Mendefinisikan Kembali ‘Domesticity’ dan ‘Everydayness’ dalam Kehidupan Modern

>> Kembali ke Volume 1 No. 2 (2007)

Rachmat Rhamdhani Fauzi

The everyday is covered by a surface: that of modernity.” (Lefebvre, 1997: 37).

Dalam sub judul terakhir dari tulisan The Everyday and Everydayness oleh Lefebvre (1997), Modernity, akan ditemukan bahwa menurut Lefebvre, everyday tertutupi oleh modernity. Permasalahan yang dihadapi oleh Lefebvre sebagai sebuah hal yang dikritik habis-habisan dalam everydayness-nya adalah modernity yang mengagung-agungkan skenario perfeksionis-fungsionalisme.

Adanya perkembangan teknologi dalam modernity menjadi sebuah ancaman tersendiri terhadap konsistensi pemaknaan everyday. Lefebvre mengatakan bahwa bahwa agen-agen modernity telah membelokkan makna everyday kepada sesuatu yang – sebetulnya – bukan everyday dengan menunjukkan secara berulang-ulang pandangan everyday dari sudut pandang modernity.

Everyday tentu berkaitan erat dengan domesticity, sedangkan modernity senantiasa mengarahkan manusia untuk menjadi global dan menghilangkan konteks lokal. Dengan kata lain, modernity menghilangkan domesticity guna melahirkan generality. Dalam hal ini, modernity mengarahkan manusia untuk menghilangkan identitas kemanusiaannya, sebagai makhluk yang unik dan mempunyai potensi untuk mengembangkan everyday-nya sendiri yang dekat dan familiar dengan jati diri personalnya. Modernity menenggelamkan everyday dengan menghadirkan bayangan-bayangan ideal, atau lebih tepatnya dilegitimasi secara sepihak sebagai ‘ideal’. Sehingga terbangun kecenderungan manusia untuk secara perlahan meninggalkan everyday yang sebenarnya, lantas menggantinya dengan everyday yang homogen yang diciptakan oleh modernity.

Everyday sebagai sebuah konsep yang diisukan Lefebvre pada awal abad ke 20 dan masih sering diperbincangkan sampai saat ini, telah melalui berbagai zaman dengan berbagai pemikiran yang berbeda-beda. Sebagai sebuah usaha perlawanan terhadap teori-teori strukturalis, konsep ini bersifat anti-toleran terhadap ide-ide rasionalis-mekanistis yang menganggap segala sesuatu haruslah bekerja seperti sebagaimana seharusnya dia bekerja, serta berjalan sebagaimana mestinya dia berjalan. Ide yang menyebutkan bahwa suatu railing tangga seharusnya digunakan untuk pegangan dan tidak untuk digunakan sebagai jalan bagi para skateboarder adalah ide yang ditentang oleh konsep everyday.

Yang menarik, Lefebvre (1997) mengambil contoh bahwa produk-produk modernity - produk teknologi - seperti gambar-gambar, sinema, atau televisi telah menyelewengkan everyday kepada hal-hal yang non-everyday – seperti kekerasan, kematian, bencana, kehidupan raja atau bintang film. Kita tentu melihat bahwa di sini konsep everyday sendiri telah menegaskan dirinya sebagai sesuatu yang telah ditutup-tutupi oleh modernity. Terdapat pembatasan bahwa modernity adalah sebuah ‘masalah’ terhadap keberadaan everyday dan keberadaan domesticity yang seharusnya. Dengan menyingkirkan elemen-elemen modernity yang memaksa manusia berubah menjadi manusia ideal, akan ditemukan everyday yang sesungguhnya.

Yang saya sangsikan di sini, krtitik Lefebvre memposisikan everyday sebagai sesuatu yang terlepas dari modernity. Everyday yang benar adalah bertentangan dengan modernity, karena modernity menutupi everyday dan menghilangkan domesticity. Dengan demikian, everyday dengan sendirinya diberi cap sebagai sebuah oposisi mutlak dari modernity. Everyday seolah menjadi sebuah konsep yang berdiri sendiri dan tidak bisa berubah ketika dicampuri oleh konsep lainnya.

Dengan melihat everyday sebagai sebuah kritik terhadap teori-teori strukturalis (termasuk modernity di dalamnya), justru keberadaan everyday akan dilihat sebagai sebuah konsep yang mencoba untuk memunculkan dirinya sendiri di tengah serbuan teori-teori tersebut. Konsep everyday memperlihatkan dirinya berbeda dengan yang lainnya. Padahal everyday semestinya tidak dipahami sebagai sesuatu yang berbeda atau asing, melainkan haruslah bersifat familiar dan domestik. Everyday haruslah berubah sesuai dengan waktu dan sesuai dengan perkembangan kebudayaan, cara hidup, cara pandang, kebutuhan, keadaan sosial dan hal-hal lain yang mewarnai kehidupan manusia. Penyesuaian ini perlu terjadi agar konsep everyday ini tetap diterima sebagai sebuah konsep yang berafiliasi terhadap eksistensi kedekatan sesuatu dalam kehidupan keseharian, serta sebagai sebuah hal yang penting dan tidak boleh dilupakan.

