Editorial: Re-reading
>> Kembali ke Volume 2 No. 4 (2008)
Re-reading merupakan salah satu upaya berpikir kritis menuju kreativitas dalam berarsitektur. Wacana tentang re-reading ini akan kami tampilkan dalam dua edisi. Bagian pertama di penghujung tahun 2008 ini memuat berbagai upaya re-reading terhadap karya arsitektur atau proses berarsitektur, yang merupakan hasil wacana dalam mata ajaran Geometri dan Arsitektur di Universitas Indonesia. Sejumlah tulisan di edisi selanjutnya di tahun 2009 akan berkisar tentang pemaknaan kembali berbagai gagasan arsitektur dalam konteks masa kini.
Wacana re-reading dalam edisi ini adalah penggalian terhadap ide pembentukan suatu karya arsitektur, yang selanjutnya dapat dimaknai kembali dan digunakan sebagai sebuah proses pendekatan pembentukan arsitektur. Karya yang dihasilkan sebagai hasil re-reading bukanlah merupakan wujud realisasi fisik arsitektur yang terbangun, namun lebih merupakan wacana pembentukan geometri yang tentunya masih dapat dikembangkan tanpa batas. Sesilia Monalisa mengupas ide Le Corbusier tentang ‘conformity with the horizons’. Reni Megawati merujuk pada pendekatan Diller + Scofidio dalam karya ‘Blur’ yang selanjutnya menggiring ke wacana lebih jauh tentang proses ‘menghadirkan’ sesuatu melalui sesuatu yang lain.
Christa Indah mengupas proses berarsitektur dari MVRDV dan secara kreatif merepresentasikannya kembali melalui ‘banana strawberry milkshake’ sebagai perwujudan sejumlah esensi gagasan yang ditemukannya. Rachmat Rhamdhani mencoba mempertanyakan kembali tentang proses, setelah mengupas wacana proses arsitektur Peter Eisenmann. Mirza Syahrani mengangkat pendekatan Antony Gormley dalam karya instalasi ‘Blind Light’ yang mengantarkan pada eksplorasi terhadap disorientasi dalam ruang. Ramadana menutup edisi ini dengan sebuah eksplorasi yang sangat menarik tentang re-reading permainan ular tangga dan catur dan bagaimana eksplorasi ini mengantar kepada pemahaman pengalaman dan persepsi ruang yang lain.
Semua tulisan ini mungkin memberikan wawasan baru, pencerahan atau bahkan mengusik proses berarsitektur yang selama ini kita kenal dan kita pahami. Eksplorasi yang dilakukan tidak bermaksud untuk mengacaukan pemahaman nilai arsitektur dalam karya yang telah ada, namun justru mencoba membawanya lebih jauh sebagai sebuah upaya kreatif berarsitektur.
Selamat membaca dan “membaca kembali” arsitektur kita.
Yandi Andri Yatmo & Paramita Atmodiwirjo
Editor