Imaginary Space: Re-reading Tadao Ando’s Church of Light
>> Kembali ke Volume 4 No. 1 (2010)
Ranny Monita
Tadao Ando merupakan salah satu arsitek terkenal yang berasal dari negeri sakura. Tidak seperti arsitek pada umumnya, Ando tidak melalui pendidikan formal di bidang arsitektur. Dengan gaya belajarnya yang tidak biasa, ia mempelajari arsitektur dengan mendatanginya dan membaca buku-buku tentang tempat yang ia kunjungi tersebut. Salah satu hal yang memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap karya-karyanya adalah pencitraannya terhadap Pantheon saat ia melakukan perjalanan/Tur Amerika-Eropa-Afrika. Selain itu, Ando juga sangat terinspirasi oleh “Enso” (suatu lingkaran misterius yang sering dibuat oleh para pendeta Buddha). Hal ini terlihat dari karya-karya nya yang membuktikan bahwa suatu bentuk yang sederhana seiring dengan unsur cahaya dan material bisa membuat sesuatu yang “sangat” meruang.
Terlihat jelas dari kebanyakan karya-karya Ando yang banyak bermain dengan material-material modern seperti beton ekspos, kaca, metal serta terdapat banyaknya unsur cahaya, air, angin yang dapat ditemukan di bangunan-bangunannya. Untuk itu, suatu eksperimen mengalami ruang menjadi sangat penting untuk mengerti karya-karya beliau tersebut. Karya-karya Ando juga dikenal dengan bentuk-bentuknya yang sederhana dan sangat modern, salah satunya yang cukup terkenal dan termasuk yang cukup sederhana adalah Church of Light. Gereja ini didirikan di suatu pemukiman di kota Ibaraki, Osaka oleh organisasi Japan United Church of Christ. Terkait dengan masalah finansial dari organisasi tersebut, menjadi tantangan tersendiri bagi Ando untuk membangun suatu gereja yang sederhana namun tetap memberikan kualitas ruang spiritual yang begitu berkesan.
Bentuk geometrinya sendiri terdiri dari satu box yang dilintasi oleh suatu dinding diagonal. Dinding diagonal ini berfungsi sebagai pembatas antara bangunan gereja dengan akses masuk menuju ke dalam ruang. Pada saat melewati jalan ini, pengunjung seperti diberi waktu untuk menenangkan diri dan bersiap-siap sebelum melakukan kegiatan suci [berinteraksi dengan Tuhan]. Oleh karena itu ruang ini bersifat sebagai ruang transisi antara ruang publik yang ada di luar gereja dengan ruang privat [ruang chapel di dalam gereja]. Selain itu, dinding yang terbuat dari beton ekspos tersebut menutupi pandangan ke ruang yang ada di dalam sehingga memberi kesan misterius pada penggambaran ruang yang di dalam. Hal ini memberi kesan seolah-olah Ando ingin para pengunjung yang datang terfokus ke dalam perasaan khidmat.


Gambar 1. Akses menuju ruang gereja.

Gambar 2. Elevation
Lantai dan bangku-bangku gereja pada ruang dalamnya disusun menurun ke bawah. Hal ini menyimbolkan filosofi komunitas, “Jesus Christ, who came down to the lowest of us all”. Permainan level tanah ini juga memberi kesan megah dan luas pada ruang chapel tersebut.
Pada interiornya, Ando menghadirkan suasana hening dan suram dengan menggunakan material scaffolding berwarna gelap untuk lantai dan bangku-bangkunya serta beton ekspos untuk dinding-dindingnya. Material ini berfungsi sebagai latar dari cahaya berbentuk salib yang ingin diekspos oleh Ando. Sehingga dengan pemakaian material yang gelap dan memantulkan sangat sedikit cahaya, timbullah permainan cahaya terang dan gelap pada ruang kapel tersebut. Dengan begitu kualitas ruang pun sepenuhnya ditentukan oleh intensitas cahaya yang masuk ke ruang tersebut. Karena kegiatan misa dilakukan setiap hari minggu pukul 10.30 pagi hari, maka ruang kapel ini dihadapkan menghadap ke timur atau berorientasi ke arah matahari dengan posisi dan bukaan dimensi tertentu sehingga dihasilkan intensitas cahaya yang dinginkan oleh sang arsitek.


