Recomposition: Sebuah Upaya Penelaahan Transarchitecture - Marcos Novak
>> Kembali ke Volume 4 No. 1 (2010)
Meutia Rin Diani
Geometri adalah elemen yang tidak bisa dipisahkan dari arsitektur. Itu disebabkan adanya peranan geometri sebagai properti ruang, seperti yang tertera dalam kutipan berikut: “Geometry is a part of mathematics concerned with questions of size, shape, and relative position of figures and with properties of space” (www.wikipedia.org). Arsitektur juga merupakan seni penciptaan ruang. Oleh karena itu, hubungan antara arsitektur dan geometri sangat erat. Geometri memiliki kaitan sangat erat dengan bentuk bangunan-bangunan. Geometri juga tidak bisa lepas dari posisi karena posisi itu sangat penting untuk menentukan bentuk akhir. Misalkan ketika membuat kerucut, kita harus menentukan berapa tinggi puncaknya atau diameternya untuk mendapatkan bentuk kerucut yang kita inginkan. Karena bentuk kerucut beragam, tergantung tinggi dan diameternya.
Dalam perancangan arsitektur, kita selalu mencari bentuk mana yang akan diaplikasikan ke bangunan yang kita desain. Composition dapat juga menjadi salah satu cara untuk mendapatkan bentuk bangunan. Tidak hanya itu, decomposition (penguraian) dan recomposition (penyusunan ulang) juga termasuk cara penciptaan bentuk tersebut. Ini sudah menjadi hal yang umum, terutama dalam arsitektur. Namun, untuk ini, fungsi recomposition agak berbeda. Recomposition tidak berfungsi sebagai proses penciptaan bentuk tetapi proses penelaahan. Sebelumnya, saya akan menjelaskan mengenai transarchitecture terlebih dahulu.
Transarchitecture
Transarchitecture berasal dari gabungan kata transform dan architecture. Transarchitecture adalah sebuah metode perancangan arsitektur yang berbasis algoritma dan memanfaatkan kinerja komputer yang diciptakan oleh Marcos Novak. Di samping perkembangan pesat komputer dan adanya pengaruh Deconstructive yang tidak lain adalah pemberontakan terhadap aliran modernisme, faktor pemicu terciptanya transarchitecture yang terbesar adalah kekagetan Novak atas ketiadaan arsitek yang terlibat dalam penciptaan urban and architectural digital space. Padahal waktu itu urban and architectural digital space sedang berkembang sangat pesat sejak ditemukan komputer digital. Transarchitecture adalah proses transisi dari physical spaces ke virtual spaces. Transarchitecture terdiri dari enam tahapan yaitu new tectonics, rapid prototyping, intelligent space, nonlocal domain, pantopicon, dan liquid architecture. Tahapan –tahapan ini sesungguhnya adalah rangkaian proses yang terjadi di dalam komputer. Untuk lebih jelas, saya memberi contoh sebagai berikut:

Gambar 1.Langkah 1– Langkah-langkah ini mengadopsi penjelasan Novak yang tertera di www.zarkos.com dengan memanfaatkan gambar-gambar. Langkah pertama merupakan tahapan new tectonic di mana terjadi pemasukan data ke dalam komputer. Sesungguhnya di dalam komputer, data itu akan diubah menjadi deretan angka 0 dan 1 untuk disimpan di dalam memori. Dalam hal ini, gambar di samping dapat dianggap sebagai terjemahan data tersebut (spatialization of information).

Gambar 2.Langkah 2–Gambar berikutnya adalah komposisi baru (bentuk baru data) yang dihasilkan dari superimposition, masking, filtering, computation, scanning atau sampling. Saat ini pola-pola yang terkandung masih belum jelas tetapi sudah mulai terkuak.

Gambar 3.Langkah 3– Latar belakang yang berwarna-warna yang berisi pola-pola dari data itu kemudian di-merge dengan scanned data sehingga memperlihatkan pola yang tersembunyi dari gambar itu (makin jelas polanya). Langkah 2 dan 3 inilah disebut rapid prototyping.

Gambar 4.Langkah 4– Selanjutnya terjadi pemodfikasian gambar tersebut sesuka hati sang perancang untuk menimbulkan arti baru dari data-data tersebut. Tahapan ini dinamai nonlocal public domain.

Gambar 5. Langkah 5– Hasil dari rapid prototyping kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk tiga dimensi di dalam intelligent space. Dalam hal ini, algorithm berperan penting. Algorithm adalah suatu cara mentransisikan dari bentuk data ke bentuk tiga dimensi. Algorithm ini diciptakan oleh Novak sendiri sehingga agak berbeda dengan algorithm lainnya. Bentuk itu berubah-ubah selaras dengan proses –proses yang terjadi pada tahapan rapid prototyping. Dari situ kita bisa melihat pola-pola yang tersembunyi di dalam data secara spasial, temporal, and kontekstual.