Jika everyday tetap berkonflik dengan modernity, eksistensi everyday semakin lama akan semakin hilang. Ketika waktu berubah, pandangan manusia dan kebutuhannya dapat turut berubah, dan yang tadinya menjadi sebuah keadaan ideal menjadi sebuah keadaan yang biasa.. Sebagai contoh, pada tahun 1990-an di Indonesia telepon genggam adalah sesuatu yang sangat utopia dan menjadi image akan kehidupan ideal, namun sekarang dia menjadi sebuah bagian yang tak terpisahkan dalam keseharian orang Indonesia. Telepon genggam menjadi familiar, humble dan ordinary, bukan lagi hal yang superlative. Ini menunjukkan bahwa modernity menghasilkan sebuah situasi domestic atau ordinary yang merupakan karakter utama yang diusung oleh everyday.

Sekarang kita hidup di era modern, meskipun masih ada sebagian masyarakat primitif yang tinggal di pedalaman yang belum terintervensi modernity karena batas geografis dan bentang alam. Era modern ini sangat mengedepankan uniformity dan homogeneity, yang kini banyak dikritik oleh para pengikut post-modernisme, meskipun sebetulnya ada gerakan post-modernisme yang didalamnya mengandung perlawanan terhadap modernity – sebagaimana halnya everyday. Terdapat tendensi bahwa sekarang modernity memang masih bergerak dengan sangat leluasa dan mempengaruhi kehidupan keseharian.

Konteks adalah sebuah hal yang ingin saya tekankan di era modern yang ‘post-modern’ ini. Konteks inilah yang berpengaruh terhadap pemahaman tentang apa itu domesticity dan apa itu everydayness. Untuk menunjukkan seberapa penting konteks ini dalam menentukan arah redefinisi domesticity dan everydayness, berikut ini saya akan memberikan beberapa gambaran seputar everyday. Everydayness dan domesticity berubah-ubah tergantung kepada konteks yang terjadi. Everydayness dan domesticity ditentukan oleh siapa orang yang mengalami dan bersentuhan dengannya, di mana domesticity dan everydayness itu terjadi, dan kapan waktunya. Semua itu adalah konteks yang menentukan sejauh mana sesuatu itu merupakan sebuah domesticity dan everydayness.

Seorang anak kecil mempunyai domesticity sendiri yang tentu saja berbeda dengan domesticity yang dimilikinya ketika dia sudah dewasa. Sesuatu yang sekarang kita anggap sebagai tidak domestik atau tidak humble, bisa menjadi sangat domestik pada waktu masih anak-anak. Mobil-mobilan bisa menjadi sebuah hal yang tidak everyday bagi seseorang yang sudah dewasa, padahal itu adalah bagian yang tidak terpisahkan dari everyday-nya ketika dia masih kecil.

Saya ingat sewaktu dulu masih kecil di Tasikmalaya, saya sering bermain-main sore sepulang sekolah menggambari dinding belakang rumah dengan menggunakan getah dari bunga semacam ilalang yang menghasilkan warna merah ketika kelopak bunga itu digosokkan ke dinding. Saya juga menggosokkan tanaman rumput lainnya yang menghasilkan warna hijau ketika digosokkan ke dinding. Waktu itu perkerjaan itu dilakukan dengan sangat rutin, karena ternyata sangat lama sekali waktu yang dibutuhkan untuk menggosok-gosokkan bunga atau rumput agar warna yang diharapkan dapat muncul. Meskipun memakan waktu yang lama untuk mengerjakannya, saya melakukannya dengan semangat karena saya sendiri yang menemukan ‘teknik menggambar’ itu. Hampir setiap sore saya selalu menyempatkan menambah gambar susunan batu bata merah tak beraturan di dinding belakang rumah itu secara perlahan-lahan. Pada waktu itu, rumput itu, ilalang itu dengan bunga merahnya, pematang kolam tempat memetik bunga dan rumput, tembok belakang rumah, pola gambar yang ingin dibentuk, tangan yang pegal-pegal karena terlalu banyak menggosok, semua itu menjadi everyday dan sangat domestik. Meskipun sekarang hal itu masih teringat dalam memori dan menjadi suatu pengalaman istimewa, dia bukan lagi everyday saya sekarang.