Gambar 3. Studi tentang pencahayaan

Gambar 4.Aplikasi pencahayaan pada ruang dalam bangunan
Adanya kesan megah dari permainan level tanah, serta kesan suci dan agung dari cahaya altar, menghasilkan suatu kekhidmatan sendiri, seolah-olah seperti menjadi puncak atau klimaks dari perjalanan ruang tersebut.
“I have always used natural materials in those parts of a building that come into contact with the human hand or foot because I am convinced that substances such as wood and concrete are invaluable materials for architecture and that one becomes aware of the true quality of architecture through the body.” (Tadao Ando, www.ando.tableseven.org)
Dari kutipan di atas, saya mulai menelaah filosofi Ando yang mengagung-agungkan akan suatu arsitektur yang sesungguhnya yaitu merupakan arsitektur yang berinteraksi langsung secara fisik dengan badan manusia yang merasakannya. Seperti yang kita ketahui, tubuh manusia memiliki 5 panca indera dengan fungsi “merasakan” yang berbeda-beda. Seperti mata yang berfungsi dalam memberi gambaran visual, telinga memberi gambaran melalui suara, dan seterusnya. Untuk itu, panca indera merupakan alat vital yang ada pada manusia untuk merasakan.
Pada bangunan Church of Light, saya mencoba mendefinisikan apa saja yang ditangkap panca indra kita saat berjalan melintasi ruang-ruangannya (berdasarkan video yang saya saksikan di www.ando.tableseven.org).

Gambar 5. Transisi sekuens ruang
Dari tabel di atas, terlihat bahwa pengalaman dan perasaan yang ditimbulkan oleh tiap ruang memiliki dampak yang berbeda-beda bagi tiap panca indra. Kemudian saya mencoba melihat ruang-ruang tersebut dari indikator yang berbeda. Seperti dari sifat publik dan privat, serta dari kegiatan yang dilakukan di ruang dengan sifat-sifat yang berbeda. Dari situ saya mendapati bahwa tiap ruangnya memiliki suatu hubungan sekuensial.

Gambar 6. Penggambaran visual dari luar bangunan
Pada ruang publik yang dilalui pertama kali, pengunjung hanya diberi gambaran visual melalui bangunan atau massa gereja dengan skala yang cukup besar sehingga menimbulkan rasa keagungan tersendiri. Selain itu bangunan tersebut dilingkupi saujana yang terhampar luas dan tidak diberi pagar pembatas maka memberi kesan mengundang untuk didatangi.
Setelah mengundang, pada tahapan selanjutnya kita akan dihadapkan pada suatu ruang yang sempit yang dihimpit oleh 2 dinding besar, serta cukup panjang yakni menyusuri hampir sepanjang satu sisi gereja, seolah-olah memberikan waktu dan tempat untuk mempersiapkan diri sebelum melakukan interaksi dengan Tuhan.
Kemudian puncaknya adalah ketika kita sampai kepada inti peruntukkan gereja ini, yaitu suatu ruang besar, kelam, sunyi, dan megah dengan hamparan cahaya terpusat di bagian altarnya. Sehingga perjalanan menuju cahaya tersebut seolah-olah menyimbolkan ritual penyucian diri untuk bertemu dengan sesuatu yang suci.

Gambar 7. Sekuens ruang
Sekuens-sekuens tersebut merupakan satu garis besar dasar dari metode disain yang diterapkan oleh Ando untuk kemudian dirasakan oleh orang-orang yang berada di ruang tersebut. Sequencenya bersifat satu-persatu atau tidak terasa sekaligus. Dari sekuens tersebut kemudian barulah sang arsitek mengembangkannya ke unsur-unsur yang lebih detail seperti kegiatan yang akan dilakukan, dimensi ruang, arah atau orientasinya, serta material-material yang akan digunakan untuk membentuk ruang tersebut sehingga terciptalah suatu kendali akan apa yang ingin dirasakan oleh indra. Dengan mengontrol apa yang ditangkap oleh panca indra, maka pengalaman dan perasaan akan suatu ruang juga dapat dikontrol, sesuai dengan harapan dan keinginan yang ingin disampaikan.
Dengan begitu dapat saya simpulkan bahwa potongan-potongan sequence itulah yang menghadirkan suatu pengalaman ruang tertentu, di mana rangkaian dari keseluruhan sensasi pengalaman ruang tersebut pada akhirnya mempengaruhi terbentuknya geometri.
Imaginary Space
Imaginary space merupakan suatu penerjemahan dari suatu pandangan akan bentuk geometri yang terbentuk dari potongan-potongan pengalaman atau sensasi yang dirasakan oleh panca indera manusia.
Untuk itu, hal yang pertama saya lakukan adalah menentukan skenario cerita tentang pengalaman ruang yang ingin dihadirkan. Pada metode Ando, secara garis besar terdapat 3 fase (seperti yang telah disebutkan sebelumnya), dengan fase “climax” sebagai inti dari keseluruhan cerita pengalaman ruang tersebut. Sehingga penentuan “climax” menjadi langkah awal dalam pembuatan imaginary space ini.
Step 1: The making of the climax

