Volume 02 No.3 – Ordinary

ISSN 2085-7810
01.
Editorial - Yandi Andri Yatmo & Paramita Atmodiwirjo

Banyak hal tak terduga yang dapat dipelajari dari apa yang selama ini kita anggap biasa di sekitar kita. Gagasan tentang ordinary inilah yang kami angkat dalam ‘Something Else‘ - sebuah exhibition project yang mencoba mencari pemaknaan dari ordinary, serta bagaimana pembalikan gagasan tentang ordinary (inverting the ordinary) dapat melahirkan beragam pemaknaan baru dalam praktek berarsitektur. Sejumlah tulisan dalam edisi kali ini merupakan wacana hasil eksplorasi dalam proyek ‘Something Else‘. Sebagian eksplorasi dilakukan melalui inversi obyek sederhana, namun ternyata mampu mengangkat beragam isu yang dapat bermakna bagi penjelajahan arsitektur.

Naomi Paramita Adhi berwacana tentang bagaimana ordinary menjadi sangat bermakna meskipun merupakan sebuah rutinitas dan repetisi, yang maknanya belum tentu menjadi lebih baik bila dijadikan extraordinary. Dewi Andhika melalui inversi dari sendok garpunya menunjukkan bahwa inversi dari suatu obyek yang familiar ternyata mampu memaksa terjadinya perubahan perilaku. Tezza Nur Ghina mengangkat isu ornamentasi dalam arsitektur dan menunjukkan bahwa penilaian tentang indah dan jelek tidaklah sederhana. Wacana tentang indah- jelek ini juga dibahas oleh Christa Indah, melalui upayanya mengedit tampilan yang extraordinary menjadi ordinary.

Tulisan lain dari Ramadana mengangkat kompleksitas dari pengertian ordinary saat dilakukan inversi, yang selanjutnya menimbulkan pertanyaan sejauh mana ordinary dan inversinya saling bertentangan atau justru saling melengkapi. Dyah Ayuningtyas membahas tentang apa yang dihasilkan dari penggabungan sesuatu yang ordinary dengan ordinary lain. Selain sejumlah wacana dari ‘Something Else‘, sebuah catatan dari Avianti Armand menutup wacana di edisi ini, melalui catatan landscape sebuah perjalanan yang mengungkap beragam fenomena keseharian.

Secara umum semua tulisan dalam edisi ini mengindikasikan bahwa gagasan tentang ordinary tidaklah sederhana. Gagasan tentang ordinary, extraordinary ataupun not ordinary ternyata mampu memicu berbagai interpretasi, pemikiran, pertanyaan serta pemaknaan kembali. Sehingga gagasan ordinary ini patut terus-menerus kita gali, baik dalam keseharian kita maupun dalam praktek berarsitektur.

(baca lengkap ...)
unduh pdf
02.
Inverting the Ordinary - Naomi Paramita Adhi

In the exhibition project “Something Else” we began with the discussion about the definition of ordinary and then experiemented in making something that we consider as an inversion of the ordinary. But first of all, what is inverting and how do we exactly do this inverting process?

unduh pdf
03.
Membalik Ordinary, Mengubah Perilaku - Dewi Andhika

Ordinary saya anggap sebagai suatu keadaan yang dianggap familiar oleh kita dalam jumlah banyak. Sesuatu dapat dianggap ordinary tergantung dari sudut pandang dan konteks dari mana dilihatnya. Ketika ordinary di inversi, apakah selalu menjadi extraordinary?. Menurut saya inversi dari ordinary akan menghasilkan not ordinary dimana di dalamnya tercakup extra ordinary yang berlawanan dengan less ordinary. Kedua kata itu saya ambil untuk menunjukkan bahwa setelah sesuatu diinversi masih ada tingkatannya. Berada di mana sesuatu setelahnya tergantung siapa yang menilai. Sesuatu dapat menjadi extra ordinary dan less ordinary secara bersamaan kembali lagi dari siapa yang menilainya. Dan bukannya tidak mungkin, saat proses inversi dari ordinary yang terjadi justru hasilnya menjadi ordinary juga.

