Editorial: Arsitektur = Proses
>> Kembali ke Volume 2 No. 2 (2008)
Wacana tentang proses dalam berarsitektur adalah suatu hal yang tidak pernah habis dikupas. Berarsitektur adalah sebuah proses yang dapat dimaknai secara luas, yang tidak semata-mata melihat bagaimana terwujudnya karya arsitektur dari sebuah gagasan. Tatkala sebuah arsitektur dianggap mengandung narasi, maka menjadi menarik untuk melihat bagaimana muatan-muatan dalam arsitektur tersebut terlahir dan terdefinisi.
Tulisan dalam edisi ini menawarkan gagasan terkait dengan beragam proses dalam berarsitektur. Tulisan pertama berangkat dari kaitan antara musik dan arsitektur. Anastasya Yolanda menjelaskan bahwa kaitan antara bunyi dan arsitektur terletak pada bagaimana keduanya dilihat sebagai sebuah proses terdefinisinya wujud. Selanjutnya Farid Rakun membuka wacana tentang bagaimana pemahaman sistem open source dalam world wide web membuka peluang alternatif dalam praktek berarsitektur.
Proses berarsitektur tidak pernah dapat lepas dari disiplin ilmu lain. Topologi sebagai salah satu cabang ilmu matematika mengandung berbagai gagasan menarik dalam kaitan dengan proses berarsitektur. Dyah Esti Sihanani mencoba membandingkan proses-proses dalam origami, folding dan topologi dan melihat sejauh mana mungkin terjadi overlap di antara ketiganya. Tulisan lain dari Rahadea Bhaswara menelaah tentang proses berarsitektur dari sudut pandang antropologi.
Selain tulisan-tulisan ilmiah, edisi kali ini juga mengangkat sejumlah karya hasil eksplorasi “The Journey of Rp 25.000,-“. Karya-karya yang ditampilkan merupakan hasil penggalian gagasan rancangan skenario sebuah perjalanan singkat namun bermakna. Di sini skenario menjadi bagian dari bernarasi dalam arsitektur dan mengandung perwujudan interaksi ruang, manusia, peristiwa dan materialitas (space, body, event and materiality).
Mudah-mudahan muatan dalam edisi kali ini memberikan sejumlah gagasan yang dapat memperluas wawasan kita semua dalam berarsitektur.
Yandi Andri Yatmo & Paramita Atmodiwirjo
Editor