Reabstraction: Mengembalikan Penyederhanaan Bentuk Geometri Seperti Keadaan Semula

>> Kembali ke Volume 4 No. 1 (2010)

Defi Reisna

Bila membicarakan arsitektur bangunan, terlihat suatu perpaduan antara seni dan teknologi. Unsur seni dalam arsitektur kadang memegang peranan yang lebih dominan daripada teknologi itu sendiri, karena membentuk keindahan dalam suatu bentuk arsitektur. Unsur apa yang sebenarnya terkandung dalam seni yang kita gunakan sebagai acuan bahwa seni tertentu dapat dikatakan memiliki keindahan atau menarik? Apabila dikaitkan dengan geometri maka pada umumnya kita memiliki kecenderungan untuk mencari suatu komposisi dan proporsi yang baik. Plato menyatakan bahwa “The good is always beautiful and the beautiful never lacks propotion” , sehingga dapat terlihat betapa pentingnya sebuah proporsi untuk menciptakan suatu keindahan. Bertolak dari konsep komposisi dan proporsi tersebut, maka saya ingin membahasnya dari sebuah karya lukisan. Menurut saya lukisan merupakan suatu cara kita untuk menuangkan proporsi dan komposisi secara 2 dimensi yang kemudian dapat diaplikasikan ke dalam bentuk 3 dimensi.

Pieter Cornelis (Piet) Mondrian adalah seorang pelukis kelahiran Belanda yang juga merupakan pelopor dari bentuk abstraksi geometri. Melihat sederetan karya-karya Mondrian ada hal yang menjadikannya sebagai ciri khas yakni garis-garis vertical dan horizontal juga penggunaan warna warna dasar seperti merah, kuning, biru dan juga hitam dan putih. Sekilas kita melihatnya adalah suatu komposisi garis dan warna yang sederhana. Dalam menghasilkan karya-karyanya Mondrian memandang bahwa segala sesuatu yang dilihat manusia adalah semu (tidak nyata, bayang-bayang) karena sebenarnya yang diterima dari apa yang dilihatnya berasal dari dalam diri suatu individu, selain dari itu semua keindahan dan kecantikan adalah suatu ketidakbenaran.

Dari sudut pandang tersebut, Mondrian yang merupakan penggagas dari pergerakan artistik De Stijl mencoba untuk menyederhanakan komposisi visual secara vertikal dan horizontal dengan menghilangkan garis lengkung yang kemudian dikenal dengan aliran neo-plasticism. Melihat bahwa dalam suatu desain dapat dibentuk dari penggabungan beberapa garis lurus. Mencoba melihat secara apa adanya, tidak ada ilustrasi ataupun representasi. Dan disini saya melihat bahwa apa yang dilukiskan oleh Mondrian dimulai dari sesuatu yang dasar, sesuatu yang sederhana namun dengan permainan komposisi dan proporsinya ia dapat membentuk sesuatu yang menarik sebagaimana yang dinyatakan oleh Mondrian,
“…Nature (or, that which I see) inspires me, puts me, as with any painter, in an emotional state so that an urge comes about to make something, but I want to come as close as possible to the truth and abstract everything from that, until I reach the foundation (still just an external foundation!) of things… I believe it is possible that, through horizontal and vertical lines constructed with awareness, but not with calculation, led by high intuition, and brought to harmony and rhythm, these basic forms of beauty….” (Mondrian, 1914)

Apa yang dilihat oleh Mondrian dan yang menginspirasikannya di alam tidak dituangkan secara langsung begitu saja. Tetapi ia mencoba untuk melihat lebih dekat dengan kebenaran dan segala sesuatu yang abstrak sampai ia menemukan dasar dari sesuatu tersebut. Yang kemudian lewat garis vertikal dan horizontal direkonstruksikan dengan kesadaran dan intuisi yang tinggi hingga kemudian dapat membentuk sebuah harmoni dan ritme yang menjadi bentuk dasar keindahan/kecantikan. Sehingga pada dasarnya apa yang dilakukan oleh Mondrian adalah mencoba untuk menerjemahkan apa yang dilihatnya dengan berusaha menyederhanakannya kembali dan mencari abstraksinya.

Kriteria umum tentang estetik yang dibuat oleh beberapa anggota penemu De Stijl antara lain terdiri dari bentuk restricted ke rectangle, membatasi warna dengan hanya menggunakan warna-warna primer seperti (merah, kuning, biru) dan warna-warna seperti hitam, putih dan abu-abu serta bentuk komposisi dari perpendicular planes menjadi bentuk yang asimetris. Semua hal tersebut adalah suatu bentuk upaya penyederhanaan dan mengembalikan sesuatu ke kondisi sebelum mendapatkan campur tangan atau kondisi sebenarnya yang masih murni.

