Backstage
>> Kembali ke Volume 5 No. 1 (2011)
Yandi Andri Yatmo, Paramita Atmodiwirjo dan Kristanti Dewi Paramita
Cara pandang terhadap arsitektur tidaklah semata-mata pada apa yang ada di permukaan. Arsitektur dapat kita lihat sebagai sebuah wujud dari performance, yang mana di baliknya terdapat banyak hal yang mendefinisikan kehadirannya. Pemahaman terhadap hal-hal di balik inilah, serta bagaimana hal-hal ini direpresentasikan, kami anggap menjadi penting untuk diungkap dalam perkembangan pengetahuan arsitektur. Edisi kali ini menampilkan lima tulisan yang bertujuan memahami mekanisme dibalik berbagai obyek, fenomena, kejadian dan pengalaman keruangan keseharian. Pengetahuan mekanisme ini merupakan basis penting yang dapat memicu pencarian metode kreatif dalam berarsitektur.
Nina Dwi Handayani membuka edisi ini dengan paparan eksperimen mengenai proses cinematic dalam ruang yang dilakukannya di ruas jalan Margonda, Depok. Eksperimennya ini mengungkapkan mengenai mekanisme penyampaian narasi yang terjadi di balik suatu pengalaman ruang, yang disajikan melalui buku cerita anak-anak. Pengamatan mengenai narasi ini penting untuk dilakukan dalam memahami proses pengalaman ruang yang universal bagi beragam tipe orang. Renny Melina membahas mengenai fenomena yang marak pada masa kini, yakni rumah bertinggal yang memiliki fungsi tambahan sebagai tempat bekerja. Pengamatan terhadap berbagai fenomena keseharian dalam rumah tersebut bertujuan membongkar bagaimana penghuni rumah tersebut melakukan berbagai taktik adaptasi dalam beragam bentuk dan mekanisme agar rumahnya yang juga berfungsi sebagai laundry dapat tetap menjaga privasi baik bagi keluarga dan karyawan.
Tiga tulisan selanjutnya membongkar pola dan mekanisme yang ada di balik berbagai wujud karya: batik, yoga dan kusudama. Klara Puspa Indrawati menganalisis pola-pola geometri yang terdapat pada motif kain batik cakar dari Yogyakarta untuk mendapatkan elemen-elemen dan metode yang turut membentuk keindahan batik tersebut di mata penggunanya. Talisa Dwiyani mengamati bahwa gerakan-gerakan yoga yang mengacu pada proporsi dari berbagai bentuk alam dan mampu mempengaruhi keharmonisan dan keseimbangan tubuh ketika dilakukan dengan mekanisme struktur tertentu dan pengulangan yang sesuai. Sedangkan Tri Wahyuni mengeksplorasi kusudama, suatu seni melipat jepang untuk melihat bahwa di balik upaya mencapai suatu bentuk geometri yang sederhana ternyata terdapat mekanisme pengulangan yang rumit.
Kelima tulisan tersebut mengungkapkan hasil eksplorasi yang didapat setelah menggali mekanisme yang melatarbelakangi berbagai obyek pengamatannya. Pengetahuan tersebut menjadi penting untuk mendefinisikan kembali cara pandang dalam memahami suatu fenomena dan membangun sebuah basis pengetahuan untuk memperkaya metode perancangan arsitektur.