Building the Elegance
>> Kembali ke Volume 3 No. 2 (2009)
Defi Reisna
Mengapa sesuatu dapat dikatakan elegan dan apa yang membentuknya sehingga kita bisa mengatakannya elegan? Terkadang kita menilai sesuatu tetapi sebenarnya kita sendiri tidak mengerti mengapa demikian. Eksplorasi Building The Elegance berikut ini mengupas proses membangun sesuatu menjadi elegan, apa yang membuat sesuatu menjadi elegan, dan bagaimana menciptakan suatu keeleganan.
Sebelum menciptakan keeleganan kita perlu mengetahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan elegan dan unsur-unsur atau karakter apa saja yang membentuk keeleganan. Karena setiap orang memiliki pengertian dan pemahamannya sendiri terhadap elegan. Apa yang kita anggap elegan belum tentu elegan bagi orang lain. Dan pengertian elegan juga terus berubah dari waktu ke waktu, mungkin yang dahulu dianggap elegan, saat ini dianggap biasa saja. Perubahan persepsi dan pengertian elegan bagi seseorang juga terkait dengan experience seseorang. Pengalaman terkadang menentukan mind set seseorang sehingga ia menjadikan pengalaman tersebut sebagai patokannya.
Kita seringkali menyebut kata elegan atau menilai sesuatu elegan secara spontan dan keluar begitu saja. Tetapi ketika kita ditanya apa itu elegan, mungkin sulit bagi kita untuk menjawabnya secara langsung. Karena memang tidak semudah itu kita mendefinisikan apa itu elegan, indah, cantik atau jelek, dll. Masing-masing dari penilaian tersebut telah ada standar pengkategoriannya. Seperti halnya elegan, terdapat beberapa standar yang mengkategorikannya menjadi elegan dan yang membedakannya dengan cantik, indah atau jelek. Ketika kita diminta membuat sesuatu yang elegan dan yang jelek tentu kita akan membuatnya berbeda dan secara tidak sadar kita menentukan standar dalam mengkategorikan masing-masing dari keduanya. Standar itu bisa jadi adalah berdasarkan pengalaman kita.
Maka dari itu di sini kita seolah-olah diminta untuk membalikkan apa yang biasa kita alami. Kita lebih sering melihat sesuatu elegan tetapi tidak tahu proses apa yang terjadi sehingga sesuatu itu menjadi elegan. Sekarang justru sebaliknya kita tahu terlebih dahulu proses sesuatu itu menjadi elegan kemudian orang lain (pada kondisi sebaliknya adalah diri kita) menilai apakah sesuatu itu benar menjadi sesuatu yang elegan?
Membahas mengenai elegan, yang terlintas di pikiran saya adalah sesuatu yang berbeda dari yang biasa/sering kita lihat, sesuatu yang unik dan membuat orang senang dan tertarik untuk melihatnya. Sesuatu yang elegan itu ada karena terdapat satu kesatuan unsur yang membentuknya. Seperti yang dikatakan berikut ini: “Just like natural system elegant composition are so highly integrated that they cannot easily be decomposed into independent subsystem” (Architectural Design, 2007). Dari pernyataan tersebut, saya mencoba untuk memahami dan mengaitkannya dengan sesuatu yang mungkin secara spontan saya katakan elegan. Susunan elegan itu seperti sebuah system yang alami, yang saling terintegrasi dimana tidak mudahnya bagi kita untuk menguraikannya menjadi suatu bagian-bagian kecil. Karena justru dengan kehadiran kesatuan susunan itulah sesuatu menjadi elegan, bila kita bongkar susunan tersebut maka yang terjadi sesuatu itu tidak menjadi elegan lagi.
