Love

>> Kembali ke Volume 5 No. 2 (2011)

Yandi Andri Yatmo, Paramita Atmodiwirjo dan Andi Surya

Love” mengandung sebuah makna khusus yang sulit untuk dapat diabaikan dalam kehidupan manusia. Kehadirannya pun dapat memberikan pengaruh dalam berbagai dimensi kehidupan manusia, termasuk arsitektur. Berarsitektur merupakan sebuah perwujudan love, di mana di dalamnya terkandung passion dan desire. Pada edisi kali ini, kami berupaya untuk mengangkat berbagai dimensi yang terkait dengan love dalam berarsitektur. Lima tulisan menghadirkan gagasan passion, connection, dan composition, yang merupakan ekspansi pemahaman terhadap makna yang luas dari “love” dan peranannya dalam proses berarsitektur.

Passion seringkali menjadi latar belakang dari keberadaan loveProses berarsitektur yang sarat dengan passion mampu memicu hasrat untuk menggali pendekatan yang berbeda dalam proses berkarya. Andro Kaliandi memaparkan percobaannya yang melibatkan passionuntuk menguji metode yang dilakukan oleh Daniel Arsham tentang architecture of excavation dalam proses pembentukan ruang dengan ‘menggali’ benda padat. Obyek eksplorasi semakin menarik karena menempatkan ulat sebagai aktornya. Sedangkan eksplorasi passion lainnya ditulis oleh Klara Puspa Indrawati yang memandang breakdance sebagai perwujudan gerak tubuh manusia dalam mengeksplorasi surface secara kontinu, sebagaimana pembentukan surface dalam light graffiti. Selanjutnya gagasan ini diolah lebih jauh dengan memadukan pergerakan surface pada sebuah medium.

Tulisan selanjutnya mengangkat aspek composition sebagai proses sekaligus hasil dari keberadaan love. Ide composition yang sangat lekat dengan arsitektur kali ini ditelusuri secara kreatif oleh Mikhael Johanes melalui cara yang berbeda dan cenderung menggugah selera makan karena terkait dengan sushi. Pemahaman akan composition pada makanan khas Jepang tersebut digunakan sebagai landasan berpikir dalam proses eksplorasi tentang pembentukan ruang, yang hasilnya memberikan pola tertentu yang memperkaya penafsiran akan sebuah ruang.

Kondisi yang memungkinkan hadirnya love yakni connection tercermin dalam dua tulisan yang berupaya mengungkap connection yang ada dalam proses berarsitektur. Talisa Dwiyani mengangkat sebuah koneksi yang kompleks berkenaan dengan keadaan yang mendasar dan keadaan yang akan datang melalui eksplorasi metode arsitektur Sou Fujimoto, metode kerajinan tangan Paper Tole, serta hubungan diantara keduanya yang menghadirkan ambiguitas yang kemudian diterapkan dalam sebuah eksperimen yang menguji pemahaman kita akan inside-outside. Austronaldo F.S. mengupas koneksi yang terjadi dalam knot sebagai sebuah gagasan yang dapat melandasi metode arsitektur. Pemahaman akan koneksi ini kemudian diterjemahkan dalam sebuah permainan jari, yang selanjutnya memunculkan berbagai hal menarik yang tak terduga sepanjang permainan.

Semua tulisan dalam edisi ini pada akhirnya berupaya untuk menjadikan arsitektur memiliki elastisitas dan fleksibilitas dalam pemahamannya, yang dapat membangun pemikiran baru dalam berarsitektur. Eksplorasi yang ditampilkan juga menunjukkan bahwa dimensi personal dari love, dengan keterlibatan (engagement) personal yang kuat dapat mendasari berbagai proses pencarian metode arsitektur, yang pada akhirnya mampu menghadirkan kreativitas berarsitektur tanpa batas. Semoga edisi kali ini mampu menginsiprasi berkembangnya peranan dimensi personal dalam mewarnai praktik arsitektur layaknya love menghiasi perjalanan hidup manusia.

Write a comment