Volume 03 No.2 – In Search of Other Aesthetics

ISSN 2085-7810
01.
Editorial: In Search of Other Aesthetics - Yandi Andri Yatmo & Paramita Atmodiwirjo

Pencarian terhadap estetika sangat lekat dalam proses berarsitektur kita selama ini. Namun kami meyakini bahwa akan selalu ada wacana yang dapat kita kemukakan terkait pencarian estetika. Termasuk di dalamnya pencarian estetika “yang lain”. Tulisan dalam edisi ini merupakan sejumlah eksplorasi gagasan dalam rangka kreativitas mencari hal-hal yang lain, hal-hal di luar apa yang terlihat atau dikenal selama ini, ataupun membongkar hal-hal yang ada di depan mata namun dapat dilihat dengan cara yang lain.

Mengawali edisi ini, Ferro Yudhistira secara kreatif mencoba mengurai kembali permainan sepakbola dan menggali pembentukan ruang di dalamnya, sebagai inspirasi dalam mengembangkan cara pandang terhadap ruang arsitektur. Mirradewi Rianty tertarik dengan gagasan pembauran figure & frame dalam Guardiola House karya Peter Eisenmann dan mencoba mengeksplorasi kembali gagasan pembauran ini melalui sebuah eksperimen color blending process. Sementara itu Sheila Narita mengupas mekanisme superimposition dalam Parc de la Villete karya Bernard Tschumi dan mengekplorasi mekanisme ini dengan memanfaatkan events sebagai subjek pemberi proses terhadap proses superimposition ini.

Tiga tulisan selanjutnya kami ambil dari sebuah Exhibition “Building the Elegance” di Departemen Arsitektur UI beberapa waktu yang lalu, yang merupakan pemaknaan kembali estetika melalui pembongkaran gagasan elegance dan pembentukannya. Reni Megawati mengetengahkan elegance in pixels sebagai sebuah upaya mengubah pandangan tentang keindahan dengan tidak semata-mata melihat apa yang tampak. Defi Reisna melalui pecahan gelasnya mengangkat gagasan bagaimana suatu objek tersusun dari bagian yang kecil-kecil, dan bagaimana keindahan dapat terpancarkan dari pemahaman adanya kesatuan susunan tersebut, bukan dari luarnya saja. Sekar Ayu Novitri menampilkan upaya membentuk elegance dengan menguraikan kesederhanaan menjadi kompleks – bukan sebaliknya – dan meyakini bahwa kompleksitas selalu ada dalam setiap objek yang tadinya terlihat sederhana sekalipun.

Kami berharap keenam tulisan tersebut dapat membawa inspirasi berbagai arah pencarian estetika yang mungkin kita lakukan terus-menerus dalam praktek berarsitektur kita. Sejumlah tulisan memang mencoba melihat dan menggunakan kembali gagasan dalam keseharian kita (sepakbola, air, gelas dan kupu-kupu), serta menunjukkan bahwa selalu ada peluang untuk mendefinisikan arsitektur kita tanpa terjebak pada apa yang selama ini kita lihat dan pelajari. Selamat menikmati wacana di edisi kali ini dan mereka-reka pencarian yang lain lagi.

(baca lengkap ...)
unduh pdf
02.
Out of the Box: Penjelajahan Ruang, Tipologi dan Konteks dalam Arsitektur dan Sepakbola - Ferro Yudhistira

Bagaimana sebenarnya seharusnya seorang arsitek berpikir untuk menghasilkan sebuah desain arsitektural yang baik? Pertanyaan ini mungkin akan menghasilkan ribuan jawaban yang berbeda-beda. Setiap arsitek tentunya memiliki persepsi yang berbeda-beda tentang proses desain dan memang tidak ada yang memaksa setiap arsitek untuk mengikuti atau menggunakan metoda tertentu, semua tergantung pilihan dari tiap–tiap pribadi dari arsitek. Walaupun tidak mungkin menyetarakan persepsi tentang metode dalam merancang atau mendesain, paling tidak kita bisa mencoba untuk melihat salah satu cara dalam mendesain, sehingga kita bisa melihat mengapa cara tersebut layak untuk dilakukan dan dalam kondisi apa seorang arsitek bisa melakukannya. Untuk itu pada penulisan kali ini akan coba dijabarkan alasan mengapa seorang arsitek–dalam suatu kondisi - perlu untuk berpikir out of the box.

