The Inversion of the Ordinary: Opponent? Complement?

>> Kembali ke Volume 2 No. 3 (2008)

Ramadana P.

Ordinary oh ordinary
What is ordinary?
Who is ordinary?
How to be ordinary?
How to invert the ordinary?

………

Petikan diatas merupakan sebagian penggalan caption dari karya saya tentang the inversion of ordinary, mengenai apakah makna dari the inversion of ordinary itu sesungguhnya. Karya saya berjudul “ordinary oh ordinary”, saya memberi judul seperti itu karena melihat bahwa konsep dari ordinary sebenarnya tidak sesederhana itu. Penuh dengan kerumitan dan kerancuan. Hal inilah yang membuat saya tertarik untuk membahasnya.

Karya ini merupakan sebuah poster dengan gambar-gambar manusia dalam berbagai keadaan. Keadaan yang dianggap masyarakat sebagai suatu yang bukan ordinary karena jarang terlihat atau diketahui dan tidak normal. Namun di beberapa gambar, ada yang dipandang sebagai suatu hal yang normal karena sering terlihat sehingga sering dianggap sebagai sesuatu hal yang ordinary.

Sebelum membuat karya ini saya terlebih dahulu berusaha untuk mencari tahu tentang makna dari ordinary yang sebenarnya. Saya memulai dari bagaimana sesungguhnya pandangan masyarakat tersebut. Apakah karena seringnya hal itu terlihat maka dapat dikatakan menjadi suatu hal yang ordinary? Apakah masalahnya hanya pada kuantitas? Jika demikian maka harus sesering apa untuk dapat dikatakan sebagai sesuatu yang ordinary?. Cukup sulit untuk menentukan hal tersebut karena nantinya pendapat tiap orang akan brbeda. Contohnya di Jepang masyarakatnya mengenal style berpakaian Harajuku, style berpakaian yang sekehendak pemakainya. Umumnya mengenakan pakaian kostum atau dandanan yang menggambarkan diri mereka sebagai sesuatu yang unik dan berantakan. Bagi orang Jepang sendiri hal tersebut merupakan sesuatu yang ordinary, namun bagi turis hal tersebut menjadi sesuatu yang berbeda dari kebiasaan. Oleh karena itu hal tersebut tidak dapat dijadikan sebagai suatu patokan.

Jika dilihat dari contoh tersebut dapat disimpulkan bahwa ordinary bagi setiap orang itu berbeda-beda, seperti halnya pendapat mengenai everyday bagi setiap orang. Mereka mempunyai everyday mereka masing-masing. Dan tidak dapat mendefinisikan everyday bagi orang lain.

Namun ada hal lain yang perlu dipertimbangkan tentang waktu. Misalnya pada contoh munculnya penyakit kanker payudara pada laki-laki. Kasus kanker seperti ini sangat jarang terjadi sejak dulu sampai sekarang . Pada tahun 1980an hal itu menjadi suatu hal yang not ordinary, tetapi pada saat ini hal tersebut bukanlah sesuatu yang not ordinary lagi. Karena seiring waktu para ahli dapat menemukan penyebab dari kanker tersebut pada laki-laki sehingga sudah dianggap ordinary meskipun kasusnya tetap jarang. Hal ini berarti waktu juga dapat menjadi penentu.

Selain itu, tempat juga mempengaruhi sesuatu dapat dikatakan ordinary. Sebagai contoh jika ondel-ondel ada di Jakarta maka dapat dikatakan sebagai sesuatu yang ordinary. Bagaimana jika ondel-ondel itu muncul di Canberra? Tentu hal tersebut akan menjadi asing bagi orang-orang disana dan dapat disebut sebagai not ordinary. Contoh lainnya adalah ketika kita terbiasa untuk minum dengan menggunakan gelas tiba-tiba diharuskan untuk minum dengan menggunakan piring. Hal yang terjadi adalah sesuatu yang dapat dikatakan sebagai not ordinary.

Jadi apakah kesimpulan tentang ordinary adalah tentang sesuatu yang berdasarkan waktu dan tempat? Hal tersebut juga masih belum dapat terpastikan dengan jelas, karena masih ada lagi faktor-faktor lain yang mempengaruhi keadaan ordinary selain masalah tempat dan waktu.

Hal lain yang ingin dibahas adalah apakah sebenarnya ordinary sudah ada sejak awalnya? Hal ini tercetus karena contoh-contoh yang ditemui tentang waktu dan tempat. Ordinary sesungguhnya sudah ada hanya tinggal menunggu untuk ditemukannya saja. Sehingga yang mendasari waktu dan tempat tersebut karena ordinary itu sudah ada seperti halnya tentang everyday. Hal ini juga mengingat sepert yang dikatakan wigglesworth dan Till: “Everyday was always there, and we, like everyone else, were always immersed in it” (Wigglesworth and Till, 1998). Selain itu juga terlihat hubungan yang dekat antara konsep ordinary dan everyday.

