Menguraikan Kesederhanaan Menjadi Kompleks

>> Kembali ke Volume 3 No. 2 (2009)

Sekar Ayu Novitri

Elegance merupakan salah satu bentuk dari beauty. Benarkah? Pada awalnya elegance saya definisikan sebagai sebuah rasa yang tercipta akibat melihat sesuatu, apakah itu benda atau kegiatan, yang bersifat mewah, artistik, rumit, tapi disajikan dengan sederhana. Elegance merupakan atribut yang dikenakan oleh sesuatu yang mampu memberikan solusi yang efektif pada permasalahan yang kompleks. Namun kini saya mengerti bahwa elegance bukanlah sebuah pakaian atau atribut, yang mana pengertian ini dapat dibuka dan dipakai lagi. Elegance bukan dinyatakan melalui apa yang saya lihat pada kulitnya saja, atau hanya secara visualisasinya saja. Karena apa yang menurut mata adalah elegance belum tentu benar-benar memiliki elegance. Karena elegance itu sendiri seperti sebuah sifat yang ada di dalam diri, tidak bisa dipisahkan dengan raga.

Elegance mengandung suatu kompleksitas yang tertuang dalam kesederhanaan. Mengapa demikian? Karena sesuatu yang dianggap sederhana sebenarnya memiliki kerumitan, baik itu pada struktur, sistem, siklus, bentuk, dan sebagainya. Namun ke-kompleks-an tersebut disajikan menjadi sesuatu yang tidak membingungkan, maka muncullah definisi sederhana tersebut. Komponen lain yang menyusun sifat elegance adalah continuity (keberlanjutan). Continuity menunjukkan bahwa proses atau bentuk yang satu dengan yang lainnya tidak terpisahkan dan tidak berdiri sendiri. “Elegance articulates complexity. And the articulation of complexity prevent perplexity” (Castle, 2007). Continuity yang terjadi pada waktu (time) pun demikian. Definisi inilah yang nantinya lebih saya tekankan pada proyek saya kali ini.

Building the Elegance

Challenge yang ditawarkan dalam building the elegance bukanlah sekedar menemukan elegance, tetapi membangun elegance. Pada saat mendefinisikan building the elegance pertanyaan pertama yang muncul dan harus saya jelaskan kepada diri saya adalah mengapa build the elegance, bukan make atau create the elegance? Build saya artikan sebagai membangun, sementara make dan create adalah membuat atau mencipakan. Perbedaan antara keduanya adalah ketika menggunakan kalimat making atau creating the elegance, maka elegance tersebut tercipta dari sesuatu yang tidak ada menjadi ada, hadir membentuk sesuatu yang baru. Dan bisa saja dia tercipta tiba-tiba, hadir begitu saja. Sementara ketika kita membangun (build) the elegance, justru yang terjadi belum tentu menghasilkan sesuatu yang baru, tetapi dapat berupa elegance pada dirinya sendiri. Membangun adalah melakukan proses dan tahapan-tahapan sehingga sedikit demi sedikit hingga elegance dapat terbentuk. Artinya membentuk elegance tidak dapat terjadi secara tiba-tiba, tetapi terdapat proses di dalamnya.

Building the Elegance: The Butterfly

Pendekatan yang saya lakukan saat membangun elegance ini adalah dengan menjabarkan atau menguraikan suatu obyek dan kompleksitas yang dimiliki obyek tersebut. Saat proses penguraian ini terjadi, maka proses pembangunan dan penyusunan kembali juga akan terbentuk. Artinya di saat yang sama obyek tersebut akan membangun elegance pada dirinya. Di dalam bentuknya yang terlihat secara visual saja, terdapat kompleksitas yang dapat dijelaskan melalui penguraian. Melalui penguraian tersebut, elegance akan terbangun.

Pada eksibisi kali ini saya mengambil obyek kupu-kupu. Kupu-kupu merupakan makhluk yang indah dan elegan. Elegance yang terdapat didalam dirinya bukan hanya atribut melainkan dirinyalah elegance itu. Bagi saya, kupu-kupu merupakan objek yang tepat untuk menjelaskan kompleksitas pada sesuatu yang dianggap biasa saja. Kupu-kupu sama seperti makhluk lainnya, namun ketika diuraikan kehidupannya, baik itu anatomi tubuh, siklus hidup, dan pergerakannya, maka kita akan menemukan elegance pada dirinya.

Siklus hidup kupu-kupu berbeda dengan siklus hidup binatang lainnya. Kupu-kupu mengalami proses metamorfosis. Pertama kali kupu-kupu akan bertelur. Telur kupu-kupu biasanya akan menempel di dedaunan. Telur tersebut kemudian menjadi ulat. Setelah ulat menjadi besar dan memanjang, ia akan berubah menjadi kepompong. Dalam bahasa ilmiah bentuk ini disebut dengan pulpa atau chrysalis. Di dalam pulpa, cairan pencernaan akan dikeluarkan untuk untuk menghancurkan tubuh larva dan menyisakan sebagian sel saja. Sebagian sel tersebut kemudian akan tumbuh menjadi dewasa menggunakan nutrisi dari hancuran tubuh larva. Setelah beberapa lama, dari kepompong tersebut akan keluar seekor kupu-kupu yang masih muda. Tidak berapa lama kemudian kupu-kupu tersebut berubah menjadi kupu-kupu dewasa.