Gambar 6. Langkah 6– Gambar di samping merupakan hasil setelah dimodifikasi sehendak hati. Akibatnya timbul bentuk baru yang juga berarti artian baru dari data itu. Ini juga merupakan hasil terjemahan dari hasil langkah 4.

Gambar 7. Langkah 7– Selanjutnya terjadi proses visualisasi pada layar komputer untuk memberi perspektif baru dengan memberi latar belakang atau mengorbitnya.

Gambar 8. Langkah 8– Bentuk akhir ini bisa disebut liquid architecture.
Voice3=4Maze.Blue juga dibuat dengan enam tahapan transarchitecture ini. Voice 3=4Maze.Blue memanfaatkan musik sebagai sumber data. Musik diubah menjadi bentuk baru data (deretan angka 0 dan 1) yang tersimpan di dalam memory. Ini kemudian akan diolah dengan cara computation, scanning and sampling untuk memunculkan pola yang terkandung dalam musik itu. Bentuk baru pola ini kemudian disebut potential archimusic. Potential archimusic ini berbentuk garis kontur berdimensi tiga. Garis kontur ini akan dirangkai membentuk menciptakan surface. Surface ini merupakan parameter yang akan bentuk akhir yang terlihat pada layer komputer. Bentuk surface ini berbeda-beda tergantung kecepatan gerak gelombang elektromagnetik yang merupakan hasil terjemahahan pola-pola musik dari sumber data (Novak, 1994). Selanjutnya terjadi proses nonlocal domain dan pantopicon, sehingga terbentuk liquid arcitecture seperti yang terlihat pada gambar berikutnya.