Pendekatan terhadap penyederhanaan menuju kenyataan yang murni tersebut akan membentuk tarikan garis vertikal dan horizontal yang saling melewati membentuk bidang yang tidak asimetris. Tarikan garis ini tersusun menggambarkan apa yang terinspirasi dari alam atau apa yang dilihatnya. Asimetris di sini tidak hanya kita lihat dari komposisi garis vertikal dan horizontalnya, tetapi bagaimana Mondrian memadukan warna-warna dasar dengan tidak saling berhimpit, kalaupun berhimpit ia akan menegaskan pemisahannya dengan garis yang berwarna tegas(hitam/abu-abu). Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya pada umunya sesuatu yang simetris itu telah mendapat campur tangan, telah mendapat pengaturan, sedangkan sesuatu yang asimetris, yang abstrak adalah sesuatu yang sebenarnya, yang asli.

1
Gbr 1. Penegasan pemisahan warna yang sama yang saling berhimpit/bersebelahan
2
Gbr 2. Komposisi warna yang berbeda dengan menghindari warna yang sama saling berhimpit

Piet Mondrian menyederhanakan dan mencari abstraksi dari sesuatu yang dilihatnya. Garis vertikal dan horizontal juga kotak dan warna-warna dasar menjadi hasil yang selalu dituangkan oleh Mondrian dalam setiap lukisannya. Saya mencoba untuk melihat kembali dan mengamati seberapa jauh garis vertikal dan horizontal itu mampu menjadi terjemahan dari suatu benda dan abstraksinya. Mungkinkah apabila saya melakukan hal yang sama namun hasil yang keluar bukanlah garis-garis vertikal atau horizontal atau kotak-kotak. Bagaimana jika garis-garis vertikal dan horizontal yang menjadi hasil dari pengabstraksian dapat menjadi objek yang diabstraksikan kembali?

Sesuatu yang kita lihat itu mungkin saja berbentuk tidak lurus seperti yang tergambarkan dengan garis vertikal dan horizontal saat telah disederhanakan. Saya ingin mencoba mengabstraksikan apa yang telah diabstraksikan Mondrian hingga kembali pada apa yang langsung tertangkap oleh mata. Melihat sesuatu yang memang telah mendapat campur tangan warna/bentuk,tanpa menyederhanakannya kembali secara vertikal maupun horizontal karena justru sebaliknya garis-garis vertikal dan horizontal tersebut seperti telah mendapatkan dorongan gaya dari luar sehingga tidak lagi menjadi garis lurus.

Mondrian berusaha melihat sesuatu secara apa adanya, yakni sesuatu yang indah itu telah mendapat campur tangan bentuk dan warna sehingga bukan lagi menjadi sesuatu yang murni. Selain itu berdasarkan pada pemikirannya, desain adalah penggabungan dari garis lurus. Di sini saya juga ingin melihat secara apa adanya. Apa yang langsung terbentuk dalam pikiran saya ketika saya melihat komposisi kotak dan garis-garis pada karya Mondrian. Sehingga disini yang terjadi adalah pengulangan proses terhadap hasil penerjemahan.

3-41
Gbr 3. Pengulangan proses penerjemahan

Di sini saya mengambil salah satu contoh karya Mondrian. Sebuah susunan garis-garis vertikal dan horizontal yang membentuk komposisi dan dimensi kotak yang berbeda-beda dengan sedikit penambahan warna dasar. Namun pada karya ini yang saya lebih tekankan adalah pada komposisi kotak-kotaknya yang terbentuk dari garis-garis. Melihat dan menemukan alur dari dasar pembentukannya sesederhana mungkin dan kemudian saling dikaitkan sehingga tercipta sebuah bentuk. Beberapa tahap dilakukan untuk memperoleh penyederhanaan dan pengabstraksiannya kembali.

Tahap penyederhanaan adalah ketika saya mencoba untuk melihatnya secara umum sesuai dengan yang langsung tertangkap mata. Sedangkan tahap pengabstraksian adalah ketika apa yang telah disederhanakan dicari unsur-unsur dasar pembentuknya. Pada tahap dibawah ini, tahap 1 dan 2 memperlihatkan proses penyederhanaan sedangkan tahap 3, 4, 5 dan 6 adalah proses pengabstraksian.

4
Gbr 4. Tahap 1–Unsur-unsur warna yang tidak terlalu dominan dibandingkan dengan kotak-kotak yang terbentuk oleh garis.

51
Gbr 5. Tahap 2–Menghilangkan unsur warna sehingga dapat lebih terfokus pada komposisi kotak-kotaknya saja. Dan melihat mana unsur garis yang terlihat dominan dengan melihat sekilas ketebalan garis yang tertangkap mata. Dari pengamatan tarikan garis-garis kemudian kita akan menangkap komposisi kotak yang terbentuk.

61
Gbr 6. Tahap 3–Menandai bagian garis dan komposisi kotak yang terlihat membentuk suatu dominasi dan peletakkan tersendiri. Sehingga tertangkap oleh pikiran kita suatu komposisi dominan.

