideal’ perlu dibahas dan diterapkan dalam praktek berarsitektur. Benarkah praktek intervensi arsitektur yang kita lakukan selama ini merupakan upaya menuju sebuah kondisi yang ‘ideal’?

Selamat berwacana dan mereka-reka tentang gagasan ’ideal’ dalam arsitektur kita

.
(baca lengkap ...)
unduh pdf
02.
Arsitektur Ideal: Di Antara Dua Polar - Avianti Armand

Benar, arsitek selalu adalah leading consultant. Tapi arsitektur tidak pernah lahir dari tangan seorang arsitek sendiri saja. Dia selalu merupakan produk dari sekumpulan orang; pemberi tugas atau klien, arsitek, konsultan dari berbagai disiplin lain – struktur, mekanikal elektrikal, lansekap, special lighting, dan sebagainya, kontraktor – mulai dari jajaran supervisor hingga tukang dan kuli angkut, supplier berbagai material, dan masih banyak lagi. Di dalam proses menjadinya, akan bertemu berbagai macam kepentingan. Masing-masing memiliki gagasan ideal, yang tidak selalu sejalan satu sama lain. Masing-masing bertujuan agar gagasan ini terwujud. Apabila arsitektur yang terwujud adalah realisasi dari semua yang ideal itu, maka kondisi yang terjadi tentulah utopis. Namun, ketidakseimbangan kepentingan didalamnya akan membuat pihak lain atau bahkan arsitekturnya ‘sakit’. Gagasan siapa lalu yang lebih ideal? Yang lebih lantang berbicara?

unduh pdf
03.
Kota Ideal untuk ‘Sekarang’ - Kristanti Dewi Paramita

Defnisi kota ideal merupakan awal dari sebuah pencarian yang panjang. Plato mendefnisikannya sebagai sebuah pencerminan dari kehidupan dalam ruang jagat yang berdasar pada hubungan manusia dengan sesamanya (London, 2000). Lebih jauh lagi, ia juga mendefnisikannya sebagai sebuah bentuk organisasi sosial dan politis yang memudahkan warganya mengembangkan potensi mereka dan hidup bersama sesuai dengan nilai kemanusiaan dan kebenaran (London, 2000). Bahkan awal dari bentukan kota pun berasal dari sekumpulan manusia yang berkumpul di suatu tempat dan berdiam berdasarkan suatu tujuan (Wikipedia, 2007) sehingga dapat terlihat dari penjabaran di atas, bahwa terdapat beberapa elemen yang sangat berpengaruh dalam defnisi kota, yaitu manusia dan ruang.

unduh pdf
04.
Tata Kota Wonderland - Boris A. Situmeang

Mari membaca rangkuman perjalanan Alice. Alice yang mengejar kelinci putih yang terburu-buru terpaksa jatuh menuju lubang yang sangat dalam setelah memasuki sarang kelinci. Sesampainya di dasar, Alice melanjutkan pengejaran hingga menemukan sebuah lorong berlantai, berplafond, berdinding dan berpintu. Alice menemukan pintu kecil dan melihat taman indah. Alice mengecil dan membesar dengan mengantongi kegagalan memasuki pintu tersebut, lalu menangis. Alice mengecil kembali dan terendam dalam air matanya. Alice bertemu dengan berbagai makhluk yang ikut hanyut dalam arus air itu lalu berenang ke tepian. Alice bercengkrama dan mengeringkan dirinya. Alice membuat yang lain kabur karena menyebut kucing.

unduh pdf
05.
Menjelajah Ruang dan Waktu dalam Film - Calosa

Salah satu media komunikasi yang dengan signifkan menjadi konsumsi sehari- hari masyarakat adalah film. Film menjadi sarana menciptakan fantasi-fantasi dalam pikiran yang seakan menjadi nyata dengan peran aktor-aktor di dalamnya, lalu disajikan kepada masyarakat sebagai konsumsi untuk dinikmati. Film hadir tidak hanya untuk sekedar dinikmati namun juga dapat mempengaruhi cara berpikir masyarakat. Media flm banyak digunakan untuk memperlihatkan fantasi-fantasi para futurist dengan menawarkan bentuk masa depan seperti yang mereka pikirkan. Di antara banyak fantasi yang ada, salah satu fantasi para futurist dan juga mungkin menjadi keinginan banyak manusia, adalah yang menyangkut dengan ruang dan waktu. Bagaimana manusia dapat menciptakan kondisi seperti yang mereka inginkan.

unduh pdf
06.
Bertamu: Melihat Kaitan Estetika dan Arsitektur - Fathur Rohman

Banyak pengalaman unik saat kita bertamu yang akhir-akhir ini saya sadari ternyata mengandung kompleksitas dan berhubungan dengan apa yang saya pelajari di arsitektur. Pengalaman-pengalaman yang pada awalnya menurut saya sepele dan tidak penting kemudian pada akhirnya menjadi penjelasan yang menarik dan mudah dipahami dari konsep arsitektur everyday. Salah satunya adalah untuk menjelaskan kaitan antara arsitektur everyday dan estetika.

unduh pdf
07.
Arsitektur sebagai Sebuah Pilihan - Ramadana Putra

Arsitektur merupakan salah satu pilihan dalam menjawab masalah keruangan. Ketika ada masalah pengangguran, arsitektur dapat dijadikan solusi untuk membuat sebuah jalan mencari lapangan pekerjaan. Contohnya dengan membuat sebuah taman rekreasi yang menyediakan lapak-lapak kosong sebagai tempat untuk mencari nafkah. Lahan tersebut dapat dimanfaatkan untuk membuka warung atau pangkalan ojek yang siap mengantar orang-orang yang berada disana.

unduh pdf
08.
Halte Bus ’Terbaik’ di Inggris: Intervensi Bermakna bagi Komunitas - Paramita Atmodiwirjo

Tulisan ini merupakan sebuah refeksi terhadap kisah sebuah halte bus yang pernah mendapat predikat ‘terbaik’ di Inggris Raya. Kisah halte unik ini menggambarkan sebuah wujud intervensi arsitektur yang sangat sederhana yang diprakarsai oleh Bobby Macaulay, seorang siswa sekolah dasar. Intervensi sederhana ini kemudian ternyata mengandung beragam makna bagi komunitas sekitarnya.

unduh pdf