Pada setiap tahapan hidupnya, dia juga merubah perilakunya, elemen-elemen yang ada pada saat dia hadir pada suatu tahapan pun memiliki bentuk unik dan berubah-ubah. Saat berbentuk ulat dia bergerak menggunakan seluruh tubuhnya, padahal jika dilihat lebih jauh dia memiliki kaki yang banyak. Dan pada saat ini dia memakan dedaunan. Namun pada saat dia menjadi kupu-kupu dia mengubah perilaku dan pergerakannya. Yaitu dengan menggunakan sayap dan terbang. Makanannya kini pun tidak lagi dedaunan, melaikan nektar. Proses dan tahapan inilah yang membuat kupu-kupu menjadi elegance. Proses yang satu dengan yang lainnya pun tidak dapat terpisahkan. Karena bila salah satunya tidak terjadi, maka dia tidak akan menjadi kupu-kupu. Jadi sesungguhnya yang bersifat elegance bukanlah obyeknya (kupu-kupu) melainkan proses hidupnya.

kupukupu11

Building the Elegance: The Process of Building

Setelah menentukan obyeknya, maka saya mulai memikirkan dan membuat obyek eksibisi. Saya memikirkan bahwa bukan kupu-kupunya yang akan memberitahukan bagaimana membangun elegance tersebut, namun lebih kepada efek dari kehadiran si kupu-kupu.

Obyek eksibisi saya kali ini adalah duplikat kupu-kupu tersebut, yang bertujuan menjelaskan bahwa hal atau bentuk yang dianggap sederhana, tidak rumit, belum tentu dapat dibuat dengan mudah dan memiliki hal-hal yang sederhana pula di dalamnya. Jika dilihat sekilas, semua tampak sama namun sebenarnya tidak. Setiap bentuk kupu-kupu memiliki posisinya masing-masing. Jika diuraikan cara pembuatannya punya aturan tersendiri. Yaitu semua tidak dicopy menggunakan mesin, melainkan digambar satu persatu. Dimulai dengan membuat bentuk dengan pensil kemudian menebalkannya dengan drawing pen, baru kemudian mewarnainya dengan spidol. Sebelumnya setiap gambar kupu-kupu harus diatur posisi tinggi rendahnya, kiri-kanan, dengan membandingkannya dengan gambar sebelumnya. Hal ini dilakukan agar dapat menciptakan alunan yang tidak tiba-tiba. Semua uraian diatas menjelaskan bahwa terdapat kompleksitas yang cukup tinggi pada obyek yang sederhana yaitu hanya berupa gambar diatas kertas. Setiap gambar tersebut kemudian disusun berirama sehingga membentuk suatu alunan yang tidak putus yang menjelaskan adanya kontinuitas pada tahapan penyusunan gambar-gambar tersebut. Tahapan yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan dan mengalun tidak terpisahkan.

kupukupu2

Building the Elegance: The Butterfly’s Effects

Saat objek saya hadir di tempat eksibisi, maka yang saya nyatakan sebagai building the elegance bukanlah obyek saya tersebut. Objek yang saya hadirkan hanya sebagai pemicu atas kegiatan yang terjadi disana, kegiatan orang menaiki atau menuruni tangga. Bagaimana manusia bereaksi atas kehadiran kumpulan kupu-kupu tersebut dan reaksi lainnya seperti angin, tempat, dan orang lain. Kupu-kupu itu hadir sebagai penanda adanya perubahan perilaku orang-orang saat menaiki atau menuruni tangga.

Pada dasarnya kegiatan menaiki atau menuruni tangga merupakan kegiatan yang biasa saja dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Namun pada kegiatan yang biasa dilakukan ini, justru elegance dapat terbentuk. Saya ingin menunjukkan bagaimana ketika kumpulan kupu-kupu ini hadir, orang-orang yang semula berjalan menaiki tangga dengan memandang lurus ke depan akan menoleh ke objek saya, mata mereka mengikuti alunan kupu-kupu tersebut, mereka menaiki atap anak tangga tersebut satu-persatu secara perlahan-lahan, dan pada saat mereka berhenti dan menoleh ke belakang, mereka sadar telah berpindah tempat. Momen ini memberikan kesempatan pada ruang dan pada pikiran mereka untuk bermanuver bahwa kehadiran mereka saat ini, di titik tersebut, tidak terlepas dan tidak akan tercipta bila tidak ada kejadian-kejadian yang telah ia lalui sebelumnya. Ia tidak akan tiba di titik tersebut bila ia tidak melalui dan memijakkan kakinya pada anak-anak tangga sebelumnya. Dia tidak akan berada disana bila tubuh dan kakinya tidak diperintahkan oleh otak untuk bergerak. Pada tataran yang lebih suci, dia tidak akan berada disana jika Tuhan tidak mengijinkannya.