Terkait dengan kesatuan susunan tersebut saya juga mengacu pada the principle of elegance postulate berikut: “Do not to add or substract without elaborate inflections, mediations or interaticulations” (Architectural Design, 2007). Dari pernyataan di atas, saya menyimpulkan bahwa jika kita ingin membongkar kesatuan susunan yang telah ada, maka kita harus ‘mempertanggungjawabkannya.’ Karena berdasarkan apa yang telah disebutkan jangan menambah atau mengurangi tanpa menguraikan perubahan, menengahi atau menyambungkannya.
Berdasarkan dua pernyataan di atas, saya mencoba untuk menjadikannya sebagai suatu proses untuk membentuk keeleganan. Namun sebelumnya saya mencari tahu apa saja standar pengkategorian dari elegan. Berdasarkan beberapa referensi, elegan terkait dengan bodiliy movement, composition dan attractive. Kita mengatakan sesuatu itu elegan karena kita melihat ada motion baik itu secara aktif ataupun pasif. Aktif di sini maksudnya adalah seperti kita melihat misalnya seorang penari balet yang dengan lemah gemulainya menggerakkan badan mereka, pasif seperti melihat sesuatu yang diam namun bentuk dan susunannya seolah menggambarkan suatu motion misal sebuah tangga melingkar yang membentuk alur tertentu sehingga orang yang melewati tangga tersebut juga seperti ikut bergerak mengikuti alur melingkar dari tangga tersebut. Composition terkait dengan bagaimana ia menciptakan atau membentuk terjadinya motion. Suatu komposisi itu menjadi satu kesatuan susunan yang saling terkait satu dengan yang lain. Kemudian motion yang terbentuk dari komposisi tersebut akan menjadi sesuatu yang menarik perhatian orang.
Selain itu saya juga mencoba untuk mencari pengertian dari kata elegan itu sendiri dari beberapa referensi internet yang mengatakan bahwa “elegance is refinement, grace, and beauty in movement, appearance, or manners” (www.answers.com). Elegan terkait dengan kemurnian, lalu apa kemurnian itu? Menurut yang saya coba untuk artikan, murni adalah sesuatu yang belum terkontaminasi, apa adanya, jernih (misalnya air yang murni) dan tidak dibuat-buat. Kemurnian tersebut lalu saya kaitkan dengan sesuatu yang simple namun di dalamnya memperlihatkan sesuatu yang belum tercemar. Jadi ia tidak hanya sekadar simple tetapi ada yang ‘memancar’ darinya.
Sesuatu yang menggambarkan kemurnian di sini saya mengambilnya yakni kaca yang berbentuk gelas. Mengapa gelas? Apa yang dapat kita lihat dari sebuah gelas kaca yang bening? transparan, mungkin itu pertama kali yang terlintas di pikiran kita, lalu apa? mudah pecah. Kemudian jika kita kaitkan dengan bentuknya, gelas secara tipikalnya adalah berbentuk silinder berongga. Suatu bentuk yang simple, fungsi utamanya adalah untuk menampung air, apakah bisa digunakan diluar fungsi tersebut? mungkin saja dengan bentuk yang demikian. Jadi sebenarnya fungsinya jika dikaitkan dengan bentuknya akan menjadi kompleks. Ke-simple-an tersebut terjadi karena kita melihatnya dalam lingkup keseharian, yang menjadi kebiasaan kita. Sama seperti halnya ketika kita melihat ketransparanan dari sebuah gelas kaca bening, Kita hanya melihat apa yang kita lihat sehari-hari. Pernahkah mencoba melihat apa yang ada dibaliknya? kemurnian tidak hanya simple tetapi di dalamnya ada sesuatu yang memancar.
Elegan terkait dengan kemurnian, kemurnian terkait dengan simple, simple tidak hanya sebatas yang kita lihat, kita perlu menelusurinya jauh lebih ke dalamnya, ada sesuatu yang belum ‘tercemar’, yang mungkin orang lain tak pernah akan menyadari kehadirannya sampai ia benar-benar menyadari bahwa tidak hanya sebatas itu ia harus melihat. Lalu bagaimana kita mengetahui ada apa di dalamnya? Kita harus melihatnya secara tidak biasa, keluar dari kebiasaan dan pengalaman yang telah kita miliki.
