Skype: Bintaro, Cinere dan Brisbane dalam Satu Kamar
>> Kembali ke Volume 4 No. 3 (2010)
Fauzia Evanindya
Tak dapat dipungkiri bahwa saya pribadi adalah satu dari sekian banyak manusia yang memiliki ketergantungan terhadap teknologi. Telepon genggam hampir tidak pernah lepas dari tangan saya, Facebook tidak pernah lupa saya buka setiap hari sebelum mengerjakan tugas, Twitter selalu saya periksa setiap menit, Windows Live Messenger selalu menyala sepanjang hari dan Skype selalu beroperasi setiap malam.
Selain ketergantungan terhadap teknologi tersebut, mengerjakan tugas dan tidur larut malam telah menjadi sebuah rutinitas lain saya yang berlangsung setiap hari. Kondisi tersebut terkadang tidak kondusif sebab saya menjadi satu-satunya penghuni rumah yang masih bangun pada waktu tersebut. , Rasa kantuk sering kali datang dan bahkan terkadang muncul rasa takut karena sugesti kesendirian di rumah yang sepi tersebut. Berbeda dengan teman-teman yang kos di Depok, apabila kesepian dan membutuhkan teman untuk membina suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan, saya tidak bisa mengetuk pintu kamar teman atau menginap di kamar kos teman.
Saya juga cenderung memiliki keinginan yang sangat besar untuk bertemu teman-teman SMA saya setiap hari. Seringkali, saya mudah terdistraksi untuk bertemu dan bermain bersama mereka saat hari-hari kuliah. Seiring waktu berjalan, beberapa faktor seperti kesibukan dan jarak yang meningkat membuat hal ini tidak dapat sering dilakukan. Terkadang hal ini mempengaruhi mood dan semangat saya dalam menjalani hari-hari yang didominasi oleh kegiatan kuliah dan pendidikan.
Namun beruntungnya, saya sudah memiliki solusi dari masalah tersebut dan solusi ini telah membantu saya setiap hari selama kira-kira dua tahun. Teknologi Skype telah membantu saya. Skype adalah suatu teknologi yang mengakomodasi video call, voice call dan instant messanging. Saya selalu melakukan rutinitas Skype ini bertiga bersama dua sahabat saya yang lain. Yang biasa saya dan dua teman saya manfaatkan sekaligus hanyalah fasilitas telepon biasa tanpa video, sebab fasilitas video call yang dimiliki Skype tidak dapat dilakukan oleh lebih dari dua orang sekaligus. Barulah apabila ada salah satu yang berhalangan, keduanya akan melakukan video call. Setiap hari mulai dari kira-kira pukul sepuluh malam sampai jam tiga pagi, saya mengerjakan tugas bersama dua sahabat saya lewat Skype.

