Editorial: Re-reading [2]
>> Kembali ke Volume 3 No. 1 (2009)
Wacana dalam edisi ini merupakan kelanjutan dari diskusi tentang re-reading dalam arsitektur sebagai salah satu upaya berpikir kritis menuju kreativitas dalam berarsitektur. Edisi yang lalu telah memuat sejumlah tulisan tentang berbagai upaya re-reading terhadap karya arsitektur dan proses berarsitektur. Kali ini kami menampilkan sejumlah tulisan berkisar tentang pemaknaan kembali berbagai gagasan arsitektur dan beragam aspek di dalam praktek perancangan.
Aswin Indraprastha mengawali edisi ini dengan pembahasan tentang perubahan pandangan terhadap proses desain dengan adanya intervensi teknologi, yang pada hakekatnya merupakan upaya enhancement dari kemampuan kognitif dan kreatif dari manusia. Kristanti Dewi dan Novelisa Sondang mencoba melakukan re-reading terhadap keseharian dalam dua setting kota, Singapura dan Sheffield, untuk menemukan beragam fenomena kehidupan berkota. M. Riou Badar melihat kembali perjalanan arsitektur dari waktu ke waktu, dan menyimpulkan bagaimana teks dan konteks kondisi perwujudan arsitektur sangat dipengaruhi sekali oleh jaman. Niken Palupi mengajukan sebuah proposal pendekatan sustainable marketing according to sustainable architecture. Proposal ini pada hakekatnya merupakan upaya untuk tidak melawan kapitalisme namun justru menggunakannya sebagai alat pencapaian untuk menyebarkan sebuah idealisme positif terkait sustainability.
Sebagai penutup edisi kali ini, kami menghadirkan serangkaian tulisan yang terkait dengan proyek dari Education Care Unit yang telah memperoleh Holcim Awards 2008 Asia Pacific Region, untuk kategori Next Generation Encouragement Prize. Proyek ini merupakan upaya re-reading pengertian sustainable construction ke dalam proses mengkonstruksi mind dari anak-anak sebagai stakeholder arsitektur masa depan. Tulisan yang kami hadirkan di sini adalah refleksi dari beberapa fasilitator yang telah berpartisipasi dalam proyek tersebut.
Mudah-mudahan sejumlah tulisan di atas mampu membawa kita untuk merefleksikan kembali proses berarsitektur kita, dan mendorong kita semua untuk menggali berbagai kemungkinan tindakan praktek berarsitektur. Tidak hanya untuk pengembangan praktek berarsitektur, namun juga untuk kehidupan yang lebih baik.
Selamat membaca dan “membaca kembali” arsitektur kita.
Yandi Andri Yatmo & Paramita Atmodiwirjo
Editor