Volume 02 No.4 – Re-reading

ISSN 2085-7810
01.
Editorial: Re-reading - Yandi Andri Yatmo & Paramita Atmodiwirjo

Re-reading merupakan salah satu upaya berpikir kritis menuju kreativitas dalam berarsitektur. Wacana tentang re-reading ini akan kami tampilkan dalam dua edisi. Bagian pertama di penghujung tahun 2008 ini memuat berbagai upaya re-reading terhadap karya arsitektur atau proses berarsitektur, yang merupakan hasil wacana dalam mata ajaran Geometri dan Arsitektur di Universitas Indonesia. Sejumlah tulisan di edisi selanjutnya di tahun 2009 akan berkisar tentang pemaknaan kembali berbagai gagasan arsitektur dalam konteks masa kini.

Wacana re-reading dalam edisi ini adalah penggalian terhadap ide pembentukan suatu karya arsitektur, yang selanjutnya dapat dimaknai kembali dan digunakan sebagai sebuah proses pendekatan pembentukan arsitektur. Karya yang dihasilkan sebagai hasil re-reading bukanlah merupakan wujud realisasi arsitektur yang terbangun, namun lebih merupakan wacana pembentukan geometri yang tentunya masih dapat dikembangkan tanpa batas. Sesilia Monalisa mengupas ide Le Corbusier tentang ‘conformity with the horizons’. Reni Megawati merujuk pada pendekatan Diller + Scofdio dalam karya ‘Blur’ yang selanjutnya menggiring ke wacana lebih jauh tentang proses ‘menghadirkan’ sesuatu melalui sesuatu yang lain.

Christa Indah mengupas proses berarsitektur dari MVRDV dan secara kreatif merepresentasikannya kembali melalui ‘banana strawberry milkshake’ sebagai perwujudan sejumlah esensi gagasan yang ditemukannya. Rachmat Rhamdhani mencoba mempertanyakan kembali tentang proses, setelah mengupas wacana proses arsitektur Peter Eisenmann. Mirza Syahrani mengangkat pendekatan Antony Gormley dalam karya instalasi ‘Blind Light’ yang mengantarkan pada eksplorasi terhadap disorientasi dalam ruang. Ramadana menutup edisi ini dengan sebuah eksplorasi yang sangat menarik tentang re-reading permainan ular tangga dan catur dan bagaimana eksplorasi ini mengantar kepada pemahaman pengalaman dan persepsi ruang yang lain.

Semua tulisan ini mungkin memberikan wawasan baru, pencerahan atau bahkan mengusik proses berarsitektur yang selama ini kita kenal dan kita pahami. Eksplorasi yang dilakukan tidak bermaksud untuk mengacaukan pemahaman nilai arsitektur dalam karya yang telah ada, namun justru mencoba membawanya lebih jauh sebagai sebuah upaya kreatif berarsitektur.

Selamat membaca dan “membaca kembali” arsitektur kita.

(baca lengkap ...)
unduh pdf
02.
Horison dan Pembentukan Arsitektur: Menelaah Ide Le Corbusier tentang 'Conformity with the Horizons' - Sesilia Monalisa

Le Corbusier (1887-1965) merupakan salah satu arsitek yang turut berpengaruh pada abad ke-20 dalam dunia arsitektur. Banyak karya-karyanya yang dijadikan acuan dalam arsitektur modern. Salah satu karya besarnya yang sempat membuat publik terkejut adalah kapel Ronchamp (Notre Dame du Haut Ronchamp, 1950- 1955). Dalam tulisan ini saya ingin membahas dan menganalisis parameter apa saja yang digunakan oleh Le Corbusier sehingga pada akhirnya tercipta suatu gagasan geometri seperti yang dimiliki oleh kapel tersebut. Kemudian saya akan mencoba menggunakan kembali parameter-parameter tersebut dalam menciptakan suatu gagasan geometri yang baru.

unduh pdf
03.
Menghadirkan suatu Ketiadaan: Sebuah Proses Eksplorasi Pembentukan Geometri - Reni Megawati

Geometri dalam suatu karya arsitektur tidak terbentuk dengan sendirinya, tetapi memiliki suatu mekanisme dalam proses pembentukannya. Mekanisme yang menjadi kajian dalam eksplorasi pembentukan geometri timber frame yang saya lakukan di sini diperoleh dari yaitu Blur, sebuah karya arsitektur rancangan Diller+Scofdio yang menjadi pemenang dalam Swiss Expo 2002.

unduh pdf
04.
Proses yang Menghasilkan- MVRDV & Banana Strawberry Milkshake - Christa Indah

Dalam arsitektur, geometri merupakan bagian yang sangat penting. Sebastiano Serlio menyatakan bahwa geometri merupakan kebutuhan yang sangat penting dalam arsitektur.“How needful and necessary the most secret art of geometry is – without it the architect is no more than a stone despoiler” (Robin, 1995). Dalam pemahaman mengenai geometri secara umum, geometri akan selalu berhubungan dengan bentuk. Geometri adalah sistem yang mendefinisikan elemen-elemen bentuk, titik, garis dan bidang. Dari pengertian tersebut maka hal terpenting dalam geometri adalah sistem yang mendefinisikan elemen bentuk tersebut. Maka, dapat disimpulkan bahwa bentuk geometris adalah bentuk yang dicapai dengan pendefinisian elemen-elemennya secara sistematis dan jelas.

unduh pdf
05.
Anti-Blurred Zones: A Critique to Eisenman's Design Process Instruments - Rachmat Rhamdhani

It is obvious that Eisenman is a very conceptual architect. He often emphasizes the importance of process in designing an architectural project. We may understand that most of his works during one decade starts from 1989 until 1998, which is summarized in a book titled “Blurred Zones”, show us his consistency on following ‘the rules’ of design. The term of blurring used by Eisenman here is related to his argument on defining his architecture in a conceptual way. I am not going to tell you that the term of blurring is not suitable to be applied here. In this writing, my concern is about the essence of blurring concept itself. The concept of blurring,, which I try to resist on a very simple geometri exploration project, is not really easy to be accepted as a generally appropriate method for several reasons.

unduh pdf
06.
Disorientasi dalam Arsitektur - Mirza Syahrani

Blind Light adalah salah satu instalasi yang diciptakan oleh Antony Gormley. Instalasi tersebut dapat dideskripsikan sebagai box atau ruangan berbentuk kubus yang dapat dimasuki oleh kurang lebih 25 orang. Uap air yang mengisi ruangan tersebut menghadirkan pengalaman yang menarik bagi orang-orang yang memasukinya. Uap air tersebut cukup tebal untuk membatasi pengelihatan orang-orang tersebut dimana ketika seseorang menjulurkan tangannya sendiri, dapat dikatakan mustahil baginya untuk dapat melihat tangannya sendiri.

unduh pdf
07.
Membongkar Persepsi dalam Ruang melalui Ular Tangga dan Catur - Ramadana Putra

Saya mencoba untuk melakukan beberapa perubahan terhadap beberapa permainan. Dari permainan tersebut yang diubah hanya bentuk fisik dari permainan tersebut, namun tidak mengubah tata cara bermain dan aturannya yang telah diketahui banyak orang. Tujuannya adalah agar masyarakat dapat merasakan permainan yang wujudnya telah berubah tersebut. Sehingga orang yang bermain dengan permainan tersebut tidak perlu mencari bagaimana cara dan aturan dalam memainkan permainan ini. Yang perlu dipikirkan adalah bagaimana mereka mengubah mindset mereka yang biasa menjadi berbeda sehingga akan lahir strategi-strategi baru guna memenangkan permainan tersebut.

unduh pdf