Gambar 1. Skype
Menariknya, sepanjang waktu Skype, kami tidak melakukan pembicaraan layaknya pengguna Skype pada umumnya. Kami hanya duduk di kamar masing-masing, membiarkan komputer dan speaker menyala. Suara-suara yang kami dengar masing-masing hanyalah suara-suara ketikan keyboard laptop, halaman-halaman buku yang dibalik, kunyahan makanan ringan, bunyi gelas yang berdenting dan roda kursi yang menggesek lantai. Hal ini terjadi karena tidak ada hal yang dapat didiskusikan atau dibicarakan saat mengerjakan tugas, disebabkan bidang pendidikan kami bertiga yang berbeda-beda. Kedua sahabat saya kuliah di bidang psikologi dan ekonomi sedangkan saya arsitektur. Perbedaan ini cukup membantu mengurangi distraksi dalam mengerjakan tugas. Sesekali kami akan saling memeriksa apakah ada salah satu dari kami yang tertidur, dan biasanya kami akan berusaha membangunkannya apabila tugas yang sedang ia kerjakan harus dikumpulkan esok hari. Faktor kedekatan antara kami bertiga juga mempengaruhi tingkat kepercayaan. Kami mengizinkan satu sama lain mendengar atau melihat seluruh kegiatan yang dilakukan di masing-masing kamar tidur kami. Disini terjadi sebuah intimate space yang sangat dekat, antara jarak yang sangat jauh antara Bintaro, Cinere dan Brisbane, Australia.
Keberadaan suara saja ternyata dapat menghapus rasa sepi dan kesendirian. Yang menjadi pertanyaan, ,apa bedanya dengan melakukan pembicaraan lewat telepon apabila hanya mendengarkan suara saja? Saat melakukan pembicaraan di telepon, tangan kita harus bekerja juga mengenggam telepon, jadi kegiatan seperti mengerjakan tugas atau hal lain tidak dapat dilakukan sembari melakukan panggilan tersebut. Selain itu, adanya suatu benda yang harus disentuh dan digenggam untuk melakukan panggilan tersebut, mempengaruhi terjadinya bentuk sugesti yang menyadarkan keberadaan orang itu diujung telepon lain, sehingga timbul suatu kesadaran antar jarak ruang yang dialami keduanya. Tingginya tarif telepon juga menjadi faktor bahwa hal-hal yang dibicarakan di telepon seharusnya merupakan hal-hal yang memang penting untuk dibicarakan. Namun saat menggunakan Skype, kesadaran antar jarak ruang tersebut menjadi bias. Saya tidak perlu menggenggam media apapun untuk bicara dengan teman saya, dan saya tidak perlu memikirkan tarif telepon yang dapat memuncak karena panggilan ini gratis. Tidak menggenggam apapun dan tidak membayar. Tidak berbeda dengan bertemu langsung bukan?

Gambar 2.Tampilan Utama Skype
Sebuah ruang adalah tempat dimana manusia berkegiatan, sendiri ataupun bersama manusia lain. Kamar tidur, tempat dimana kami bertiga mengerjakan tugas pada malam hari, seringkali dianggap sebagai teritori ruang yang paling personal. Hanya beberapa orang yang dipercaya untuk menginjakkan kaki ke dalam ruangan tersebut. Walaupun mungkin ruangan ini bukanlah ruangan yang paling sering ditinggali, namun ruangan ini seringkali memiliki hubungan batin kenyamanan dan paling dekat dengan empunya. Ruang ini menjadi tempat menyimpan barang-barang pribadi dan melakukan beberapa hal yang bersifat pribadi juga.
Secara psikologis, saya benar-benar mengalami perasaan aman dan nyaman, bagaikan mereka ada di dalam kamar saya. Bagaimana bisa perasaan yang saya alami saat berada di suatu ruang bersama manusia lain, sama dengan apa yang saya rasakan saat sendiri di kamar yang sepi dengan suara mereka dari dalam laptop saya? Apabila begitu adanya, apakah ini berarti kualitas ruang yang berbeda dapat membentuk suatu perasaan dan suasana yang sama? Lalu sebenarnya ruang yang saya alami itu dimana? Di rumah saya yang sepi, di rumah teman saya atau di dalam ruang maya yang diciptakan oleh Skype?
Skype telah menciptakan sebuah ruang tersendiri untuk kami. Apabila diandaikan Skype sebagai arsitek dan kami kliennya, ia adalah orang yang membebaskan kami berpartisipasi penuh untuk menciptakan sendiri suasana ruang yang kami sukai dan inginkan. Berbeda dengan virtual office yang sudah memiliki bentuk dan format ruang yang dirancang pasti, Skype lebih bebas dan maya. Lebih banyak orang yang memanfaatkan Skype hanya untuk melakukan telepon gratis jarak jauh dengan rekan atau kolega yang berada di benua lain atau melakukan pembicaraan seperlunya. Namun bagi saya dan teman-teman, kami bisa menghabiskan berjam-jam hanya diam dan mendengar suara-suara yang berasal dari kegiatan pribadi kami yang dilakukan selama komputer dan Skype menyala. Rasa ini unik. Tidak seperti berada di mall atau kafe, rumah atau kamar salah satu dari kami, namun terasa lebih personal. Seperti berada di dalam kamar milik kami bertiga sekaligus. Kami memiliki sebuah ruang paling personal yang kami bagi bersama, yang hanya kami datangi saat malam hari hingga larut, dimana kami dapat melakukan kegiatan-kegiatan sesukanya seperti ada di kamar masing-masing. Tidak harus menjaga sopan santun atau sikap seperti berada di kamar orang lain. Tidak perlu khawatir kamar menjadi bau apabila teman sekamar makan indomie, tidak perlu kesal apabila teman menumpahkan segelas teh diatas lantai, tidak perlu mematikan lampu walaupun teman sekamar lebih suka berada di kamar yang gelap dan tidak perlu takut menggores lantai apabila memotong papan untuk membuat maket. Sebuah ruang kamar yang bebas dan nyaman pun tercipta dan mempengaruhi pengertian bias antara sendiri dan tidak sendiri.

