Volume 05 No.2 – Love

ISSN 2085-7810
01.
Editorial: Love - Yandi Andri Yatmo, Paramita Atmodiwirjo & Andi Surya

Love” mengandung sebuah makna khusus yang sulit untuk dapat diabaikan dalam kehidupan manusia. Kehadirannya pun dapat memberikan pengaruh dalam berbagai dimensi kehidupan manusia, termasuk arsitektur. Berarsitektur merupakan sebuah perwujudan love, di mana di dalamnya terkandung passion dan desire. Pada edisi kali ini, kami berupaya untuk mengangkat berbagai dimensi yang terkait dengan love dalam berarsitektur. Lima tulisan menghadirkan gagasan passion, connection, dan composition, yang merupakan ekspansi pemahaman terhadap makna yang luas dari “love” dan peranannya dalam proses berarsitektur.

Passion seringkali menjadi latar belakang dari keberadaan love. Proses berarsitektur yang sarat dengan passion mampu memicu hasrat untuk menggali pendekatan yang berbeda dalam proses berkarya. Andro Kaliandi memaparkan percobaannya yang melibatkan passion untuk menguji metode yang dilakukan oleh Daniel Arsham tentang architecture of excavation dalam proses pembentukan ruang dengan ‘menggali’ benda padat. Obyek eksplorasi semakin menarik karena menempatkan ulat sebagai aktornya. Sedangkan eksplorasi passion lainnya ditulis oleh Klara Puspa Indrawati yang memandang breakdance sebagai perwujudan gerak tubuh manusia dalam mengeksplorasi surface secara kontinu, sebagaimana pembentukan surface dalam light graffiti. Selanjutnya gagasan ini diolah lebih jauh dengan memadukan pergerakan surface pada sebuah medium.

Tulisan selanjutnya mengangkat aspek composition sebagai proses sekaligus hasil dari keberadaan love. Ide composition yang sangat lekat dengan arsitektur kali ini ditelusuri secara kreatif oleh Mikhael Johanes melalui cara yang berbeda dan cenderung menggugah selera makan karena terkait dengan sushi. Pemahaman akan composition pada makanan khas Jepang tersebut digunakan sebagai landasan berpikir dalam proses eksplorasi tentang pembentukan ruang, yang hasilnya memberikan pola tertentu yang memperkaya penafsiran akan sebuah ruang.

Kondisi yang memungkinkan hadirnya love yakni connection tercermin dalam dua tulisan yang berupaya mengungkap connection yang ada dalam proses berarsitektur. Talisa Dwiyani mengangkat sebuah koneksi yang kompleks berkenaan dengan keadaan yang mendasar dan keadaan yang akan datang melalui eksplorasi metode arsitektur Sou Fujimoto, metode kerajinan tangan Paper Tole, serta hubungan diantara keduanya yang menghadirkan ambiguitas yang kemudian diterapkan dalam sebuah eksperimen yang menguji pemahaman kita akan inside-outside. Austronaldo F.S. mengupas koneksi yang terjadi dalam knot sebagai sebuah gagasan yang dapat melandasi metode arsitektur. Pemahaman akan koneksi ini kemudian diterjemahkan dalam sebuah permainan jari, yang selanjutnya memunculkan berbagai hal menarik yang tak terduga sepanjang permainan.

Semua tulisan dalam edisi ini pada akhirnya berupaya untuk menjadikan arsitektur memiliki elastisitas dan fleksibilitas dalam pemahamannya, yang dapat membangun pemikiran baru dalam berarsitektur. Eksplorasi yang ditampilkan juga menunjukkan bahwa dimensi personal dari love, dengan keterlibatan (engagement) personal yang kuat dapat mendasari berbagai proses pencarian metode arsitektur, yang pada akhirnya mampu menghadirkan kreativitas berarsitektur tanpa batas. Semoga edisi kali ini mampu menginsiprasi berkembangnya peranan dimensi personal dalam mewarnai praktik arsitektur layaknya love menghiasi perjalanan hidup manusia.

