Editorial: In Search of Other Aesthetics

>> Kembali ke Volume 3 No. 2 (2009)

Pencarian terhadap estetika sangat lekat dalam proses berarsitektur kita selama ini. Namun kami meyakini bahwa akan selalu ada wacana yang dapat kita kemukakan terkait pencarian estetika. Termasuk di dalamnya pencarian estetika “yang lain”. Tulisan dalam edisi ini merupakan sejumlah eksplorasi gagasan dalam rangka kreativitas mencari hal-hal yang lain, hal-hal di luar apa yang terlihat atau dikenal selama ini, ataupun membongkar hal-hal yang ada di depan mata namun dapat dilihat dengan cara yang lain.

Mengawali edisi ini, Ferro Yudhistira secara kreatif mencoba mengurai kembali permainan sepakbola dan menggali pembentukan ruang di dalamnya, sebagai inspirasi dalam mengembangkan cara pandang terhadap ruang arsitektur. Mirradewi Rianty tertarik dengan gagasan pembauran figure & frame dalam Guardiola House karya Peter Eisenmann dan mencoba mengeksplorasi kembali gagasan pembauran ini melalui sebuah eksperimen color blending process. Sementara itu Sheila Narita mengupas mekanisme superimposition dalam Parc de la Villete karya Bernard Tschumi dan mengekplorasi mekanisme ini dengan memanfaatkan events sebagai subjek pemberi proses terhadap proses superimposition ini.

Tiga tulisan selanjutnya kami ambil dari sebuah Exhibition “Building the Elegance” di Departemen Arsitektur UI beberapa waktu yang lalu, yang merupakan pemaknaan kembali estetika melalui pembongkaran gagasan elegance dan pembentukannya. Reni Megawati mengetengahkan elegance in pixels sebagai sebuah upaya mengubah pandangan tentang keindahan dengan tidak semata-mata melihat apa yang tampak. Defi Reisna melalui pecahan gelasnya mengangkat gagasan bagaimana suatu objek tersusun dari bagian yang kecil-kecil, dan bagaimana keindahan dapat terpancarkan dari pemahaman adanya kesatuan susunan tersebut, bukan dari luarnya saja. Sekar Ayu Novitri menampilkan upaya membentuk elegance dengan menguraikan kesederhanaan menjadi kompleks – bukan sebaliknya – dan meyakini bahwa kompleksitas selalu ada dalam setiap objek yang tadinya terlihat sederhana sekalipun.

Kami berharap keenam tulisan tersebut dapat membawa inspirasi berbagai arah pencarian estetika yang mungkin kita lakukan terus-menerus dalam praktek berarsitektur kita. Sejumlah tulisan memang mencoba melihat dan menggunakan kembali gagasan dalam keseharian kita (sepakbola, air, gelas dan kupu-kupu), serta menunjukkan bahwa selalu ada peluang untuk mendefinisikan arsitektur kita tanpa terjebak pada apa yang selama ini kita lihat dan pelajari. Selamat menikmati wacana di edisi kali ini dan mereka-reka pencarian yang lain lagi.

Yandi Andri Yatmo & Paramita Atmodiwirjo

Write a comment