Maka dari itu saya mencoba untuk menguraikan gelas kaca bening tersebut menjadi bagian yang terpisah-pisah. Apa yang terjadi pada ketransparanannya, apakah menjadi berbeda? Atau sama saja seperti yang saya lihat sebelumnya? Atau ternyata ada sesuatu yang lain? Untuk melihat sesuatu yang belum ‘tercemar’ itu, kita memang harus melihatnya secara lebih jeli, karena jika kita hanya melihat pecahannya begitu saja memang tidak akan ada yang berbeda, kita hanya akan mendapatkan serpihan-serpihan saja. Lihat apa yang terjadi pada bagian pecahannya tersebut. Bagian pecahan yang diamati, ternyata ketransparanannya tidak hanya sebatas pada bagian yang selama ini kita lihat. Kita dapat melihat ketransparanannya sampai pada bagian pecahannya, apa yang ada di bawah bagian pecahan tersebut, itulah bagian yang belum ‘tercemar’, sesuatu yang disebut dengan kemurnian.

Tidak hanya sampai pada menemukan apa yang ada dibalik ketransparanannya, saya mencoba mengaitkannya dengan tiga unsur yang terkait dengan elegan yakni bodily movement, composition dan attractive . Mengacu pada kutipan saya ambil, yang menyatakan bahwa elegan itu adalah seperti sebuah natural system yang tidak dengan mudahnya kita uraikan. Dan dari bagian-bagian pecahan gelas kaca bening tersebut saya mencoba untuk menjadikannya sebagai sebuah satu kesatuan yang membentuk sebuah keeleganan, dengan juga mengacu pada ketiga unsur elegan yang telah saya kemukakan. Menjadikannya sesuatu yang terlihat sederhana namun ada proses yang kompleks di dalamnya.
Bagaimana proses yang kompleks tersebut? Dimulai dari bagaimana menemukan ketransparanan yang ada di balik ketransparanannya. Apa yang ingin ditunjukkan oleh ketransparanannya tersebut, yakni memperlihatkan bagian dalamnya yang terbentuk dari partikel-partikel yang saling membentuk satu kesatuan yang memadat, dimana ketransparanannya disini sudah tidak setransparan yang ada di lapisan luarnya dan semakin ke dalam kumpulan partikelnya tersebut semakin sangat memadat sehingga tingkat ketransparanannya semakin tak terlihat lagi. Kemudian bagaimana menyusun bagian-bagian serpihan dari gelas kaca bening tersebut sehingga membentuk sebuah susunan yang mengesankan sebuah movement. Sebuah movement terkait dengan adanya alur, kita bergerak atau sesuatu bergerak pasti akan ada alurnya. Dari kata alur ini saya mencoba untuk memahami bagaimana jika saya harus menciptakan alur? Ada apa pada alur tersebut? Melihatnya secara dua dimensi atau tiga dimensi? Jika kita mencoba melihatnya secara 2 dimensi garis besar yang kita lihat adalah perbedaan arah, namun jika kita lihat secara 3 dimensi kita akan melihat adanya perbedaan level. Maka di sini saya mengambil makna alur tersebut adalah adanya perbedaan level. Dari bagian-bagian serpihan gelas kaca bening tersebut, kemudian saya mencoba untuk menciptakan sebuah alur dengan perbedaan level.
Gelas kaca bening yang telah terbongkar satu kesatuan bagiannya menjadi suatu serpihan yang ternyata masing-masing dari pecahannya tersebut memiliki bentuk dan ketinggiannya masing-masing. Kemudian saya menyusun bagian serpihannya tersebut sehingga tercipta perbedaan level yang mengesankan alur.