(baca lengkap ...)
unduh pdf
02.
Gairah Menggali Ruang - Andro Kaliandi

Umumnya tempat tinggal dibangun dengan menciptakan surface yang dapat mendefinisikan volume. Manusia membangun satu alas, empat dinding dan satu atap, dan hal tersebut mendefinisikan ruang dalam. Namun pada umumnya, manusia tidak tahu besaran ruang yang benar-benar dibutuhkan. Manusia menciptakan ruang yang tidak efektif. DIG menyatakan sebaliknya. Proses pembangunan dimulai dengan adanya sebuah solid form yang kemudian digali untuk menciptakan ruang yang dibutuhkan. Menggali dan memahat ‘ruang’ mewakili proses desain yang primitif, yakni menciptakan ruang yang seperlunya saja

unduh pdf
03.
Menarikan Jejak Ruang - Klara Puspa Indrawati

Light graffiti merupakan salah satu produk dari seni fotografi. Light Grafitti merupakan seni melukis dengan cahaya di medium udara. Hasil dari lukisan yang dibuat di medium udara tadi hanya dapat ditangkap dengan menggunakan kamera, tidak dapat dilihat secara langsung karena gerakan sumber cahaya untuk melukis berlangsung dengan cepat, namun masih dapat tertangkap kamera. Gerakan cepat sumber cahaya akan menghasilkan sebuah surface cahaya yang pada tangkapan kamera berperan sebagai pemberi outline bentuk yang ingin dihasilkan dalam lukisan. Pada seni ini, surface yang dibentuk sepanjang gerakan sumber cahaya sebenarnya menjadi batas ruang void yang tercipta dari gerakan light graffiti. Dengan demikian, dalam light graffiti ruang tidak akan terbentuk tanpa gerakan sumber cahaya yang menghasilkan surface yang kontinu

unduh pdf
04.
Passion dalam Segulung Sushi - Mikhael Johanes

Ketertarikan saya terhadap seni menggulung sushi terletak pada cara penyusunan bahan bakunya. Bahan baku tersebut diletakkan pada sebuah permukaan datar (terbuat dari nasi) dengan susunan tertentu sehingga mencapai presentasi sushi yang tepat dan menarik ketika tergulung. Pada proses ini terdapat transformasi geometris dari bidang datar menjadi sebuah tabung. Dalam hal ini, ruang yang terjadi terproyeksi pada potongan sushi.

unduh pdf
05.
Menyelami Refleksi Hubungan Alam & Ruang Diri - Talisa Dwiyani

Bagi Sou Fujimoto, seorang arsitek muda Jepang, alam selalu hadir dan menjadi bagian dari lingkungan dimana kita berpijak. Manusia membuat segala sesuatu untuk mempermudah, mempercepat, dan membantu dirinya untuk terus menjadi lebih baik dalam hal apapun. Segala benda-benda artifisial yang diciptakan tentu menjadi hal yang asing bagi sekitar, termasuk di dalamnya produk arsitektur. Dalam setiap karyanya Sou Fujimoto memiliki keinginan meleburkan hal itu dan menyeimbangkannya.

unduh pdf
06.
Bermain Jari - Austronaldo F.S.

Pada Museum Mercedes-Benz, terdapat tiga kata kunci mengenai metode yang digunakan yaitu continuity, twisting surface dan direction. Continuity tercipta melalui integrasi mobil yang dipamerkan dengan ramp sehingga menciptakan perspektif yang berbeda mengenai objek tersebut saat bergerak. Ruang juga terbentuk dari hasil twisting suatu surface menyerupai trefoil knot. Ruang yang kontinu tercipta akibat tahapan direction yang pada kasus ini diciptakan dengan merotasi 120 derajat pada tiap lantai. Ketiga karakter tersebut mendefinisikan knot arsitektur dalam karya museum ini.

Metode knot arsitektur seperti pada contoh tersebut kemudian dieksplorasi lebih lanjut pada suatu permainan dengan jari. Apakah memang benar suatu simpul dapat dihasilkan oleh material apapun? Apakah knot dapat tercipta oleh material kaku seperti jari dan seberapa jauhkah jari dapat di-twist untuk menghasilkan suatu knot? Proses seperti apakah yang terjadi untuk menghasilkan knot tersebut?

unduh pdf