Jika sudah demikian, bagaimana cara melakukan the inversion of the ordinary? hal itulah yang saya bawa melalui karya saya. Sebenarnya melalui tulisan di atas tentang waktu dan tempat sudah dapat terjawab mengenai the inversion of the ordinary?. Namun didalam karya saya sedikit berbeda, disini saya banyak menampilkan gambar-gambar tentang orang-orang yang aneh-aneh dan dianggap orang not ordinary. Lalu ada beberapa orang yang biasa-biasa saja nampak tidak ada keanehan yang ada. Kemudian saya menyuruh orang-orang untuk memilih gambar yang menurut mereka ordinary. Kebanyakan dari jawaban mereka memilih gambar orang yang tidak memiliki keanehan apa-apa. Dari jawaban mereka tersebut dapat diketahui bahwa mereka memilih orang-orang yang biasa mereka lihat. Namun jika dilihat pada konteks keseluruhan yang terdapat disana maka sebenarnya orang-orang yang tidak punya keanehan itulah yang not ordinary, dilihat dari konteks yang ada didalam poster tersebut dimana kebanyakan adalah orang-orang yang aneh-aneh.

Jika dilihat dari hal yang lain sebenarnya jawaban-jawaban lain juga cukup menarik. Ada beberapa orang yang memilih gambar orang yang aneh dengan beberapa alasan. Salah satunya adalah gambar tentang orang kretinisme/dwarfism yang menjadi manusia terkecil pada tahun 1935. Menurutnya kretinisme tersebut sudah dianggap biasa karea sudah diketahiu penyebabnya. Selain itu terdapat kretinisme jenis baru (super primordial dwarfism) yang menghasilkan manusia yang lebih kecil lagi. Disini dapat dilihat bahwa waktulah yang bermain untuk menentukan ordinary atau tidaknya sesuatu. Pada tahun 1935 hal tersebut menjadi sesuatu yang not ordinary namun sekarang sudah tidak lagi karena sudah ada yang lebih kecil lagi. Selain itu hal yang dapat dilihat adalah keeksistensian, yaitu dengan ditemukannya super primordial dwarfism hal tersebut menjadi sesuatu yang not ordinary karena baru ditemukan. Contoh lainnya adalah gambar wanita-wanita yang berpakaian ala Harajuku, gambar ini dipilih karena wanita-wanita berpakaian ala Harajuku tersebut dipandang sebagai sesuatu yang biasa saja karena di Jepang hampir setiap harinya mereka berpakaian seperti itu. Disini konteks tentang tempat menjadi hal yang diperdebatkan. Tentu saja jika ada orang berpakaian ala Harajuku di Jepang menjadi hal yang ordinary karena memang lokasi asal model berpakaian tersebut. Namun jika ditempatkan di Jakarta maka akan menjadi hal yang not ordinary.

Menurut Lefebvre dalam buku The Critique of Everyday Life: “The most extraordinary things are also the most everyday; the strangest of things are often the most trivial” (Lefebvre, 1992). Disini dapat terlihat cara untuk inverting the ordinary. Hal ini memungkinkan karena adanya sesuatu hal yang sepele yang biasanya terlupakan sehingga tidak diperhatikan. Namun jika dilihat lagi apabila everyday berkaitan erat dengan ordinary maka the invert of ordinary bukanlah selalu sesuatu yang bertolak belakang. Atau bisa jadi sebenarnya the inversion of ordinary itu adalah suatu yang saling melengkapi. Karena jika dilihat lagi melalui teori everyday

The everyday has a certain strangeness that does not surface or whose surface is only its upper limit outlining itself against the visible” (De Certeau, 1984). Dapat diartikan bahwa makna atau arti dari suatu hal tersebut juga dapat menjadi hal yang not ordinary. Sebagai contoh adalah gambar pemandangan karya anak TK. Mungin bagi kita hal itu termasuk ordinary. Namun bagi anak tersebut hal tersebut menjadi not ordinary karena gambar tersebut merupakan karya pertamanya yang penuh perasaan. Atau contoh lainnya terdapat dalam karya saya, gambar Diajeng Luki Astria, menurut orang lain gambar tersebut adalah gambar yang ordinary tapi bagi saya tidak karena dia adalah teman baik saya dan dibandingkan gambar yang lain gambar tersebutlah yang paling memiliki makna.

Jadi, apakah itu ordinary? Apakah benar-benar berdasarkan kuantitas atau tingginya frekuensi kemunculannya ? Apakah suatu kerangka berdasarkan waktu dan tempat? Ataukah menjadi suatu konsep yang mirip dengan everyday? Lalu apa yang membuatnya berbeda dengan everyday? Bagaimana dengan the inversion of the ordinary? Apakah merupakan hal yang bertentangan dengan ordinary? Atau dapat saling melengkapi?.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan terus menjadi perdebatan. Namun setidaknya kita mempunyai gambaran dan pendapat masing-masing tentang ordinary serta bagimana nantinya sebuah konsep itu akan berkembang.

Daftar Pustaka

De Certeau, M. (1984), The Practice of Everyday Life. Berkeley, CA: University of California Press.

Lefebvre, H. (1992), Critique of Everyday Life. London: Verso.

Miles, Malcom. (2000), The Uses of Decoration: Essay in The Architectural Everyday. Chichester: Wiley.