Playzone
>> Kembali ke Volume 4 No. 3 (2010)
Yandi Andri Yatmo, Paramita Atmodiwirjo dan Kristanti Dewi Paramita
Playzone merupakan ranah berkembangnya taktik dan strategi keruangan. Ekspansi dari praktik bermain yang beragam dan berkembang dalam berbagai konteks mampu menjadi instrumen untuk pencarian metode berarsitektur. Pencarian metode arsitektur melalui Playzone merefleksikan upaya untuk menjadikan praktik arsitektur yang sarat dengan muatan imajinasi, kreativitas, kesenangan dan tantangan. Praktik intervensi arsitektur tidak pernah terlepas dari pencarian upaya bermanuver di antara konteks, aktor, peraturan serta sasaran, sebagaimana dalam sebuah permainan. Edisi kali ini menampilkan sejumlah tulisan yang membongkar pemahaman praktik permainan dalam berbagai konteks arsitektur.
Paparan pertama dari Kristanti Dewi Paramita merupakan suatu bentuk eksplorasi bermain dengan menggunakan bunyi dan gerak untuk menggambarkan karakter visual suatu karya desain. Eksplorasi ini dilakukan lewat pencarian: bagaimana karya-karya para star architect dapat dibunyikan? Penggunaan bunyi dan gerak memicu memicu aktivitas sensori yang berbeda dan dengan demikian memperluas cara pandang terhadap representasi arsitektur. Belonia P. Utami mencoba bermain dengan warung tegal sebagai salah satu tempat favoritnya melalui eksplorasi kulit luar dengan beragam manipulasi komposisi. Eksplorasi ini menunjukkan sebuah upaya membongkar hal-hal kecil yang sering terlewatkan namun membentuk keseharian kita.
Dua tulisan berikutnya mencoba mengamati sensasi estetika yang didapat melalui bermain. Meutia Rin Diani melihat permainan seni gerak yang apabila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari ternyata mempengaruhi manusia dalam mengalami suatu ruang dan dengan demikian mengubah estetika yang dimiliki manusia tersebut. Sedangkan Silvya Khairunnisa mencoba melakukan pencarian kembali pemahaman estetika melalui eksperimen terhadap ekspresi visual anak. Secara sederhana, gambar-gambar yang dibuat oleh anak ternyata mengungkap berbagai aspek pemahaman estetika yang penting.
Sebagai penutup, tulisan dari Fauzia Evanindya mengungkapkan tentang permainan yang dilakukannya setiap hari bersama sahabatnya, yakni memasuki kamar maya Skype, dan bagaimana kamar maya ternyata mampu memunculkan berbagai sensasi keruangan yang merupakan hasil perpotongan beragam ruang berkegiatan. Lalu apa yang terjadi saat kamar maya tersebut lalu dibawa ke ruang nyata?
Kelima tulisan tersebut mengungkapkan potensi dari playzone sebagai sebuah ranah pencarian metode arsitektur yang sangat kaya. Pemahaman terhadap permainan, pencarian taktik dan strategi di dalamnya, serta pemahaman keruangan dan estetika yang lahir dari proses pencarian ini, tentunya dapat menjadi sebuah upaya pendefinisian praktik arsitektur dengan metode perancangan yang terus berkembang. Semoga edisi kali ini dapat menginspirasi lebih banyak lagi praktik arsitektur yang bergerak dalam playzone yang terus berkembang tanpa batas.