Suatu kegiatan yang sifatnya sederhana dan biasa dilakukan ternyata menyimpan banyak proses dan tahapan, baik yang bersifat nyata ataupun tak nyata, yang tersusun menjadi sesuatu yang tidak membingungkan. Kejadian ini juga menjelaskan continuity yang terjadi didalamnya. Saat peristiwa menaiki atau menuruni tangga terjadi, semua elemen saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Ada elemen-elemen yang menyusunnya, ada tangga, angin, tubuh, kaki, pikiran, tekstur, railing, background, bahkan suasana. Jika salah satunya hilang maka ia tidak akan menjadi dirinya. Kegiatan yang kita anggap biasa saja justru mengandung keunikan tersendiri pada setiap pengulangan yang kita lakukan. Hal inilah yang ingin saya tunjukkan.

Kegiatan menaiki tangga pada tanggal 17 November, jam 12.52 menit 32 detik tidaklah sama dengan kegiatan menaiki tangga pada di waktu sebelumnya dan yang akan datang. Kegiatan yang terjadi saat itu tidak dapat terjadi ketika saya tidak menginjakkan kaki saya pada salah satu anak tangga, tidak akan menjadi kegiatan saat itu jika tidak ada gambar alunan kupu-kupu, tidak ada momen tersebut jika saat itu tidak ada angin yang berhembus, dan sebagainya. Manuver pikiran yang seperti inilah yang saya sebut sebagai building the elegance. Karena setiap kegiatan, bahkan pada kegiatan yang sering dilakukan, merupakan hal yang unik yang berbeda setiap kalinya. Yang membuat dia tampak sama adalah adanya hal-hal yang diabaikan kemudian langsung digeneralisasikan. Bahwa proses, tahapan, bentuk, elemen yang membentuk kegiatan tersebut tidak dapat terpisahkan antara yang satu dengan yang lainnya. Semua hal tersebut menyusun pemahaman, rasa, pengalaman, pikiran, gerak pada diri manusia bahwa kegiatan tersebut indah dan elegance.

Kesimpulan

Building the elegance bukanlah bagaimana menghasilkan sesuatu yang baru atau menampilkan elegance tersebut. Building the elegance adalah proses dimana untuk menciptakan elegance tersebut diperlukan tahapan-tahapan dan adanya elemen-elemen penyusun yang satu sama lain tidak dapat dipisahkan. Dan hasil akhirnya belum tentu menhadirkan sesuatu yang baru, tetapi dapat berupa dirinya sendiri atau malah efeknya. Karena elegance tersebut tidak berdiri sendiri. Untuk itu perlu dilakukan penguraian, sehingga dari penguraian tersebut dapat dibangun suatu ke-elegance-an, baik pada benda maupun dampak yang ditimbulkannya.

Pada umumnya penguraian dilakukan untuk menjabarkan sesuatu yang kompleks menjadi sederhana. Pada building the elegance, penguraian justru dilakukan untuk menjabarkan hal yang sederhana menjadi kompleks. Hal ini dilakukan untuk membuktikan bahwa membangun elegance merupakan suau pembuktian bahwa setiap hal pasti memiliki suatu kompleksitas, bahkan pada hal-hal yang dianggap sederhana dan biasa terjadi.

Daftar Pustaka

Castle, Helen (2007). Elegance. Architecture Design. London: Artmedia Press.

www.butterfly-ris.tripod.com/metamorfosis.htm

Comments

Comment from arstundwi
Time July 17, 2009 at 2:22 pm

atmosphere of ELEGANCE: suasana kemewahan yang molek, itu salah satu prase yg diperoleh disebuah kamus. Kalau dilihat/dibaca penjelasan Sekar AN akan diperoleh pemahaman yg mendekati makna elegance itu adalah sesuatu yang diperoleh dari sebuah proses. Mungkin disini diperlukan untuk menggali lebih dalam lagi mengenai makna dimaksud, apa tdk mungkin makna lain muncul? misalnya elegance beririsan dengan makna SELINTAS PANDANG, artinya ada sesuatu yg dpt dinikmati oleh seseorang ketika atau disaat yg bersangkutan melihat memandang menyaksikan (walau hanya sesaat, sepintas). Tidak tertutup ada irisan-irisan makna lainnya bila penggaliannya diperdalam. Dan tentunya, dapat dibuatkan suatu hirarkhi pemaknaan dalam kajian yang semakin komprehensif. Namun, apapun hasil kajiannya, hasil pendekatan/penguraian yang dilakukan Sekar AN saat membangun elegance ini dengan menjabarkan atau menguraikan obyek dan kompleksitas pada proyeknya patut diberi acungan patut ditindaklanjuti lagi sehingga, elegance tdk hanya dimaknasi dr sisi permukaan saja. ….Bravo

Comment from pratiwi
Time November 5, 2009 at 1:51 pm

Terimakasih ya sebuah topik Konsep yang Kompleks

Comment from Rani fitriyani
Time August 24, 2011 at 12:08 pm

Wah pada bagus-bagus ya,,,