Gambar 8. Tabel tiga fase secara garis besar
Bagaimana cara membuat bagian “climax” ini terwujud?
Karena geometri yang ingin dihadirkan merupakan suatu rangkaian pengalaman sensasi maka langkah selanjutnya adalah menentukan alat indera mana yang akan digunakan sebagai parameter perwujudan dari skenario. Dalam model ini, saya memilih mata sebagai parameter dalam pembentukan skenario.

Gambar 9. Tabel parameter mata sebagai perwujudan skenario

Gambar 10. Alur sekuens ruang
Permainan garis-garis dalam eksperimen saya ini dihadirkan melalui material tali. Tali tersebut disusun secara acak sehingga membentuk permainan garis yang menstimulasi mata sehingga pandangan mata tidak hanya terfokus pada satu titik.

Gambar 11. Kaca sebagai salah satu material
Selain tali, saya juga menggunakan media kaca sebagai material untuk menghadirkan permainan “virtual space”. Virtual space yang saya maksud di sini merupakan suatu ruang yang dihasilkan dari kaca-kaca yang saling berhadapan sehingga pantulan kaca yang merefleksikan kaca dihadapannya membentuk suatu ilusi ruang yang lebih luas. Permainan perluasan ini juga bekerja seperti rangkaian tali-tali yaitu untuk membiarkan mata agar tidak terfokus ke satu titik.


Gambar 12. Pemantulan kaca
Kaca yang dipasang berhadap-hadapan memberikan pantulan yang bersifat terus menerus sehingga menimbulkan kesan luas dan membuat mata terasa tenang serta rileks. Mata yang rileks seperti itu, akan memicu perasaan bebas. Potongan akan pengalaman merasakan kebebasan itulah yang menjadi salah satu inspirasi bagi bentukan geometri yang ingin dirasakan.

Gambar 13. Fase preparation
Untuk membuat fase “climax” terasa “mengejutkan”, maka fase sebelumnya yaitu fase “preparation” harus menghadirkan suasana yang jauh berbeda dari fase climax. Jika pada fase climax, mata kita dibuat tidak terfokus kepada satu titik tertentu, maka pada fase “preparation”, mata kita dibuat terfokus pada satu titik. Pemfokusan titik dalam pembuatan model dibentuk dengan memasang kain hitam supaya pandangan dapat benar-benar terfokus ke satu titik.
Dengan pemfokusan pandangan ke satu titik dimana sisi kanan dan kirinya bersifat bidang masif maka memicu efek perasaan cemas/ketegangan tersendiri.
Gambar 14. Fase opening
Pada akhir dari fase “preparation”, terbentuklah dengan sendirinya fase “opening” di mana pada fase ini terlihat sekilas tentang gambaran fase-fase yang telah dilalui sebelumnya sehingga memancarkan aura-aura “mengundang perhatian”.
Sehingga jika kita memposisikan sebagai objek yang akan mengalami pengalaman-pengalaman ruang tersebut maka kita akan melalui potongan-potongan sensasi sebagai berikut:

Gambar 15. Tabel sekuens pada model
Kesimpulannya, geometri memiliki cakupan yang cukup luas. Tidak hanya sebatas suatu wujud fisik tetapi juga mencakup lingkup persepsi yang dirasakan oleh panca indra manusia. Pada metode yang saya temukan dalam proses pembentukan geometri Church of light, Ando menunjukan bahwa arsitekturnya tidak hanya sebatas rupa dinding beton yang membatasi suatu ruang tertentu, tetapi juga setiap langkah dan gerakan akan sesuatu yang menstimulasi panca indra kita merupakan suatu perjalanan yang penuh dengan makna dan dapat kita rasakan.
Reference
Jodidio, Philip. (2007). Ando: Complete Works. Taschen Publisher.
http://www.andotadao.org/aka1.htm
http://architect.architecture.sk/tadao-ando-architect/tadao-ando-architect.php
http://www.galinsky.com/buildings/churchoflight/index.htm
http://www.greatbuildings.com/architects/Tadao_Ando.html
http://ando.tableseven.org