Gambar 3. Apakah ini “kamar Skype” kami?
Pada suatu saat, kami membawa kamar Skype kami ke ruang nyata. Dalam suatu malam, kami bertiga, menginap di satu rumah bersama. Kegiatan yang kami lakukan persis sama. Mengerjakan tugas masing-masing sambil melakukan kegiatan sampingan kecil seperti makan makanan ringan, minum atau membaca buku. Menarik sekali merasakan bahwa apa yang saya rasakan pada malam itu di ruang nyata rumah teman saya tidak jauh berbeda dengan apa yang saya rasakan saat berada di kamar Skype yang tidak berwujud bersama mereka. Bedanya adalah saya tidak dapat membuat teh yang selalu saya seduh setiap malam karena di rumah teman saya tidak ada teh, saya juga tidak mungkin menghabiskan setoples cemilan sendiri, karena itu bukan milik saya dan saya memilih untuk tidak mengerjakan maket karena khawatir akan meninggalkan banyak sampah dan menggores permukaan lantai atau meja secara tidak sengaja. Hal-hal kecil tersebut memunculkan sugesti bahwa saya sedang berada di ruang yang bukan milik saya.

Gambar 4. Saat Kegiatan Berlangsung di Ruang yang “Nyata”
Perubahan kamar Skype yang terjadi dapat dilihat pada diagram Venn di bawah ini. Gambar sebelah kiri adalah diagram ketika kami berada pada kamar masing-masing. Terlihat bahwa kamar Skype kami terbentuk oleh perpotongan yang kami lakukan bersama terhadap fasilitas Skype. Segala aktivitas yang bersifat pribadi, seperti kebiasaan membuat teh setiap malam, saya lakukan di bagian yang tidak terpotong oleh ‘kamar’ Skype tersebut. Sedangkan gambar sebelah kanan adalah gambar ketika kami membawa ruang Skype tersebut ke ruang nyata. Saya dan teman saya kini berada di dalam kamar teman kami yang lain, dan kamar Skype kami tersebut kami lakukan pula di dalamnya. Cemilan yang tidak dapat saya habiskan dan lantai yang tidak dapat saya gores tersebut, diakibatkan karena hal-hal tersebut berada pada ruang yang bukan milik saya, namun kamar milik teman saya.

Gambar 5. Diagram Perubahan Kamar Skype Kami
Kamar Skype yang kami miliki bersama kurang lebih telah mengubah paradigma kami tentang ruang, jarak dan kebutuhan untuk bertemu tatap muka langsung. Kami tidak perlu menghabiskan uang atau bensin untuk berada di satu ruang bersama-sama. Kami dapat tetap berada di dalam kamar masing-masing di ruang paling personal yang kami miliki. Selain itu, dalam waktu yang bersamaan, kami juga berada di dalam kamar maya yang dibangun bersama sehingga kami dapat saling berbagi, merasa aman dan tidak sendiri.