Penyusunan ini terkait dengan composition sebagai salah satu unsur yang membentuk keeleganan. Perbedaan level saya bentuk mulai dari pecahan yang memiliki kontur tertinggi sampai yang terendah, di sini saya ingin menghadirkan suatu kesan movement menurun secara melingkar. Dan susunan ini akan membentuk sebuah satu kesatuan yang harmoni dan jika dihilangkan bagiannya, kesan movement yang telah terbentuk akan menjadi hilang.
Seperti pada kutipan sebelumnya, ketika saya menyusun serpihan gelas kaca bening ini, saya mencoba untuk menguranginya satu bagian dari serpihan, namun dengan pengurangan tersebut saya menguraikan dan menyambungkan kembali menjadi susunan yang baru tetapi bagiannya telah kehilangan satu bagian. Dari pengurangan tersebut saya mencoba untuk menjadikannya agar susunan yang baru ini tak terlihat bahwa telah ada pengurangan, dimana mereka melihatnya sebagai kesatuan yang memang berasal dari sebuah serpihan pecahan suatu kesatuan benda. Sehingga susunan yang baru ini menjadi salah satunya adalah penjelasan uraian saya terhadap perlakuan dari bentuk dan bagian sebelumnya.
Dan dari keseluruhan proses tersebut saya ingin memberi kesempatan bagi orang lain untuk mengetahui bahwa susunan yang mereka lihat adalah berawal dari bagian-bagian kecil yang saling tersusun dan memperlihatkan ada apa dibalik dari bagian-bagian kecil tersebut, karena mereka seringkali hanya melihat luarnya saja, melihat secara garis besarnya saja. Namun walaupun mereka dapat melihat susunan bagian-bagiannya mereka tetap dapat melihatnya sebagai sebuah satu kesatuan yang utuh dan saling terkait membentuk movement.
Terkait dengan apa yang ingin diperlihatkan dari susunan kesatuan tersebut yakni sebuah kemurnian yang terpancar dari bagian terdalam, maka penempatan dari benda yang saya buat ini adalah pada sebuah tempat yang terkena sinar matahari sehingga sinar tersebut seolah-olah membantu memancarkan apa yang belum terlihat di dalamnya. Dan dari sini saya ingin keeleganan tersebut dapat terbentuk dan tersampaikan bagi pandangan mata orang yang melihatnya.
Daftar Pustaka
Architectural Design (2007). Elegance: Arguing for Elegance.
www.answers.com
Comments
Comment from erysca
Time November 5, 2009 at 10:09 am
membaca artikel ini seakan sadar kembali , bahwa sebuah kata yang simple namun sulit untuk dijawab mampu menjadai sesuatu hal yang penting dan bernilai tinggi untuk dibahas …
seperti membuka benang kusut mungkin
yang sulit untuk dibuka,dan banyak cara yng di lakukan untuk membukanya hingga menjadi stu benang yang lurus ….
nah ni dia yang dilakukan oleh defi mengungkap apa sebenarnya elegan ?? bagaiman menilai sesuatu dapat dikatakan elegan ??bahkan disertai dengan contoh penelitian …
good job fi..
seblumnya
terima kasih untuk penguraiannya …
tp…
mungkin sebagai masukan ,
defi musti selktif lg dalam memilih judul…
perkuat kembali kaitan antara judul yan dipih dengan pembahasan…
dan kalau bisa juga tidak menggunakan satu referensi buku…
hal ini dimaksudkan agar ertikel yang di buat menjadi lebih kuat
terimakasih sekali lg ya fi tuk pemaparannya n good luck 4 u ….^_^
Comment from arstundwi
Time July 18, 2009 at 5:36 pm
Membaca artikel ini, terasa ada tambahan makna yg muncul dari kata elegan. Ada suatu penguraian yg membuka tirai-tirai yang menutupi makna elegan ketika uraian ini tak terungkapkan. Terimakasih, sdh menjadikan elegan dalam kondisi transparan.