Volume 02 No.2 – Arsitektur = Proses

ISSN 2085-7810
01.
Editorial - Yandi Andri Yatmo & Paramita Atmodiwirjo

Wacana tentang proses dalam berarsitektur adalah suatu hal yang tidak pernah habis dikupas. Berarsitektur adalah sebuah proses yang dapat dimaknai secara luas, yang tidak semata-mata melihat bagaimana terwujudnya karya arsitektur dari sebuah gagasan. Tatkala sebuah arsitektur dianggap mengandung narasi, maka menjadi menarik untuk melihat bagaimana muatan-muatan dalam arsitektur tersebut terlahir dan terdefinisi.

Tulisan dalam edisi ini menawarkan gagasan terkait dengan beragam proses dalam berarsitektur. Tulisan pertama berangkat dari kaitan antara musik dan arsitektur. Anastasya Yolanda menjelaskan bahwa kaitan antara bunyi dan arsitektur terletak pada bagaimana keduanya dilihat sebagai sebuah proses terdefinisinya wujud. Selanjutnya Farid Rakun membuka wacana tentang bagaimana pemahaman sistem open source dalam world wide web membuka peluang alternatif dalam praktek berarsitektur.

Proses berarsitektur tidak pernah dapat lepas dari disiplin ilmu lain. Topologi sebagai salah satu cabang ilmu matematika mengandung berbagai gagasan menarik dalam kaitan dengan proses berarsitektur. Dyah Esti Sihanani mencoba membandingkan proses-proses dalam origami, folding dan topologi dan melihat sejauh mana mungkin terjadi overlap di antara ketiganya. Tulisan lain dari Rahadea Bhaswara menelaah tentang proses berarsitektur dari sudut pandang antropologi.

Selain tulisan-tulisan ilmiah, edisi kali ini juga mengangkat sejumlah karya hasil eksplorasi “The Journey of Rp 25.000,-“. Karya-karya yang ditampilkan merupakan hasil penggalian gagasan rancangan skenario sebuah perjalanan singkat namun bermakna. Di sini skenario menjadi bagian dari bernarasi dalam arsitektur dan mengandung perwujudan interaksi ruang, manusia, peristiwa dan materialitas (space, body, event and materiality).

Mudah-mudahan muatan dalam edisi kali ini memberikan sejumlah gagasan yang dapat memperluas wawasan kita semua dalam berarsitektur.

(baca lengkap ...)
unduh pdf
02.
Menemukan Geometri melalui Bunyi dan Arsitektur - Anastasya Yolanda

Berdasarkan pernyataan John Cage, saya mengintepretasikan musik sebagai sebuah bunyi karena musik merupakan komposisi bunyi. Apakah seluruh bunyi baru yang tercipta melalui instrumen musik tidak mengkomunikasikan konsep tertentu? Saya mencoba melihat fenomena ini pada salah satu bagian pendukung sebuah instrumen musik yaitu simbal. Simbal adalah sebuah piringan pada alat musik drum. Sepanjang pengetahuan saya simbal hanya mengeluarkan bunyi yang nyaring, tetapi pada kenyataannya bunyi yang dihasilkan oleh alat ini lebih kaya, mulai dari bunyi dengan nada rendah sampai nyaring, bunyi tradisional sampai modern. Seluruh bunyi yang dihasilkan oleh simbal melalui proses pencarian yang panjang. Hampir serupa dengan salah satu proses yang dilalui untuk menghasilkan sebuah arsitektur baru.

unduh pdf
03.
Found Object, Sampling: Re-appropriating Process towards Open Source Architecture - Farid Rakun

Architecture, after the World War II, has failed to deliver its many promises. One of the main causes is its preference to harmonise its relationship with the industry over relating more with the progressive community as its people, its user, and its audience. As a consequence, whenever the word architecture is mentioned in this essay, it refers to architecture as an industry instead of a discipline. As an industry, it’s only intuitive for architecture to follow the current global industrial trend: homogenising, campaigning consumerism as its core reasoning, and supporting the global development to make this world a visually saturated and intellectually dulled place to be. Furthermore, concentrating at the aforementioned condition, this essay focuses mainly on finding a strategy to subvert this very architectural condition, to discover the undelivered promises, but in the way also finding better way, more democratised way to do architecture.

unduh pdf
04.
Origami, Folding, Topologi - Dyah Esti Sihanani

Folding, dalam arsitektur memiliki makna yang lebih mendalam dan rumit daripada hanya sekedar mengucapkan istilah ‘folding’ ataupun mencoba membuat lipatan dari kertas. Folding dapat berupa sebuah atau serangkaian perlakuan pada sebuah benda [biasanya kertas] yang mengakibatkan perubahan [bentuk, permukaan, makna] pada benda tersebut. Biasanya perlakuan yang diberikan pada sebuah kertas dalam rangka mem-folding kertas tersebut adalah fold, pleat, crease, press, score, cut, pull up, pull down, rotate, twist, turn, wrap, enfold, pierce, hing, knot, weave, compress, balance, unfold. Beberapa dari kata tersebut sama-sama memiliki arti ‘lipat’ dalam kamus Inggris-Indonesia [namun sebenarnya ‘lipat’ yang dimaksud adalah cara ‘lipat’ yang berbeda], beberapa kata lain sulit diterjemahkan dan kita hanya tahu saja perlakuan yang diberikan tanpa tahu istilah Indonesianya.

unduh pdf
05.
Ideologi,Gagasan,Tindakan,Artefak: Proses Berarsi- tektur dalam Telaah Antropologis - Rahadea Bhaswara

Membicarakan arsitektur dari jendela antropologi hanya salah satu cara untuk melihat arsitektur dari orbit luarnya. Dengan meminjam jendela antropologi kita akan melihat arsitektur sebagai sebuah proses kebudayaan yang utuh. Gejala dan wujud kebudayaan dalam arsitektur merupakan indikasi yang semakin mendekatkan arsitektur dengan proses terciptanya kebudayaan.

unduh pdf
06.
Journey of Rp 25.000,- - Sheila Putrianti Narita, Rosalyn Lohanda, Mirradewi Rianty, Meutia Rin Diani, Marcel Pratama, Diorita Fitrianti, Coriesta Dian & Annisa Seffiliya

Journey of Rp 25.000,- merupakan ekplorasi gagasan skenario sebagai bagian dari bernarasi dalam berarsitektur. Journey of Rp 25.000,- mengandung perwujudan interaksi ruang, manusia, peristiwa dan materialitas (space, body, event and materiality).

unduh pdf