unduh pdf
03.
Colour Blending Process: Sebuah Eksplorasi berdasarkan Gagasan Pembauran Figure-Frame dari Eisenman's Guardiola House - Mirradewi Rianty

Jika kita lihat dalam kebanyakan rancangannya, secara geometri Eisenman hampir selalu menggunakan bentuk dasar persegi namun dengan modifikasi begitu kompleks sehingga pada akhirnya bentuknya dapat dikatakan menjadi tidak biasa. Begitupula dalam rancangan Guardiola House ini. Bentukan dasar geometri rancangan ini adalah persegi dengan bentuk L yang saling bersinggungan, saling menembus, saling menjalin.

unduh pdf
04.
Superimposition of Events: Gagasan Superimposisi Berdasarkan Bernard Tschumi's Parc de la Villette - Sheila Narita

Mekanisme pembentukan geometri arsitektur yang saya eksplorasi merupakan salah satu hasil karya arsitektur Bernard Tschumi yang sangat terkenal di Paris pada tahun 1990, Parc de la Villette. Pada awalna, salah satu hal mendasar yang paling menarik perhatian saya adalah komposisi bentuk follies yang ada di lahan kosong seluas 125 hektar. Bentuk follies tersebut memiliki kesan unik dan khas tersendiri. Dia tidak memiliki kesan homogen antara yang satu dengan yang lainnya. Semua seolah tersebar di taman itu dengan bentuk yang berbeda-beda. Bagaimana cara Tschumi menghasilkan bentuk-bentuk itu? Bagaimana ia membuat bidang-bidang itu bertabrakan, bersinggungan, atau kemudian diteruskan hingga membentuk suatu yang kontinu di dalam lahan itu dan dapat dinikmati oleh berbagai event manusia dalam ruang dan waktu?

unduh pdf
05.
Elegance in Pixels: Mengubah Pandangan tentang Keindahan - Reni Megawati

Ketika befikir tentang elegance, maka yang muncul di pikiran berupa sesuatu yang indah dan mewah. Namun, saya mencoba berfikir apakah elegance dapat dibentuk melalui sesuatu yang banyak terdapat dalam kehidupan keseharian masyarakat? Apakah elegance yang terbentuk akan terlihat indah dan mewah seperti yang ada dalam pikiran?

unduh pdf
06.
Building the Elegance - Defi Reisna

Mengapa sesuatu dapat dikatakan elegan dan apa yang membentuknya sehingga kita bisa mengatakannya elegan? Terkadang kita menilai sesuatu tetapi sebenarnya kita sendiri tidak mengerti mengapa demikian. Eksplorasi Building The Elegance berikut ini mengupas proses membangun sesuatu menjadi elegan, apa yang membuat sesuatu menjadi elegan, dan bagaimana menciptakan suatu keeleganan.

unduh pdf
07.
Menguraikan Kesederhanaan Menjadi Kompleks - Sekar Ayu Novitri

Elegance merupakan salah satu bentuk dari beauty. Benarkah? Pada awalnya elegance saya definisikan sebagai sebuah rasa yang tercipta akibat melihat sesuatu, apakah itu benda atau kegiatan, yang bersifat mewah, artistik, rumit, tapi disajikan dengan sederhana. Elegance merupakan atribut yang dikenakan oleh sesuatu yang mampu memberikan solusi yang efektif pada permasalahan yang kompleks. Namun kini saya mengerti bahwa elegance bukanlah sebuah pakaian atau atribut, yang mana pengertian ini dapat dibuka dan dipakai lagi. Elegance bukan dinyatakan melalui apa yang saya lihat pada kulitnya saja, atau hanya secara visualisasinya saja. Karena apa yang menurut mata adalah elegance belum tentu benar-benar memiliki elegance. Karena elegance itu sendiri seperti sebuah sifat yang ada di dalam diri, tidak bisa dipisahkan dengan raga.

unduh pdf