Lantas apa yang sekarang saya anggap sebagai everyday adalah hal-hal yang dulu sangat asing bagi saya. Komputer adalah bagian tak terpisahkan dari keseharian saya sekarang. Tiada hari tanpa komputer, padahal dulu saya jarang sekali menemukan komputer apalagi menyentuh dan mengoperasikannya. Sekarang, tanpa adanya komputer saya tidak bisa menjalani everyday saya dan dia menjadi alat yang sangat bermanfaat. Tanpa sadar, sistem di sekitar saya dan keadaan yang ada menjadikan saya bergantung kepada komputer dan tanpa komputer, sistem itu akan mengeluarkan saya dari dirinya. Dalam hal ini, modernity jelas berperan dalam mengubah everyday seseorang. Karena komputer dikomersialisasi dan disebarkan secara massal sebagai bagian dari modernity, banyak orang yang kemudian memasukkan komputer sebagai bagian dari everyday-nya. Dari sini saya menilai bahwa sesungguhnya modernity bukan menutup everydayness, melainkan mentransformasikannya menjadi bentuk lainnya yang disesuaikan dengan pengaruh yang dibawa modernity.


Gambar 1 Komputer sekarang telah menjadi everyday banyak orang.
Bahkan dalam waktu satu tahun pun everyday bisa berubah. Ketika sebelum kuliah, baju saya selalu dicuci oleh ibu dan saya jarang sekali mencuci baju sendiri. Namun setelah masuk kuliah dan tinggal terpisah dari orang tua, saya harus mengatur segala sesuatunya oleh saya sendiri. Sehingga baju yang menumpuk karena belum sempat dicuci atau dilipat menjadi pemandangan yang begitu familiar.


Gambar 2 Baju yang berserakan dan kamar yang berantakan adalah everyday yang muncul setelah saya kuliah.
Demikian juga dengan keadaan kamar yang berantakan. Kertas yang bertebaran, stereofoam yang berserakan, serta gunting dan cutter bergeletakan di lantai menjadi pemandangan yang rutin terjadi ketika tuntutan ‘sistem kuliah’ mengharuskan saya untuk membuat maket.

Jelaslah bahwa domesticity berubah sesuai dengan konteks yang ada. Konteks itulah yang mempengaruhi hal apa yang bisa menjadi everydayness seseorang. Konteks ini dapat berupa salah satu atau perpaduan dari beberapa pertimbangan, yaitu; siapa subjek pelaku yang memaknai everydayness dan domesticity, kapan pemaknaan terhadap everydayness itu terjadi, dan dimana pemaknaan terhadap domesticity dan everydayness itu terjadi.

Yang perlu ditekankan di sini adalah bahwa konsep domesticity dan everydayness di era modern perlu diredefinisi, mengingat everyday akan berubah sesuai dengan konteks,. Perubahan pasti akan selalu ada, yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Dan kita perlu mengembalikan pemahaman kita bahwa everyday identik dengan perubahan.

Dalam konteks yang berbeda, everyday yang terjadi bisa jadi sangat jauh berbeda dan bertentangan. Karena itu, paradigma everyday perlu dibalikkan ke definisi yang lebih mengena kepada karakteristik everyday itu sendiri, yaitu kedekatannya dengan kehidupan seseorang. Modernity dapat menjadi sebuah icon yang bertentangan everydayness pada suatu konteks, namun pada konteks yang lain modernity dapat menjadi bagian tak terpisahkan dari everydayness itu. Everyday seorang bintang Hollywood berbeda dengan seorang Aborigin di padang pasir Australia. Tidak peduli seberapa jauh perbedaan everyday sang bintang dengan sang Aborigin, keduanya tetap everyday dengan domesticity dan everydayness-nya. Tidak peduli seberapa jauhnya everyday si Aborigin dengan nilai-nilai modernity atau sedekat apa everyday si bintang Hollywood dengan modernity, dia tetap menjadi everyday bagi masing-masing.

Demikianlah, jika everyday ingin tetap eksis sebagai sebuah teori, maka definisi everyday tidak bisa dipertentangkan dengan modernity, karena bisa saja modernity itu adalah everyday. Sebaliknya, konsep everyday harus konsisten terhadap karakteristik mendasar everydayness dan domesticity yang diusungnya, bukan kepada content dan konteks parsial dalam suatu masa dan di suatu tempat tertentu.

Daftar Pustaka

Lefebvre, H. (1997). The Everyday and Everydayness. Dalam Harris, S. dan Berke, D. (Ed.), Architecture of the Everyday (hal. 32-37). New York: Princeton Architectural Press.