Gambar 9. Proses komputerisasi (transarchitecture) Voice3=4Maze.Blue

Gambar 10. Voice3=4Maze. Blue
Eksplorasi
Dari langkah-langkah tersebut, secara garis besar, saya melihat dua tahapan yang cukup signifikan yaitu penerjemahan data dari bentuk aslinya ke dalam bentuk baru yaitu tiga dimensi dan pemodifikasian. Proses yang terlibat dalam tahapan pertama adalah new tectonic, rapid prototyping dan intelligent space. Tahapan kedua adalah modifikasi bebas guna menghasilkan bentuk baru. Pemodifikasian itu dapat berupa pengurangan, penambahan, penggandaan, pemberian warna atau lainnya. Pada tahapan ini terjadi langkah nonlocal domain dan pantopicon.
Tahapan yang ingin saya eksplorasi adalah tahapan pertama. Alasannya, pada tahapan ini, inti (pola) dari sumber data masih terjaga. Berbeda dengan dengan tahapan kedua yang pola sesungguhnya telah berubah akibat pemodifikasian.
Dari tahapan pertama, saya melihat adanya recomposition. Recomposition bertujuan membongkar data untuk mengetahui pola sesungguhnya dari data ini. Recomposition imengakibatkan terbentuknya komposisi baru. Komposisi baru inilah yang kemudian dianggap sebagai ‘pola sesungguhnya’ yang sebenarnya merupakan interpretasi dari pola yang ditemukan dari data tersebut setelah melalui proses pengolahan. Recomposition ini tidak sama dengan decomposition, dimana recomposition tetap memperhatikan posisinya sedangkan decomposition tidak memedulikannya.
Untuk mengeksplorasikannya, saya menggunakan model kotak yang terbuat dari empat lapisan bitmer. Secara kasat mata, kotak ini memang berlapis empat. Tetapi apakah itu sesungguhnya? Oleh sebab itu, kotak ini perlu ditelaah untuk mengetahui bahwa ia benar-benar terdiri dari empat lapisan.
Sebelumnya, saya membuat algorithm terlebih dahulu sebelum melakukan langkah-langkah yang tersebut di atas. Karena dalam transarchitecture, recomposition bekerja berdasarkan algorithm ciptaan Novak. Walaupun bentuk algorithm ciptaan saya berupa tulisan dan berbeda dengan ciptaan Novak (berupa deretan angka 0 dan 1), prinsipnya tetap sama yaitu prinsip jika… maka…
Berikut adalah algorithm-nya:
1. Jika bergerak ke utara tanpa rintangan (lancar), maka berilah tekanan lurus ke atas
2. Jika bergerak ke utara dan terjebak dalam kemacetan (harus berjalan tersendat-sendat), maka berilah tekanan secara zigzag ke atas.
3. Jika bergerak ke utara, dan harus melewati rintangan sulit seperti meloncati dinding atau lainnya, maka berilah tekanan secara acak ke atas.
4. Jika bergerak ke selatan tanpa rintangan (lancar), maka berilah tekanan lurus ke bawah.
5. Jika bergerak ke selatan dan terjebak dalam kemacetan (harus berjalan tersendat-sendat), maka berilah tekanan secara zigzag ke bawah.
6. Jika bergerak ke selatan, dan harus melewati rintangan sulit seperti meloncati dinding atau lainnya , maka berilah tekanan secara acak ke bawah.
7. Jika bergerak ke barat tanpa rintangan (lancar), maka buatlah gerakan memutar 45 searah jarum jam secara mendatar.
8. Jika bergerak ke barat dan terjebak dalam kemacetan (harus berjalan tersendat-sendat), maka buatlah gerakan mendatar dan zigzag sambil berputar45 searah jarum jam.
9. Jika bergerak ke barat dan harus melewati rintangan sulit seperti meloncati dinding atau lainnya, maka buatlah gerakan acak sambil berputar 45 searah jarum jam dan mendatar.
10. Jika bergerak ke timur tanpa rintangan (lancar), maka buatlah gerakan berputar 45 berlawanan arah jarum jam secara mendatar.
11. Jika bergerak ke timur dan terjebak dalam kemacetan (harus berjalan tersendat-sendat), maka buatlah gerakan mendatar dan zigzag sambil berputar 45 berlawanan arah jarum jam.
12. Jika bergerak ke timur dan harus melewati rintangan sulit seperti meloncati dinding atau lainnya, maka buatlah gerakan acak sambil berputar 45 berlawanan arah jarum jam dan mendatar.
13. Jika bergerak ke timur laut tanpa rintangan (lancar), maka berilah tekanan mendiagonal secara lurus ke kanan atas.
14. Jika bergerak ke timur laut dan terjebak dalam kemacetan (harus berjalan tersendat-sendat), maka berilah tekanan zigzag mendiagonal ke kanan atas. 15. Jika bergerak ke timur laut dan harus melewati rintangan sulit seperti meloncati dinding atau lainnya, berilah tekanan acak ke kanan atas.
16. Jika bergerak ke tenggara tanpa rintangan (lancar), maka berilah tekanan mendiagonal secara lurus ke kanan bawah.
17. Jika bergerak ke tenggara dan terjebak dalam kemacetan (harus berjalan tersendat-sendat), maka berilah tekanan zigzag mendiagonal ke kanan bawah. 18. Jika bergerak ke tenggara dan harus melewati rintangan sulit seperti meloncati dinding atau lainnya, berilah tekanan acak ke kanan bawah.
19. Jika bergerak ke barat daya tanpa rintangan (lancar), maka berilah tekanan mendiagonal secara lurus ke kiri bawah.
20. Jika bergerak ke barat daya dan terjebak dalam kemacetan (harus berjalan tersendat-sendat), maka berilah tekanan zigzag mendiagonal ke kiri bawah. 21. Jika bergerak ke barat daya dan harus melewati rintangan sulit seperti meloncati dinding atau lainnya, berilah tekanan acak ke kiri bawah.
22. Jika bergerak ke barat laut tanpa rintangan (lancar), maka berilah tekanan mendiagonal secara lurus ke kiri atas.
23. Jika bergerak ke barat laut dan terjebak dalam kemacetan (harus berjalan tersendat-sendat), maka berilah tekanan zigzag mendiagonal ke kiri atas.
24. Jika bergerak ke barat laut dan harus melewati rintangan sulit seperti meloncati dinding atau lainnya, berilah tekanan acak ke kiri atas.
25. Setiap gerakan hanya berlaku untuk jumlah himpunan tertentu bergantung jarak yang ditempuh.
Saya sengaja tidak memakai penambahan, pelipatgandaan atau penggurangan bagian karena dalam recomposition tidak ada proses seperti itu. Kalau ada, maka itu akan menyamarkan pola sebenarnya. Dalam recomposition, proses yang ada adalah penggeseran dan peputaran. Gerakan ini takkan menghilangkan pola sesungguhnya hanya membongkar data.
Selanjutnya saya mengambil pola jalan fiktif yang ditempuh oleh mahasiswa bernama Culun dari rumahnya ke Universitasi Mulut Sakti dengan motor sebagai sumber data. Alasannya setiap kali kita menuju ke suatu tempat, tidak peduli dalam keadaan terburu-buru atau santai, kita seringkali tidak menyadari pola apa yang sesungguhnya. Ini juga dialami Culun. Untuk mengetahui pola perjalanan, kita harus menelaahnya melalui peta. Pada waktu bersamaan, terjadi perubahan bentuk kotak sesuai dengan algorithm yang berlaku. Berikut adalah proses eksplorasi yang saya lakukan:

Gambar 12. Tahap-tahap Eksplorasi
Langkah 1. Pada mulanya dilakukan pemetaan letak Uiversitas Mulut Sakti dan rumah Culun. Gambar itu kemudian diintepreasikan menjadi bentuk tiga dimensi. Anggaplah ini sebagai kotak yang berlapis-lapis sebagai sumber data yang hendak dibongkar.
Langkah 2 . Kemudian Culun bergerak ke utara dengan lancar. Panjang jalan yang diempuh adalah 4 empat garis. Oleh karena itu jumlah himpunan yang harus didorong ke atas adalah 4 buah. Karena ini merupakan eksplorasi cara kerja komputer (filtering) maka himpunan ini dibuat berdasarkan kesamaan anggota-anggotanya. Filtering di dalam komputer umumnya bekerja berdasarkan kesamaan yang terkandung dalam pola data itu. Himpuan itu bisa saja berisi kotak-kotak persegi atau lainnya. Empat himpunan itu ditekan sehingga terlihat bertingkat untuk memperlihatkan pola ’sebenarnya”.
Langkah 3. Selanjutnya karena Culun berbelok ke barat dan panjangnya tiga garis maka tiga himpunan diputar 45 derajat searah jarum jam. Awalnya seluruh himpunan diputar 45 derajat karena pondasinya berputar. Setelah itu, himpunan di tingkat berikutnya diputar 45 derajat. Himpunan di atasnya juga ikut berputar karena ber’pondasi’ pada himpunan di bawahnya. Sesudah itu ,himpunan terakhir diputar 45 derajat juga. Dari situ, terlihat ada tiga kotak yang berongga.
Langkah 4. Culun bergerak lagi ke selatan. Kondisi jalannya lancar. Oleh sebab itu, satu himpunan ditekan ke bawah. Akibatnya, terlihat bahwa ada tambahan satu kotak berongga.
Langkah 5. Culun berbelok ke barat dan panjangnya lima garis. Itu berarti ada lima himpunan yang harus diputar sebanyak 45 derajat. Sama seperti langkah 2, benda ini diputar bertahap-tahap dari bawah ke atas. Ketika tidak ada himpunan lagi di atasnya, maka himpunan lain di bawahnya diputar lagi. Ini berlanjut hingga ke atas sampai jumlah lima himpunan yang diputar terpenuhi.
Langkah 6. Kali ini Culun bergerak ke utara dengan jarak dua garis sehingga dua himpunan ditekan ke atas.
Langkah 7. Karena Culun bergerak ke timur laut sejauh tiga garis maka tiga himpunan harus didorong ke kanan atas.
Langkah 8. Terakhir, karena waktu untuk mencapai Universitas Mulut Sakti tinggal lima menit sebelum kuliah dimulai, Culun harus menerobos hutan ke arah barat laut agar tidak terlambat. Jarak yang ditempuh adalah empat garis. Perjalanan di dalam hutan itu sangat sulit karena harus melewati ranting-ranting. Itu sebabnya ada empat himpunan ditekan secara acak. Tetapi arahnya tetap relatif menuju ke kiri atas.
Karena pola jalannya telah berakhir, maka proses recomposition berhenti. Dari proses itu, kita menjadi tahu bahwa kotak itu tidak terdiri empat lapisan. Itu hanya fasad. Sesungguhnya kotak itu terdiri dari sepuluh bangun dengan bermacam-macam seperti yang tampak pada gambar di atasnya. Mungkin sebenarnya kotak ini terdiri lebih dari sepuluh bangun. Namun,karena tidak ada perubahan lagi maka bentuk akhirnya dianggap pola sesungguhnya.
Kesimpulan
Dari uraian di atasnya, diketahui inti dari proses recomposition adalah mendapatkan pola sebenarnya. Oleh karena itu, setiap kali benda itu ditata ulang harus selalu muncul pengetahuan baru. Sebab semakin dalam penelaahannya, maka akan semakin banyak pengetahuan baru yang diperoleh. Dari pengetahuan baru itu, kita bisa tahu pola yang sesungguhnya. Pola sesungguhnya itu didapatkan setelah melakukan proses akhir. Bentuk akhir dari proses itu kemudian yang dianggap sebagai pola sesungguhnya.
Reference
Martin, Elizabeth et.al. (1994). Architecture as a Translation of Music. New York : Princenton Architectural Press.
Spiller, Neil. (2007). Visionary Architecture, Blueprints of the Modern Imagination. New York: Tames & Hudson.
http://en.wikipedia.org/
http://iaac-reading.wikidot.com/
http://www.asa-act.com/
http://www.evokestudio8.com/
http://www.kmtspace.com/
http://www.zarkos.com/