71
Gbr 7. Tahap 4–Setelah menandai mana unsur kotak yang dominan, berikutnya adalah memberi batasan terhadap komposisinya. Pemberian batasan ini adalah untuk mengetahui nantinya dimensi dan proporsi dari benda yang terbentuk oleh garis-garis tersebut.

Dari pengamatan terhadap garis dan komposisi kotak yang kemudian saya coba untuk mencari dominasi dan penyederhanaannya, terbentuk suatu komposisi dan proporsi baru Dari komposisi tersebut, saya mencari kemungkinan-kemungkinan sesuatu yang terabstraksi sehingga menjadi demikian. Apa yang telah terabstraksi sehingga tergambarkan dengan tarikan garis-garis vertikal dan horizontal yang seperti dikembalikan menjadi bentuk awalnya, ketika sesuatu itu telah mendapat campur tangan bentuk.

8-1
Gbr 8. Diagram perubahan garis akibat gaya

9-1
Gbr 9. Tahap 5a–Apabila garis-garis vertikal dan horizontal dari komposisi dan proporsi yang telah disederhanakan tersebut diberi dorongan pada bagian tertentu, maka akan kita dapatkan bahwasanya garis tersebut menjadi suatu garis lengkung yang membentuk mengikuti alur benda menyesuaikan dengan komposisi dan proporsi garis yang telah disederhanakan pada tahap reabstraksi ini.

102
Gbr 10. Tahap 5b–Setelah memberi dorongan gaya tersebut, saya mencoba untuk memasukkan suatu benda dengan menyesuaikannya terhadap komposisi dan proporsi kotak-kotak garis. Memasukkan sendok dan garpu pada bagian kedua sisi dengan pertimbangan bahwa sisi kiri yang terisi sendok memiliki dimensi yang lebih besar dibanding sisi kanan. Sendok yang memiliki bagian cembung di ujung atasnya mengisi sisi bagian kiri, sedangkan garpu yang memiliki bentuk lebih ramping diletakkan di sisi kanan yang berdimensi lebih kecil. Untuk bagian bawahnya, saya meletakkan sebuah gelas kecil. Pada bagian ini kita melihat dimensi yang sedikit memanjang ke bagian bawah, hal ini kemudian saya isi dengan bayangan dari gelas tersebut.

112
Gbr 11. 5c–Pada bagian tengah ini, saya mengisinya dengan suatu benda berbentuk persegi empat. Pertimbangan dari pemilihan benda yang mengisi bagian ini adalah bagaimana benda tersebut terlihat mendominasi dibanding benda-benda yang ada disekitarnya. Maka dari itu benda yang saya pilih disini adalah sebuah tempat makan dimana tutupnya memiliki suatu permukaan datar segi empat, tanpa tambahan apapun sehingga permukaan dari tutup ini terlihat luas.

122
Gbr 12. 5d–Setelah mencoba untuk memasukkan benda dan menyesuaikannya dengan masing-masing kotak, maka tahap terakhir adalah mengkomposisikan keseluruhan benda-benda tersebut. Dan yang kita dapatkan adalah sebuah komposisi utuh. Sebuah kesatuan dari peralatan makan yang tersusun pada letaknya masing-masing.

Pada akhirnya yang terbentuk tidak selalu merupakan sebuah benda-benda yang memiliki outline garis-garis lurus atau vertikal horizontal seperti yang terjadi setelah penyederhanaan sebelumnya. Di sini kita melihat bahwa garis-garis itu ternyata bisa menjadi sebuah penggambaran dari bentuk-bentuk tertentu yang tidak selalu garis lurus juga. Dan kita dapat merepresentasikannya dengan benda apa saja, banyak kemungkinan-kemungkinan yang dapat kita ambil. Tergantung pula dimana kita memberikan dorongan/gaya tersebut yang nantinya akan mempengaruhi kemungkinan benda yang terbentuk.

Mondrian menyatakan bahwasanya segala sesuatu yang indah begitu juga yang simetri adalah bukan kenyataan yang murni karena telah mendapatkan campur tangan bentuk. Dari eksperimen yang saya lakukan proses pengabstraksian kembali itu adalah pengembalian terhadap pendekatan kondisi dari apa yang sebelumnya diabstraksikan. Dari komposisi dan proporsi garis serta kotak-kotak asimetris menjadi suatu komposisi bentuk yang dinyatakan oleh Mondrian telah mendapatkan campur tangan bentuk, yakni susunan sendok dan garpu pada kedua sisi dari tempat makan yang mengandung kesimetrisan yang sesuai.

Reference

The Art House Children’s Art Gallery. 2008. A Piet Mondrian Inspired Lesson Plan For Geometry & Math!.

Calter, Paul. (1998). Early Twentieth Geometry Century “De Stijl & Mondrian (1872-1944)”.

KK. (2007). Piet Mondrian dan Arsitektur.

(2009). Piet Mondrian: Composition II in Red, Blue, and Yellow, 1930.

http://en.wikipedia.org/wiki/Piet_Mondrian