unduh pdf
04.
Ornamentasi dalam Arsitektur: The Ugliness of Beauty and the Beauty of Ugliness - Tezza Nur Ghina

Dalam keseharian, kita sering mendengar kata beauty dan ugly. Beauty selalu dimaknakan dengan yang indah-indah dan mempesona, sesuatu yang diharapkan, selalu diusahakan untuk dicapai. Sedangkan ugly sering dimaknakan sebagai sesuatu yang bersifat sampah, perlu dihindari dan dibuang jauh-jauh. Pemaknaan beauty dan ugly ini juga seringkali ditemui dalam dunia arsitektur. Arsitek berlomba-lomba membuat arsitektur yang beautiful, megah, mewah. Karena lapangan pekerjaan arsitek bukanlah pekerjaan yang rendah hati dan sederhana, selalu ada kecenderungan untuk menjadi ‘lebih’ bahkan ‘berlebihan’.

unduh pdf
05.
Ordinary: Beautiful & Ugly - Christa Indah

Berbicara kecantikan (beauty), atau kata sifatnya beautiful, ada banyak pandangan mengenainya. Aristotle mengemukakan “the beautiful object is one which has the ideal structure of an object; it’s has the form of totality” (dalam Cousins, 1994: 60), sehingga ugliness dipahami sebagai sesuatu yang di luar kriteria (negation) .Keutuhan menjadi suatu yang penting. Sesuatu yang pas pada takarannya, jika dilebihkan atau dikurangi sedikit maka tidak lagi dapat dikatakan beautiful. Sehingga apa yang dinyatakan buruk selalu dibayangi oleh hal-hal yang indah, “ugliness always shadowed by beautiful” (Cousins, 1994: 60). Selalu ada perbandingan, jika ini maka bagus, jika tidak maka buruk - full of judgement.

unduh pdf
06.
The Inversion of the Ordinary: Opponent? Complement? - Ramadana Putra

Apakah karena seringnya hal itu terlihat maka dapat dikatakan menjadi suatu hal yang ordinary? Apakah masalahnya hanya pada kuantitas? Jika demikian maka harus sesering apa untuk dapat dikatakan sebagai sesuatu yang ordinary?. Cukup sulit untuk menentukan hal tersebut karena nantinya pendapat tiap orang akan brbeda. Contohnya di Jepang masyarakatnya mengenal style berpakaian Harajuku, style berpakaian yang sekehendak pemakainya. Umumnya mengenakan pakaian kostum atau dandanan yang menggambarkan diri mereka sebagai sesuatu yang unik dan berantakan. Bagi orang Jepang sendiri hal tersebut merupakan sesuatu yang ordinary, namun bagi turis hal tersebut menjadi sesuatu yang berbeda dari kebiasaan. Oleh karena itu hal tersebut tidak dapat dijadikan sebagai suatu patokan.

unduh pdf
07.
Ordinary + Ordinary - Dyah Ayuningtyas

Everyday adalah keseharian, sesuatu yang ditemukan tiap hari oleh manusia. Everyday mempunyai sifat rutin dirasakan, misalnya terlihat, teraba, terasa, tercium dan yang dialami oleh panca indera kita. Sesuatu yang dirasakan sehari- hari menjadi sesuatu yang biasa, umum, dan normal. Kegiatan, kejadian yang dirasakan manusia sehari-hari dapat menjadikan hal-hal tersebut ordinary.

unduh pdf
08.
Scape: On a Journey - Avianti Armand

Osaka, 24th of March. It was spring, quite an early one. Blossoms should have started to bloom, but none was to be seen. Thick clouds filled the sky, allowing no rays of sunshine to filter through. A light drizzle fell from the sky, a grey rain that coated all colors dull. The view from the rapid train windows was an ocean of rooftops. Scattered, but still in order. Houses are separated from one another by a small gap, just enough for each to breathe. Above them, endless spread of wires crisscrossed the sky. The rhythmic sound of the train created a deafening sound, broken only by a robotic female voice announcing, in Japanese, the name of every approaching station. We were always in constant alarm, exchanging glances, communicating in silence, ‘Are we there yet?’. Nobody wanted to be left behind.

unduh pdf